Beberapa waktu lalu, seorang dosen sejarah di sebuah universitas menulis sebuah artikel berjudul “Gejala Menormalisasi Penjajahan Belanda, Normalkah?” Tulisan tersebut merupakan kecemasan terhadap generasi muda yang salah kaprah menilai kebenaran sejarah kolonialisme di Indonesia. Di tulisan itu, sang dosen menjelaskan kasus di media sosial terkait viralnya sebuah konten sejarah yang membahas Pembangunan Jalan Raya Pos oleh Herman Willem Daendels pada awal-awal abad 19 di Hindia Belanda (Indonesia).
Narasi dari konten tersebut menyebut bahwa para pekerja yang bekerja kepada Daendels dibayar sehingga muncul beragam pertanyaan di kolom komentar yang menanyakan “Yakin, Belanda menjajah Indonesia? Yakin ada tanam paksa dan kerja paksa? Bukannya para pekerja malah digaji, tapi uangnya dikorupsi oleh bupati lokal?” Pertanyaan-pertanyaan ini bagi dosen tersebut seolah membawa pada pemahaman bahwa generasi muda saat ini cenderung menilai penjajahan Belanda di masa lalu bukanlah suatu hal yang jahat.
Ruang Digital yang Membatasi
Tulisan ini tidak akan membahas perdebatan dari pertanyaan-pertanyaan di atas, tapi hendak mengelaborasi mengapa hal tersebut bisa berlangsung. Fenomena ini adalah potret nyata dari masalah literasi di ruang digital. Kekhawatiran besar dari konsumsi atas konten-konten digital adalah ketika generasi muda lebih sering terjebak dalam narasi tunggal yang disajikan secara instan.
Yang lebih mengkhawatirkan, apabila narasi-narasi yang disampaikan di konten-konten tersebut seringkali berhenti pada kesimpulan final yang seolah-olah absolut, tanpa memberi ruang bagi penonton untuk melakukan diskusi sehat dan eksplorasi lebih jauh.
Di era media sosial, di mana informasi berhamburan dalam bentuk video pendek, infografik, atau utas singkat, muncul kecenderungan baru: generasi muda mengonsumsi informasi secara cepat namun dangkal.
Sementara, tradisi membaca teks panjang seperti buku atau artikel ilmiah, jurnal, essay, dan lainnya semakin memudar. Kegiatan literasi semacam ini di era sekarang menjadi tantangan tersendiri karena memerlukan daya tahan dan kesabaran. Tanpa proses ini, kemampuan untuk mengkritisi, membandingkan, dan menganalisis informasi pun melemah.
Jika kita telisik lebih dalam, media sosial memang dirancang untuk memuaskan dorongan instan manusia dalam mencari informasi atau hiburan. Algoritma media sosial hanya menampilkan apa yang kita sukai dan konsumsi secara rutin, sehingga mempersempit cakrawala berpikir kita pada sudut pandang yang seragam atau bias.
Eli Pariser (2011) dalam bukunya The Filter Bubble: What the Internet Is Hiding from You menyatakan bahwa filter bubble dapat menyebabkan “isolasi intelektual” bagi pengguna internet. Ketika informasi dikemas menjadi konten yang singkat, sensasional, dan kadang berbau provokatif, ia dapat dengan cepat mempengaruhi opini publik, terutama mereka yang tidak memiliki kebiasaan membaca lebih dalam.
Keprihatinan Literasi dan Bagaimana Membaca Sejarah Seharusnya
Masalah lanjutannya tentu saja tidak berhenti pada bagaimana kehidupan di media sosial itu berlangsung. Sudah sering menjadi bahan diskusi di mana-mana bahwa budaya membaca buku masyarakat Indonesia itu minim. Begitu menurut UNESCO. Kalau budaya membaca buku saja masih kurang, tentu daya tahan membaca juga belum bisa diperoleh. Lebih-lebih mengimpikan kemampuan generasi yang berpikir kritis
Keprihatinan terhadap kondisi tersebut nyatanya semakin diperparah dengan kebiasaan konsumsi konten digital yang membuat daya tahan baca generasi muda semakin menurun. Membaca satu paragraf pun terkadang terasa membosankan bagi mereka yang terbiasa mendapatkan informasi melalui konten video satu menit atau cuitan 280 karakter yang isinya lebih mengedepankan bombastisitas demi mendapat banyak interaksi dan viral, bukan membuka ruang diskusi.
Dalam konteks keilmuan sejarah, rendahnya literasi dan kecenderungan konsumsi informasi di dunia digital ini cukup mengkhawatirkan. Informasi-informasi kesejarahan yang muncul di konten-konten pendek perlu dipahami dengan hati-hati.
Sejarah adalah bidang ilmu yang selalu terbuka terhadap diskusi, tetapi diskusi itu seharusnya dilandasi oleh pemahaman komprehensif dari berbagai sumber dan perspektif. Sayangnya, hal tersebut sangat sulit terjadi kalau tidak dibarengi dengan kemampuan daya baca yang baik. Daya baca terhadap teks-teks panjang seperti buku, artikel, jurnal, essay, dan lain sebagainya.
Menyinggung soal kecemasan dosen terhadap generasi muda yang cenderung menilai penjajahan Belanda di masa lalu bukanlah suatu hal yang jahat sebagaimana yang dibahas di awal tulisan ini. Maka, satu hal yang perlu dipahami bahwa ketika membaca sebuah karya historiografi sejarah, akan sangat kecil kemungkinan untuk cukup memahami kompleksitas kolonialisme, apalagi hanya mengandalkan konten media sosial yang sifatnya sepotong-potong.
Historiografi Indonesia sejauh ini telah mencatat bahwa praktik kerja paksa dan tanam paksa memang terjadi dan menjadi bagian dari sistem kolonialisme yang eksploitatif. Memang benar, dalam beberapa kasus ada upah yang diberikan, tetapi narasi besarnya tidak sesederhana itu. Tidak lantas pemberian upah tersebut bisa disimpulkan dengan mudah bahwa tidak ada penjajahan. Kolonialisme bukan hanya soal upah, tetapi soal relasi kuasa, penindasan, dan eksploitasi yang sistemik.
Karena urgensi tersebutlah, maka penting bagi generasi muda untuk mengembangkan keterampilan literasi yang tidak hanya sekadar bisa membaca, tetapi mampu menganalisis, mengevaluasi, dan membangun pemahaman yang lebih kritis. Ankersmit (1987) dalam bukunya yang berjudul Refleksi tentang Sejarah berpendapat bahwa penulisan sejarah tidak dapat terlepas dari perspektif subjektif penulis dan bahwa setiap narasi sejarah adalah interpretasi dari fakta-fakta yang ada. Artinya, membaca sejarah tidak cukup dengan hanya membaca satu karya sejarah, tapi juga mau mengeksplore karya sejarah lainnya. Tujuannya agar tidak terjebak pada satu pandangan, sehingga tidak berusaha memahami pandangan lainnya.
Refleksi Bersama
Buku-buku, jurnal ilmiah, dan kajian-kajian yang mendalam tetap menjadi kunci untuk mengasah daya pikir ini. Tanpa literasi yang kuat, generasi muda akan lebih mudah terombang-ambing oleh arus informasi yang serba cepat dan dangkal.
Pada akhirnya, fenomena kekhawatiran dosen sejarah tadi adalah alarm bagi kita semua. Ini bukan sekadar soal salah paham terhadap Daendels atau sejarah kolonial, tetapi cerminan dari krisis literasi yang lebih luas di masyarakat kita. Jika kita terus membiarkan generasi muda bergantung pada narasi instan tanpa ketahanan membaca, maka kita sedang membangun masyarakat yang mudah percaya namun miskin kritis.
Sejarah akan selalu mengundang pertanyaan dan diskusi, dan itu adalah hal yang sehat. Namun, jangan sampai kita menutup pintu pada proses berpikir kritis hanya karena kita berhenti membaca. Maka, di tengah derasnya scroll yang tak berujung di media sosial, mari kita kembali ke buku-buku, tempat di mana pertanyaan-pertanyaan besar justru dirawat agar kita tidak terjebak pada jawaban-jawaban instan yang terlalu cepat.
Izul Adib
Guru Sejarah SMA Cendana Pekanbaru
Penulis Buku SEJARAH PERANG DUNIA I&II: Pengaruh Global dan Dampaknya Terhadap Kemerdekaan Indonesia (2024)
Aktif berkegiatan di komunitas Pekanbaru Book Party (PBP)