Pendahuluan
Seorang pakar kesusasteraan Eropa yang bernama Peter Du Berg pernah mengakui bahwa kesusasteraan Eropa adalah hasil yang diantarkan oleh orang-orang Islam ke Eropa. Beliau menuturkan sebagaimana yang ditulis oleh Oemar Amin Hoesin (Kultur Islam, 1975) : “Cerpen-cerpen Boccasio Fransco Petracht, seorang penyair humanis Itali, mengambil bahan cerita-cerita orang Islam. Ahli dan para sastra Eropa sebenarnya hanya memasak ramuan-ramuan Islam.”
Pertemuan sastra Islam dengan sastra Eropa/Barat merupakan terusan galian, dan kesusasteraan Islam mengalir deras ke Eropa. Aliran-aliran itu telah dapat mengairi kembali tanah dan padang tandus Eropa yang tadinya merupakan lahan yang mandul. Sastra Yunani yang hanya mengandalkan ilmu dan intelektual dan keluar dengan tokoh dan bentuk kreatifnya tidak dapat memasuki lapisan rakyat Eropa, oleh karena kekurangan api serta gelombang yang dapat menyapu pantai pikiran rakyat.
Berbeda dengan kesusasteraan Islam, ia dibentuk oleh rakyat jelata. la disusun dari bahan-bahan cerita rakyat, digubah dengan nyanyian populer, kemudian diminyaki dengan rasa ketuhanan yang agung penuh dengan kata-kata mengandung hikmat sebagai yang dapat dibaca dalam Al-Qur’an.
Seni dari kaum Muslim itu pada dasarnya memiliki sikap yang luas. Kaum Muslim, baik yang berkebangsaan Arab maupun yang bukan Arab, telah mewarisi tradisi artistik kebudayaan Timur Tengah zaman lampau. Mereka membangun bentuk-bentuk seni yang kaya yang sesuai dengan perspektif kesadaran nilai Islami, dan secara perlahan tapi pasti mengembangkan gaya mereka serta menambah sumbangan yang asli di lapangan kesenian. Agama Islam tidaklah menggariskan bentuk-bentuk seni tertentu, tetapi sekedar memberi pancerminan lapangan ekspresi. Misalnya Islam tidak mengizinkan jenis puisi tertentu yang sifatnya tidak Islami
Akibatnya, banyak syair Arab masa pra-Islam mendapat kritikan. Puisi sebagai bentuk kesenian tidaklah ditinggalkan oleh kaum Muslim; pada waktu para penyair mengubah isi puisi-puisinya sesuai dengan citrarasa Islam dan mengungkapkan cita-cita Islam lewat syair. Para penyair itu kembali memperoleh tempatnya semula dalam masyarakat Islam pada waktu itu. Pada zaman sebelum Islam kebanyakan penyair itu adalah panglima-panglima perang, para emir, dan pahlawan dalam peperangan. Isinya mendidik semangat, memuji pihak sendiri, memuliakan raja atau pembesar negeri, dan menjadi juru bicara politik penyampaian gagasan keagamaan kelompok-kelompok suku Arab.
Setelah Islam datang, kebangsaan dan kesukuan itu ditumpulkannya, tidak dilenyapkan tetapi telah bertukar dengan memujikan Islam dan perjuangannya, menaikkan semangat para sahabat membela agama, menambah kekuatan para pejuang Islam menahan penderitaan untuk mencapai kemenangan. Nabi Muhammad SAW pernah memberikan sehelai kain kepada seorang penyair yang mengucapkan dua bait yangisinyamemujikanIslam dan perjuangan Nabi. Kainitukemudianharidibeliparakhalifahsecaraberganti-ganti dengan harga yang sangat tinggi. Nabi SAW sendiri mempunyai beberapa seorang penyair terkenal, ada penyair dalam medan perang seperti Hasan bin Tsabit, Ka’ab bin Zuheir, Shafyan binti Abdul Mutalib.
Al Ghazali sebagaimana ditulis Richard Ettinghausan dalam judul “Al Ghazali tentang Keindahan” menunjukkan persepektif estetika Islam. Al Ghazali menyatakan, “pencerapan keindahan adalah kenikmatan dalam dirinya dan dicintai karena keindahannya serta bukan oleh hal-hal lain di luarnya” (1980 : 24). Dari tulisan Al Ghazali, tampaklah bahwa ia memberi penghargaan terhadap kesenian Islam sebagaimana kata beliau, “Karya indah dari seorang penulis, syair yang sublim dari seorang penyair, lukisan yang indah dari seorang pelukis atau bangunan yang indah karya seorang arsitek, menampakkan keindahan-keindahan manusia ini.” (1980:9). la juga mengaitkan keindahan dengan Tuhan dan mendasarkan pendapatnya atas hadis Nabi SAW, “Tuhan itu indah, dan Ia menyukai keindahan“. Namun dalam lanjutan tulisan Al-Ghazali, beliau memberi aba-aba bahwa menjadi penyair itu bukanlah perkara mudah. Tidak mudah menyalakan api di tengah-tengah angin rebut dan badai.
Demikianlah ibarat dari kesulitan yang dihadapi orang-orang beriman termasuk para penyair yang hidup di abad modern ini untuk menyalakan atau paling tidak mempertahankan semangat dan emosi keagamaan, di tengah tantangan zaman yang menyerang dari berbagai arah.
Tantangan itu dapat muncul dari kecenderungan yang kuat terhadap pola hidup konsumtif dan materialistis, sehingga membuat mereka lalai tanpa mengetahui akar penyebabnya. Akibatnya timbul perasaan gelisah terus menerus tidak adanya perasaan aman dan tenteram dalam hati mereka dan tumbuh perasaan terasing terhadap din, lingkungan, dan Tuhan.
Keadaan itu di gambarkan Al-Ghazali dengan cukup indah, “Seperti seekor unta milik seorang penziarah, begitulah, tubuh itu menyerupai hewan yang dikendarai hati. Sang penziarah berkewajiban memberi makan dan minuman pada sang unta supaya ia dapat mencapai ujung perjalanan dengan aman. Tetapi perhatian yang diberikan oleh sang penziarah terhadap untanya hendaklah dalam ukuran yang sewajarnya, sesuai dengan kebutuhan. Apabila ia terlalu sibuk mengurus untanya sepanjang hari dan sepanjang malam, dan menghabiskan sebagian besar waktunya untuk memberi makan binatang kenderaannya, maka ia tak dapat mencapai maksud tujuannya semula, sehingga terpisah dari khafilahnya dan kehilangan seluruh harta miliknya. Akibatnya keruntuhanlah yang terjadi, jika manusia menghabiskan seluruh hari-harinya untuk menuruti kehendak badannya, dan menghabiskan modal hidupnya. Maka ia tidak dapat mencapai istana kebahagiaan,melainkan mengembara dalam belantara kehancuran” (1980:22).
Kitab Al-Qur’an sendiri telah mengadakan suatu surat yang bernama Syu’ara (penyair sebagaimana firman Tuhan: “Dan Penyair itu diikuti oleh orang-orang yang bingung (223), bukankah engkau lihat mereka itu diikuti oleh orang-orang yang ngawur (224) dan bahwa mereka memasuki setiap jurang dan lembah (225), dan mereka mengatakan apa yang sama sekali tidak diperbuatnya (226) terkecuali penyair yang beriman dan melakukan amal-amal saleh, dan menyebut nama Allah, dan menuntut bela kemenangan setelah mereka dizalimi, orang-orang durjana akan mengetahui ke tempat mana mereka kembali (227)”. Tidak mengherankan mengapa kedudukan syair dalam Islam diakui dan menjadi hak sekalian orang yang beriman, melakukan amal saleh dan menuntut pembelaan serta memperjuangkan kebenaran agama Islam. Nabi SAW sendiri pemah mengatakan. “Wa inna minasy syiri lahikmatan”, artinya : “bahwasanya di antara syair-syair itu ada yang mengandung hikmat“. Pengertian kata hikmat itu luas sekali. Segala ilmu filsafat, politik, ekonomi dan juga teknologi termasuk di dalamnya.
Penutup
Melakukan amal saleh adalah tema utama dalam Al Quran yag seharusnya juga dipedomani sebagai tema utama bagi seniman Islam.Ketika anak Adam wafat semua miliknya di dunia ia tinggalkan. Termasuk orang-orang yang dikasihi.Setelah itu, berkah dan kekuatan amal saleh para penyair yang akan membawanya ke hadirat Allah. Dengan kata lain, amal saleh kitalah yang paling dilihat di mata Allah dan yang akan membawakan ’buah’ atau hasil yang abadi. (QS 16:30).
Medan, Medio November 2024