To Thi Anh, seorang cendikiawan Vietnam pernah menulis tentang tradisi humanistik yang selalu dikembangkan para sastrawan dalam karyanya. Kaum humanis, seperti kata To Thi, “Melihat manusia sebagai pusat segala sesuatu yang menandakan kemampuan manusia yang kreatif, rasional, dan menarik. Hidup yang baik menurut kaum humanis adalah hidup yang mengembangkan daya rasa manusia, kemampuan intelektual dan estetiknya. ada yang manusiawi sifatnya baik, meskipun perlu dibudayakan dan kembangkan”.
Berbicara tentang sastra mancanegara adalah berbicara tentang sastra dalam wilayah sejagat universal yang berlandaskan humanisme sebagaimana dikumandangkan “generasi gelanggang” dengan para pelopornya Chairil Anwar dan Asrul Sani. Wilayah mancanegara menolak perbedaan Timur dan Barat. Seperti kata Gardner Murphy, “Timur adalah Timur, Barat adalah Barat, tetapi sesungguhnya keduanya cepat sekali datang bertemu”.
Di masa lalu, orang terlalu kaku membandingkan Timur dan Barat hingga jatuh pada polarisasi yang dangkal. Di masa sekarang, siapa dapat membantah bahwa orang Jepang bersifat Pasif Orang Cina Tradisionalis atau pemuda Asia bersifat Spiritual? Kita hidup dalam suatu masa yang penuh kekacauan ideologi dan reformasi. Asia berubah cepat begitu juga Eropa danAmerika. Buktinya, gelombang globalisme telah memperpendek jarak waklu dan wilayah bangsa di berbagai negara di dunia ini.
Pikirkan Sejenak
Sebuah antologi puisi “Dan Fikirkan Sejenak” And Think for a Moment (Malaysia, 1990) diturunkan di bawah ini tentang betapa suara penyair manca negara tetap bertahan dalam tradisi humanis. Suara penyair sejati tetaplah untuk mewujudkan keadilan, perdamaian dan membina peradaban.
Antologi puisi “Dan Fikirkan Sejenak” terdiri atas, 64 buah puisi karya 38 penyair yang mewakili 26 negara. Paspor sang dipegang penyair adalah paspor yang melewati batas negara dan kebangsaan. Seperti kata S.Jaafar Husin (editor huku ini), “bahwa puisi diucapkan di mana saja untuk disatukan amanatnya tanpa hiasan bahasa, geografi maupun ideologi”.
Beberapa penyair yang tampil dalam kumpulan ini tercatat nama Sebastian Barker (Inggris), Thomas Shapcott (Australia), Fei Bai (China), Anne Szumigalski (Kanada). Kemudian para penyair Arab seperti Mehmet Atilla Maras (Turki), Mohamed Ibrahim (Mesir), Yahya Abu Risha (Yordania), tak ketinggalan penyair dari Asia Tenggara seperii Sutardji Calzoum Bachri (Indonesia), Latiel Mohidin (Malaysia), Prayom Song-thong (Thailand), dan Iain-lain.
Penyair Sebastian Barker menulis dalam puisi Thank God Poets Can’t Spell harus kukatakan/sengaja penyair menyalahkan ejaan/untuk dinikmati oleh para sarjana/yaitu orang yang paling cerdas/ supaya manusia kaya dengan kemungkinan yang lezat sekali. Penyair Thomas Shapcolt menulis, Aku keluar dengan perahu kecil/di dada laut/ dengan pukat untuk tangkapan kecil/ dengan seluruh tcnagaku/menangkap ikan untuk hidup/kunyanyikan puisi/di tangga rumahku yang condong/dengan mata pena (The Crippled Poet ).
Penyair China Fei Bai menulis dalam Puisi Mitos: Kehabisan tenaga hijau gandum /Menguning dari batang hingga ke daunnya/Orang pun berkata ” lihatlah pemandangan itu!/”Maut yang keemasan”. Penyair wanita dari Kanada, Anne Szumigalski merekamkan pengalaman hidupnya dalam puisi The Crenes (burung jenjang) : “Bagaimana bunyi dalam lubuh bisa keluar ke udara. melewati telinga/walaupun segala lubang ditutup erat Kita pastikan mata tertutup, telinga disumbat, mulut dan lubang yang lain dirapatkan. Kecuali yang tak tertutup ialah hidung yang terus menghisap dan mengeluarkan gelembung kecil udara”.
Pernah kita dengar cerila tentang tangisan bayi di rahim wanita. Wanita itu bangun dan mencari anaknya, tapi tak menemui, akhirnya ia sadari anak itn masih dalam kandungannya,menyepak dan menangis dari sana. Penyair Mehmet Atilla (Turki) menghidangkan suatu renungan hakikat hidup dan mati manusia. Dengarkan madah sang penyair:
Akankah kejatuhan berakhir, sehari lagi
Sepanjang usiamu terlipat dalam air
Hayatmu dan nafasmu
Akan lenyap menuju penghidupan baru
Bila matamu mulai hilang pandangan
Bila tanganmu terketar, mungkin
Kan berasa malu dengan sapuannya melukis dunia
Bakal kekal terpahat begitu lama disana
(And Think for A Moment)
Penyair Mohamed Ibrahim (Mesir) mendendangkan “Sebuah Lagu Cinta (A Love Song):
Terimalah aku, terimalah aku kedadamu
cairkan kesuraman hatiku
Dengan senyum daramu;
Aku sedang lari meninggalkan kehangatan
Duma zalim ini ke duniamu
Lebarkan keduhan matamu
Melindungi ketandusan hidup
Dan senyumlah
Aku pembawa duka
Melewati sempadan masa
Penyair Yahya Abu Risha (Yordania) menulis dalam Reticen Love:
Jangan Pandangi aku dengan mata dinginmu, kaulah huah hatiku
Kaulah siang hari yang mulia dan indah,yang menolak kepahitan
Malam yang penuh dendam
Kucari keindahanmu biar malam luka sengsara
Cahaya lari dari wajahmu seperti sihir yang tenggelam
Yang memanggil anak manusia, mencipta manusia
Untuk menghabiskan piala kesepian dan kesedihan
Penyair Sutardji Calzoum Bachri menulis puisi “Sup“. Beberapa bait bercerita kepada pernbaca:
aku sedang makan sup hitam dari darahku
dan mengisapnya sampai perutku besar
darahku penuh anjing-anjing hitam
melolong mengigit jam
jantungkumemompakankucing-kucinghijau
melingkari pinggang hutan
darahku berteriak
berdentam-dentam
dalam kamus-kamus tak tercetak
dan tak diterbitkan
Penyair Malaysia Latif Mohidin menulis dalam sajak “Hingga Hujan Hitam Datang“:
mereka cipta jentera mainan
mereka teroka setiap inci bumi
mereka gali yang selama ini dilindungi
mereku dedahkan setiap rahasia angkasa
hingga hujan hitam datang
menabur seribu bentuk bencana
silih berganti
dari unggun sisa peradaban itu
terdampar hangus kerlng
antara bingkai blngkai sepanjang pantai
Penyair Thailand Prayom Songthong menulis dalam sajak “Rindu” (missing):
merindu rumah hampir menangis
Terkejutlah aku, sambil berjalan
Rumah lenyap terbakar
Siapakah membersihkan abu dari mataku?
hari-hari lain masa kecilku
Kulekap pipiku ke rumput
mendengar ciap punai di sawah
Menciumi angin sepenuh bau bunga rimba
Demikianlah beberapa sajak penyair dunia telah diturunkan dalam tulisan ini dan sekali lagi dalam situasi abad baru abad ke-21, masyarakat yang sibuk mengurus persoalan hidupnya, barangkali suara puisi dari relung kesunyian masih terdengar dan mengetuk pintu hati kita yang sering terkunci. ***
*Penulis dosen dan sastrawan tinggal di Medan