Sastra Lokal di Tengah Era Global: Catatan Shafwan Hadi Umry

Ketika penyair Chairil Anwar (Si anak Medan) mengucapkan puisinya “Aku ini binatang jalang, dari kumpulannya yang terbuang“, ada terasa lirik yang paradoks dan mengharukan. Di satu sisi ia menegaskan ‘kebinatangjalangannya‘, di sisi lain ia merasa ‘terbuang‘ dari kumpulannya.

Dalam buku “Rumah Tersembunyi Chairil Anwar (Mahmud. 2015), uraian ini belum banyak disentuh. Konsep rasa terbuang mungkin dilihat sebagai hubungan ruang. Namun, bagi pengarang dan intelektual tanpa berpindah tempat la tetap merasa dirinya seperti orang asing di negeri sendiri. Kata-kata ini disampaikan Meenaskshi Mukherjee (Bennet, 1991) pengarang India yang merantau ke Amerika.

Menurut Mukherjee, keadaan terbuang diakibatkan sebagai pengarang lokal, ia mencoba menempatkan diri dalam sastra metropolitan. Kadangkala mereka mengarang dengan bahasa asing dan bukan bahasa ibunya.

Jika rasa terbuang dianggap sebagai unsur dinamik yang menggerakkan individu yang berubah mengikuti masa, tempat, dan keadaan, maka muncullah pernyataan sastra yang berbeda. Pengucapan puisi Chairil yang meledak-ledak seperti ‘mampus kau dikoyak-koyak sepi‘, ‘jangan tantang lagi aku’ atau ‘dalam cermin aku enggan berbagi‘ mendedahkan pernyataan individu yang menekankan keakuan bukan keakuran.

Hal ini berbeda dengan T. Amir Hamzah Si Anak Langkat Musafir Lata. Meskipun ia meninggalkan kampung halaman karena pendidikan dan pengembangan intelektual, lambang kemelayuan dan kelokalan itu tak pernah pupus di hatinya.

Tuan ayuhai, mega berarak/yang meliputi dewangga raya/berhentilah Tuan di atas teratak/anak Langkat musafir lata“. Metafora ‘awan‘ sebagai perubahan yang tetap terjadi dicoba dirayu Amir untuk singgah di teratak-sebuah beranda sebuah dunia kampung dalam warna lokal yang kental.

Berbeda dengan Chairil, karena bakat, dan penguasaan metafora dan pandangan Barat dapat menjadi korban oleh karena bakatnya. Bakat yang cenderung memusnahkan pola naratif konvensional untuk menemukan khazanah bahasa yang baru dalam rasa terbuang mereka.

Sekali lagi kita akan menghadapi begitu banyak persoalan bangsa termasuk identitas berbangsa dan bernegara. Persoalan identitas budaya masa depan melibatkan banyak pihak. Apakah kita benar-benar menuju suatu kebudayaan universal? Kebudayaan yang dikuasai regim mesin, komputer algoritma dan AI yang sok tahu. Apakah ini berarti suatu penyamarataan dari semua keunikan dan penghapusan menyeluruh dari suatu kebudayaan lokal? Apakah kita bakal terbuang sebagaimana teriakan Chairil Anwar, “aku ini binatang jalang dari kumpulannya yang terbuang?

Masalah identitas budaya merupakan persoalan penting bagi pendidik yang sibuk memikirkan penolakan tradisi oleh generasi muda yang berusaha mencari nilai-nilai baru. Namun, Jepang sebagai suatu kasus identitas kultural mampu menilai tradisinya, untuk menemukan lagi masa lampau bangsanya agar mereka sendiri dan juga dunia dapat menghormati keunikan mereka, supaya mereka bisa merasa sama dengan orang-orang Barat.

Buku “Nilai Budaya Timur dan Barat” (Anh, 1984) meski sekian tahun lalu ditulis oleh To Thi Anh-sang wanita Vietrtam berkeyakinan bahwa syarat mutlak bagi suatu dunia yang adil dan makmur terletak dalam perjuangan memajukan dan meningkatkan hubungan antarpribadi dan komunikasi antarbangsa.

Kupasannya meningkatkan pergaulan antara Barat (Eropa Barat, AS, Kanada) dengan Timur (India, China, Korea, Jepang yang sejak berabad dipengaruhi Budhisme dan Konfusianisme melawan mazhab pemikiran Albert Einsten di Barat).

To Thi Anh sepertinya lupa bahwa ada poros strategis yang berperan dalam situasi global dewasa ini dan juga masa lampau, yakni tamadun Islam sebagai agama “rahmatalil ‘alamin” yang pernah berjaya meramu Eropa Timur dan mewariskan khazanah perdamaian dalam konteks bernegara dan berbangsa.

Hamzah Fansuri sebagai seorang Pujangga Melayu yang berasal dari Barus dan penyair sufi terbesar di kepulauan Nu santam, adalah suatu kebenaran yang dibuktikan fakta-fakta sejarah. Hamzah Farsuri adalah penyair sufi yang tidak ada bandingannya di Nusantara, tidak saja di zamannya, bahkan sampai sekarang, ia adalah Jalaluddin Rumi-nya kepulauan Nusantara.

Penguasaan bahasa yang begitu banyak, membuat ia begitu mudah untuk memahami dan menghayati berbagai pemikiran tentang tasawuf dan kesastraan. Pengembaraannya ke berbagai negara di Asia dan Afrika dan daerah-daerah di Nusantara ini telah membuat Hamzah Fansuri mempunyai cakrawala yang begitu luas.

Pada umumnya sajak-sajak cinta Hamzah mencerminkan kehidupan sehari-hari orang-orang Melayu secara jauh lebih terperinci dibanding dengan syair-syair anggurnya. Pada rambut kekasih disunting bunga, malai-malai bergantung dilehernya, kain berbagi-bagi warna dipakainya, dan rumahnya berpatam birai, yaitu berhias dengan serambi disekelilingnya.

Potret kekasih Hamzah selalu dilukis dengan sangat umum. (Braginsky, 1993). Dia tidak menyebut-nyebut tentang raut wajahnya (seperti tentang rambutnya yang ikal, pipi, mata, bibir, bulu roma di atas bibir. tahi lalat) sebagaimana halnya yang memenuhi sajak-sajak tasawuf Parsi.

Satu lagi citra besar kegemaran penyair Parsi ialah taman dengan mawar, dan burung bul-bul dengan bunga narsis, tulip dan violet yang tidak ditemukan pada syair-syair Hamzah.

Tidak bisa diragukan pada akhir abad 16 orang Melayu sudah berpantun. Hamzah mencoba dari pantun sebuah citra dan motif percumbuan pada zaman lampau sudah mendapat bentuk bukan saja prosa tetapi juga puisi. Di bawah ini diturunkan beberapa syair dalam nuansa mabuk berahi.

Buah para hanyut ke lubuk
Anak undan terlanggar batang
Hati saya serasa mabok
Menengok bulan dipagar bintang

Bawang merah menggulai lemak
Bawang putih memasak rendang
Jalan lecah menempuh semak
Sebab kasih maka kudatang

Demikian beberapa renungan intelektual tentang seni tradisi dan modern di tengah era digital global.

*Penulis Ketua Satupena Sumatra Utara

 

Comments (0)
Add Comment