Metafora Fauna dalam Puisi Rudi Rendra
Catatan Shafwan Hadi Umry
Puisi memilih jalannya sendiri .Sebuah jalan bersimpang dua dan penyair memilih jalan sunyi, jalan-jalan yang belum ditempuh orang namun jalan itu membedakannya dengan jalan yang lazim. Kata-kata ini saya kutip dari perkataan Robert Fross
Dengan kata lain puisi mencari jalan yang tak lazim dalam dunia rekaan dan ia bergulat dengan bahasa pilihan.
Bahasa pilihan itu berhubungan dengan rasa
bahasa, atau “sense of language” Seperti kata penyairRumi, “Jika sebutir pasir menyimpang dari jalan biasa ia akan berumah di lauatan dan diperam seekor kerang dan pada akhirnya menjelma sebuah mutiara”,
Rudi Rendra dengan kesadaran penuh mengibaratkan butir-butir kata itu seperti ‘kata yang direka’ kata yang sudah dipoles dengan muatan simbol atau pun metafora.
Syahdan ,puisi dapat tumbuh di manapun ia berada.Seperti pohon ubi tak memilih tempat di mana ia akan bertunas.. Manusia pada pandangan penyair ini dapat dibedakan setelah melalui proses rekayasa , proses rekayasa oleh Tuhan Maha Pencipta. Hujan pun turun tak memilih di mana ia akan jatuh
Mari disimak puisi berikut ini
Kita adalah perbedaan yang direka
hujan yang tak memilih titik luruh
Pada bait selanjutnya penyair menuliskan kata hatinya dengan larik-larik puitik yang cukup indah :
Aku kalam sendawa padamu
Seperti langit berbicara pada pohon
Tentang angin yang tak pernah menua
tentang rasa sakit yang menjelma manis rasa.
Secara mengejutkan penyair mengibaratkan dirinya seperti ‘benalu’ yang menumpang untuk menyambung kehidupan dari sebuah batang pohon durian yang menyimpan daging kearifan manusia.
Permainan simbol durian inimengajak pembaca untuk memahami arti dunia flora -dunia pohon durian.Sang benalu yang hidup bersama sang pohon, begitu akrab tanpa saling menghancurkan. Sang benalu ibarat manusia yang menumpang di alam dunia inidan seharusnya mesti tahu diri karena ia hanya penumpang yang mengambil sang pohon untuk menyampaikan pesannya tentang sang buah durian:
Ia ibarat daging yang dibungkus duri, atau seperti perempuan jelita yang dibalutt dengan jilbab indah yang berfungsi layaknya selimut yang menunutupi sang isi. Sang durian yang wangi dan menebarkan pesona dan rebutan hewan maupun sang insan./manusia.
Biarkan kita tetap di sini
Dalam rumpang bebal benalu
kala duri menyapa daging
Pada puisi selanjutnya Rudi menulis dengan nada protes tentang penggusuran hutan yang kaya dengan khasiat untuk obat manusia dalam ekosistem hutan yang digilas oleh bulldozer atas nama komoditas niaga ,Penyairmenyampaikanpesanlantang:
kau datang sebagai perambah
yang lupa bahwa setiap akar
adalah kembang awan
pemeluk bumi, lantas kau meminta waktu
agar ranum daging dalam duri?”
Puisi ini menyimpan suatu pesan untuk perambah hutan atas nama pembangunan yang berkelanjutan ,tetapi menimbulkan akibat fatal dalam merusak hutan larangan. Banyak koodifikasi hukum adat tanah ulayat yang dahulu dijaga kelestariannya dengan undang-undang adat raja kini dilanggar dan dilanda atas nama kebijakan yang tak bijak. Penyair mengajukan protes dengan cukup tajam.
“untuk siapa jalan ini kau buka?”
Untuk perjalanan tanpa ingatan
Untuk langkah yang menghapus jejak
Untuk alat berat yang mencabik-cabik sejarah
Hal ini dipertegas lagi oleh penyair ini tentang nama-nama pohon sebagai simbol kehidupan yang bakal lapuk dalam ingatan yang mudah terlupa bersama janji-janji yang dikebiri dalam pergantian kekuasaan.
Sementara angin terus berhembus
Membisikkan nama pohon itu kepada lapuk yang sabar merayap
Bersama janji yang terpaksa ia ingat dalam lupa
Dialah lidah yang tak lagi tahu bagaimana mengecap musim
Pada puisi “Manirasa” Rudi berpesan tentang arti hidup dalam ungkapan yang yang bernuansa edukatif.
Tampaknya hidup memang begitu?
Selalu ada rasa yang harus dikorbankan,
Selalu ada duri yang harus dilalui
Untuk mencicipi sedikit kebahagiaan.
Saya tidak terlalu jauh untuk mengelaborasi sepilihan puisi Rudi Rendra ini.
Pembaca dipersilakan untuk membacanya dalam suasana bersendiri dan kemudian berdiskusi dengan“rasa bahasa puisi” sebagai jalan meningkatkan apresiasi kita atas sejumlah puisi Rudi Rendra.
Terimakasih.
Medan, 24 Mei 2025