Sastra Perempuan di Sumatra Utara (1919-1941): Catatan Shafwan Hadi Umry

Pada tahun sekitar “1918 dan 1919 di Sumatra Utara” telah terbit sejumlah puisi gerakan perempuan bersastra yang di muat di sejumlah surat kabar yang terbit di Medan dan sekitarnya. Pidia Amelia (2013) telah menyusun sebuah antologi puisi berisi karya-karya penulis perempuan yang berasal dari tumpukan koran-koran lama itu. Ternyata fakta di atas membenarkan bahwa, di Medan telah terbit beberapa koran. Ada Koran Soera Ibu, Pelita Andalas, Pewarta Deli, Pedoman Masyarakat, Tjermin Kan, Asahana, Bintang Kan, Moetiara, Ichtiar, dan banyak lagi.

Apabila ditelisik, ternyata isi dan bentuk puisi atau syair ini sama sekali baru Sungguh tidak biasa dalam sebuah syair diterakan nama seorang penggubah bahkan menuliskan nama dalam isi karangannya itu dengan begitu percaya diri. Biasanya dalam karya syair lama, nama pengarang disembunyikan bahkan dengan gaya merendah-rendah.(Mahmud, 2013). Misalnya dalam Syair Burung Pungguk di bawah ini.

Dengarkan tuan mula rencana
Disuratkan oleh dagang yang hina
Karangan janggal banyak tak kena
Daripada faham belum sempurna

Dari segi bentuk pula puisi ini menunjukkan kebaruan dan kepiawaian pengarangnya. Dia dengan berani memasukkan kosakata asing atau Belanda. Kata “Koran” dari bahasa Belanda ia hingga kini masih dikenal. Begitu juga kata “proef’ dalam istilah percetakan dan penerbitan masih disebut. Begitu juga kata “mevr” atau “mevrouw” masih ada atau dipakai dalam “kalangan atas”. Oepik Amin, pengarang syair ini, juga bisa “mengicuh” pembaca syair tradisional dari satu kebiasaan yang telah klise kepada yang baru. Hal ini membuktikan Medan sebagai pusat kekuatan media bagian Indonesia barat.

Fenomena ini sungguh luar biasa dan tak terduga bahwa sejarah sastra Indonesia di Sumatra Utara lebih awal ditulis dibandingkan dari daerah lain di Indonesia. Namun dalam pengumpulan puisi-puisi wanita tersebut sebagaimana yang pernah dilakukan

Pidia Amalia yang dibimbing dosennya Dr.Phil.IchwanAzhari(2013) menghadapi berbagai kendala. Misalnya sulitnya mencari koran-koran lama, jumlah edisi koran yang tidak lengkap, kondisi koran yang siulit untuk dibaca, serta ejaan penulisan pada waktu itu yang agak sulit untuk dimengerti. Misalnya koran Perempuan bergerak yang ada hanya edisi (15 Mei 1919).

Antologi puisi berjudul “Mustika Kiasan” (Amalia,2009) diambil dari sepenggalan bait dalam puisi yang diterbitkan oleh Pelita Andalas Edisi 29 Agustus 1929 yang begitu mengesankan. Sepenggalah bait puisi tersebut adalah :

ldaman lama, baru didapat
Mustika kiasan, memperlihatkan bukti
Kaum perempuan, mula sepakat
Memancarkan cahya, kian kemari

Hal yang menarik perhatian dan generasi saya (Amalia,2013) saat membaca puisi-puisi lama ini adalah bentuk, isi, idiom, ungkapan yang rasanya berbeda dengan yang ada sekarang. Beberapa kata dalam beberapa puisi menggunakan bahasa Belanda dan istilah Melayu lama, yang tidak bisa dipahami tanpa menggunakan kamus.

Untuk itu dalam penyusunan catatan kaki pada kata-kata yang tidak dimengerti ini merujuk pada Kamus Belanda — Indonesia terbitan KITLV Jakarta (2005). Kemudian dalam menyusun puisi-puisi ini agar mudah dipahami untuk pembaca masa kini disesuaikan dengan EYD. Tetapi untuk nama orang dan beberapa kata yang terikat Pidia Amelia tetap mempertahankan ejaan lama tersebut.

Dalam menyusun antologi puisi ini penyusunnya tidak mendasarkan pada standar mutu puisi-puisi tersebut, seperi yang dilakukan oleh HB. Jassin, Ajip Rosidi, Korrie Layun Rampan, dan Pamusuk Eneste.

Pidia Amelia sama sekali tidak melakukan seleksi atas puisi-puisi yang dikumpulkan ini. Baginya yang penting adalah mengumpulkan dan menerbitkan ulang sepenggal sejarah sastra yang pernah ada di Sumatera Utara yang selama ini terlupakan.***

Penulis dosen tinggal di Medan

 

Comments (0)
Add Comment