Semangat Nasionalisme Tokoh Melayu dalam Sastra Koran: Catatan Shafwan Hadi Umry

Selama ini sejarah sastra dengan keliru ditulis kelahirannya berdasar karya sastra yang dimulai dari terbitan buku berupa roman atau kumpulan puisi yang dilakukan oleh Balai Pustaka, sebuah lembaga terbitan besar dan monopoli milik Belanda. Karya sastra di luar Balai Pustaka atau yang tidak dalam bentuk buku seakan tidak boleh masuk sejarah. Sastra koran dilarang dicatat dalam sejarah sastra. Sebuah pendapat yang mengganggu tingkat kecerdasan kita dalam memahami sastra dan sejarahnya. Demikian nukilan tuisan Ichwan Azhari tentang sastra koran (Jagad sastra Sumatra Utara, Pustaka Diksi, 2022)

Pembahasan tentang sejarah sastra Medan mengutip pendapat sejarawan Prof. Ichwan Azhari, berdasar sastra koran (karya sastra yang terbit di surat kabar di Medan) telah muncul dalam 5 tahun belakangan ini.

Upaya ini dipelopori oleh Pidia Amelia yang mengumpulkan dan menerbitkan kumpulan sajak Mustika Kiasan (Mei 2013) , yang berisi puisi perempuan penyair Medan dan terbit di koran Medan antara tahun 1919-1941.Kumpulan puisi ini diseminarkan kembali serta dihimpun dalam buku Jagad Sastra Sumatra Utara (Hadi, 2022) mendapat pengantar Damiri Mahmud yang mengaku terkejut dengan sejumlah temuan dalam buku puisi ini dan mengeluarkan statement sejarah sastra Indonesia harus ditulis ulang.

Kritikus Sastra Indonesia Damiri Mahmud menyebut temuan data sejarah sastra Pidia Amelia dalam buku ini memperlihatkan bahwa kota Medan memiliki kontribusi sangat penting dalam sejarah sastra perempuan di Indonesia. Buku ini pernah dibedah di Program Studi Bahasa Indonesia Pascasarjana UMN Al-Wasliyah pada tanggal 23 November 2013 dengan pembahas antara lain Damiri Mahmud dan Shafwan Hadi Umry.

Buku inilah yang kemudian menginspirasi Sartika Sari untuk meneliti dan menulis tesis S-2 tentang karya penyair perempuan Indonesia yang ada di Medan pada awal abad 20. Tesis Sartika Sari kemudian ditulis ulang dilengkapi dengan format baru dan diterbitkan dalam bentuk buku dengan judul Seroean Kemadjoean (2018). Buku Sartika ini kemudian diluncurkan di Taman Budaya Medan pada 10 November 2018.

Baik buku Pidia Amelia maupun Sartika Sari merupakan dua tonggak penting sejarah sastra (perempuan) Medan yang mampu merevisi sejarah sastra Indonesia. Basisnya adalah sastra koran atau karya sastra yang terbit di koran-koran Medan sejak lebih satu abad yang lalu.

Dalam pengantar buku jagad Sejarah sastra Sumatra Utara (2022) IProf Ichan Azhari menambahkan dua penyair Medan yang menulis karya sastra koran. Pertama penyair menggunakan nama samaran “Mineer van Hemel” yang dimuat dalam Koran Benih Merdeka pada 25 Mei 1918 dengan judul “Zelbestuur Pasisir Timoer Poelau Pertja“. Berikut adalah penggalan bait 1- 4 syair tersebut:

ZELBESTUUR PASSIR TIMOER POELAU PERTJA

Zaman kemadjoean njatalah pasti
Endaklah bangoen sekalian goesti
Lamalah tidoer seperti mati
Faedahnja tiada orang mengerti

Bangoenlah toean wadjah goemilang
Endah doenia terang tjemerlang
Sediakan hoekoeman dengan oendang-oendang
Terpelihara raajat, Radja terbilang

Utan dan rimba toean berikan
Uang Landschap toean pindjamkan
Raajat beroetang temponja ditetapkan
Perentahkan raajat memboeka perosahan

Apabila demikian toean merentah
Selamatlah raajat digoda lintah
ltoelah baharoe sempoma ibadah
Sama moefakat dengan karena Allah
(Totziens: Mineer van Hemel)

Puisi yang kedua berjudul “Terkenang Nasib” yang dimuat dalam Koran Benih Merdeka ( 30 Mei 1918) yang ditulis dengan nama samaran “Dwerghet“. Berikut adalah penggalan bait 1-4 syair tersebut:

TERKENANG NASIB

Ja Allah Rabana Toehan,
Nabi Mohammad Rosul pilihan
Rahmat sepaat djangan betahan
Hindia terlepas dari rintihan.

Ja Allah Toehan Jang Baka
Nabi Mohamad Rosul Pedoeka,
Rahmat sepaat lekaslah boeka
Hindia vrij dapat merdeka

Ja Allah Toehan Jang Esa
Nabi Mohamad Rosul berbangsa
Rahmat sapaat senantiasa
Kaoem Moeslim senang sentosa

Ja Allah Rosul alamin
Nabi Mohammad Rosul Saidal Amin
Rahmat sepaat sedjoek dan dingin
Tanah Hindia Merdeka Ingin
(DWERGHET)

Kedua syair tersebut termuat dalam rubik “Boeal-Boeal” yang ditulis dengan nama samaran. Penulis aslinya menyembunyikan diri, dan ini merupakan hal lazim dalam penerbitan media masa itu. Tapi dipastikan dua tokoh Melayu yang menerbitkan koran ini dipastikan ikut merancang penerbitan dua puisi ini atau jangan-jangan mereka berdualah yang menulisnya.

Keduanya bernama Tengku Radja Sabaraoeddin dan Orangkaja (O.K) Ozir yang merupakan bangsawan Melayu yang menyimpang dan terkesan melawan arus politik saat itu melalui surat kabar Benih Merdeka. Sementara kesultanan Deli sendiri pada saat itu berada di bawah kekuasaan Belanda. SIchwan selaku peneliti belum mendapat banyak informasi tentang dua tokoh Melayu yang melakukan gerakan nasionalisme kemerdekaan dan berani menegur kebijakan penguasa dalam syair.

Kritikus sastra, Damiri Mahmud mengatakan melihat temanya, syair ini merupakan kejutan dalam sejarah sastra Indonesia. Puisi Moehammad Jamin tahun 1920-an pun, kata Damiri Mahmud baru merupakan nyanyian pujian pada Sumatra sebagai tanah airnya. Tapi yang menuntut kemerdekaan, bicara tentang rakyat kecil yang tertindas oleh riba, meminta raja (sultan) melindungi rakyat, dalam sastra Indonesia modern tahun 1916-1918, baru ini diketahuinya.
Puisi dengan semangat perjuangan dan kesadaran yang hampir senada dengan syair pada Koran Benih Merdeka juga ditemukan dalam harian Waspada yang terbit tahun 1948. Pada koran Afesp pada 30 Januari 1948 ditemukan sebuah puisi dari Madoeng Loebis, sastrawan asal Mandailing dengan judul “Bisikan Ruh” .

Dalam puisi itu Madoeng Loebis yang diapresiasi Ichwan Azhari (2018) hadir memberikan sebuah perenungan berdasar pertempuran perang Medan Area yang sedang berkecamuk (1945) di Medan. Pada bait pertamanya digambarkan bagaimana kesepian dan kegelapan yang menjelma dalam suara. Suara yang didengar oleh telinga dan memberi efek yang besar pada pikiran:

“Suara apakah jang gemerisik
Disunji senjap
Suara apakah jang berbisik
Dimalam Gelap”

Selanjutnya suasana kegelapan juga dimunculkan pada baitnya yang kedua:

“Di kala aku berdiri
Di sana di Medan Timur
Diselimuti gelap gulita?”.

Kawasan Medan Timur tampaknya sengaja dipilih untuk menunjukan lokasi yang pernah riuh akan Perang Medan Area dan melahirkan banyak pahlawan yang gugur, bahkan geloranya masih ada pada saat puisi ini ditulis, namun digambarkan dalam suasana yang gelap. Madoeng Loebis kemudian menutup bagian pertama puisinya dengan:

“Itulah bisikan rohani
Pahlawan jang telah gugur
Untuk bunda Djuita”.

Pada bagian ke 2 – 4 puisinya ia mempresentasikan kegelisahan dari kegelapan:

“Suara apakah jang kudengar
Di malam sepi
Suara apakah jang mengekar
Meraba pipi

Di kala diriku terpaku
Di sana di Medan Timur
Diselubungi udara restu?

Itulah bisikan taulanku
Pahlawan jang telah gugur
Mengutuki pahlawan palsu”.

Madoeng Loebis seperti ingin mengatakan bahwa peperangan oleh pahlawan yang mengorbankan segalanya bahkan nyawa demi kepentingan bangsa seperti dikhianati oleh sikap tokoh lainnya yang hadir bagaikan pahlawan “palsu“, namun justru merusak bangsanya sendiri. Pada bagian akhir puisi ini:

“Suara apakah jang berdesir
Di malam kelam
Suara apakah bagai mengalir
Kekuping dalam

Jang datang dari Selatan
Dari Medan Barat, dari Pakaina
Di telingaku mendengung?

Itulah bisikan pahlawan
Jang petjah sebagai ratna
Mengutuki pemimpin lantjung”.

Pada bagian ini Madoeng Loebis mencoba memancing kesadaran kita ketika para pahlawan merintih, menuntut, sampai pada ke kuping dalam, nurani yang disadarkan dari pendengarannya hingga mendengung, menyakitkan. Para pahlawan itu meminta dengan “bisikan” sesuatu hal yang harus dimengerti dengan kesungguhan dan penghayatan yang kemudian “pecah sebagai ratna” (meskipun kata pecah mengandung makna konotasi negatif, tetapi kata ratna berarti keindahan, sehingga memberi makna yang begitu mendalam yang ditujukan untuk “Mengutuki pemimpin lanjung” – palsu –

Puisi ini rasanya masih sangat menyentuh bahkan untuk konteks tokoh-tokoh pemimpin Indonesia saat ini. Nama Madoeng Loebis walaupun telah diabadikan pada nama salah satu jalan di Kota Medan, namun masyarakat Medan tidak kenal pada sosoknya dan karya-karyanya mengisi surat kabar lama di Medan, Begitu pula keberadaan karya sastra beserta penggubahnya yang banyak tersebar pada surat kabar lama Medan yang begitu bernilai bagi sejarah sastra Indonesia.*

Penulis Ketua Satupena Sumatra Utara, tinggal di Medan

Comments (0)
Add Comment