JAKARTA–TIRASTIMES: Menuju puncak perayaan Hari Puisi Indonesia (HPI) digelar Seminar Nasional bertema “Kembali ke Akar, Kembali ke Sumber“. Acara yang digelar Jumat (20/12) di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta.
Seminar ini menampilkan dua pembicara yakni Dr. Bastian, Ketua Program Studi Bahasa Arab FIB Universitas Indonesia, dan Prof. Subhi, Guru Besar Universitas Paramadina, Dr. Bastian mengupas pengaruh sufisme Persia dalam puisi Abdul Hadi WM. Diskusi dipandu oleh moderator Syofyan RH Zaid.
Dr. Bastian juga membahas pengaruh Jalaluddin Rumi dan Syeikh Sana’i dalam karya Abdul Hadi WM, termasuk sajak-sajak bertema sufisme seperti “Kelahiran”. Ia menjelaskan bagaimana Abdul Hadi menunjukkan kedalaman pengetahuan tentang periodisasi sastra Persia, yang terentang dari era Syech Sanai hingga Muhammad Iqbal, seorang filsuf dari Lahore, Pakistan, yang menulis dalam bahasa Persia dan mendalami sufisme. “Abdul Hadi berakar pada tradisi sufisme Persia yang mendalam, memanfaatkan simbol-simbol seperti mawar untuk menggambarkan ekstase ma’rifat dan cinta yang tak perlu diungkapkan,” ujar Dr. Bastian.
Sementara itu, Prof. Subhi membahas “Estetika dan Seni Sakral Abdul Hadi WM.” Menurutnya, Abdul Hadi berhasil memadukan keislaman, ketimuran, dan kebudayaan dalam karya-karyanya. “Kalau Prof. Nurcholis Majid menggabungkan keislaman, keindonesiaan, dan modernitas, Abdul Hadi menonjolkan spiritualitas timur yang lebih dalam,” jelasnya.
Acara ini juga dihadiri oleh puluhan sastrawan dan tokoh sastra dari berbagai daerah, termasuk Rida K. Liamsi dari Kepulauan Riau yang juga founding father HPI, KH. D. Zawawi Imron dari Madura, serta Fakhrunnas MA Jabbar bersama istrinya, Tutin Apriyani dari Tanah Melayu Riau, yang mampir satu malam di Jakarta dalam perjalanan menuju Banda Aceh untuk menghadiri acara ‘Puisi Kopi Gayo‘ yang diprakarsai sastrawan Fikar W. Eda.
Selain hadir pulah sastrawan Ewith Bahar, Kurnia Effendi, Sihar Ramses Simatupang, dan masih banyak lagi.
Usai acara, Fakhrunnas MA Jabbar menyatakan merasa beruntung bisa hadiri acara ini. “Mengenang sastrawan atau tokoh sastra yang hebat pada zamannya perlu terus dijadikan tradisi. Mengingat kontribusi sastrawan dalam memperhalus akal budi dan membangun peradaban umat,” ujarnya. (ns/wid)