Sisi Simbolik dari “Ramadan”

Kedatangannya akan membakar segala kesalahan. Ramadan selalu menyirami kampung kami dengan kesejukan. Nasihat-nasihatnya bernas dan membawa pencerahan (h. 83)

Bulan Ramadan selalu memberikan kerinduan. Kerinduan menikmati segala lipatan pahala dan keberkahan yang tak bertepi lainnya. Ramadan ibarat cahaya yang menyinari rumah kita yang datangnya sebulan sekali. Bagi seorang penulis Ramadan menjadi momen untuk berkarya secara khusus. Getaran dan hikmah serta simbol dalam Ramadan adalah bahan mentah dalam berkarya. Dapat kita lihat ada yang menjadikan Ramadan sebagai gerakan menulis. Menulis apa saja dengan nuansa bertema Ramadan. Salah satunya adalah tulisan berupa kisah (cerita pendek).

Membaca 12 kisah dalam Sekebat Kisah Pendek Ramadan seperti membaca sindiran-sindiran akan ritual puasa Ramadan yang kita jalani. “Ramadan” ditulis dengan terencana oleh sastrawan besar dari Bengkalis, Riau, Musa Ismail yang diterbitkan oleh Salmah Publishing tahun 2022. Mengapa terencana? Mengingat 12 kisah dalam buku ini berisikan cerita-cerita pendek yang telah dimuat di berbagai media massa. Ditulis dan dimuat secara khusus saat bulan suci Ramadan. Lebih uniknya lagi tokoh dalam 12 kisah tersebut bernama Ramadan.

Ramadan sebagai tokoh dalam 12 kisah bila dibaca dengan teliti menjadi tokoh simbol bulan Ramadan. Penulis lihai mempermainkan simbol-simbol bulan suci sebagai bingkai dalam berperilaku.

Simbol Malam

Membaca “Ramadan” selain sebagai kisah, kita akan menemukan simbol-simbol hikmah. Salah satunya hikmah 30 malam-malam Ramadan dengan apik disajikan tanpa menghilangkan estetika dalam kepenulisan cerita pendek. Dari malam pertama sampai malam terakhir Ramadan, dimasukkan dalam alur cerita. Dapat kita lihat dalam kisah “Akhirnya, Semesta pun Menangis!” diuraikan hikmah dari malam ke-25 Ramadan.

malam 25; tiada azab kubur

“Dia memang beruntung karena akan terbebas dari siksa kubur. Selama Ramadan, orang itu tak pernah meninggalkan ibadah pada malam ke-25,” matanya berkaca-kaca lagi.

            Dalam kisah “Di Sepertiga Malam” kita diingatkan untuk merawat malam itu. Malam yang penuh dengan keberkahan. Malam diijabahnya segala doa-doa kebaikan.

Setiap sepertiga malam, dia tak pernah telat, apalagi sampai lengah. Dia sangat sadar bahwa apa yang dilakukannya bukan sekedar suatu tradisi. Pemuda itu paham bahwa Allah tak pernah memungkiri janjinya seperti di sepertiga malam ini.

Simbol Laku

“Ramadan” hadir sebagai simbol segala laku perbuatan kita yang semestinya tidak dilakukan selama Ramadan dan bulan-bulan yang lain. Pemilihan laku manusia yang dipilih penulis menjadi kekuatan karena mampu menjadi bahan untuk pengembangan kisah serta hikmah. Pada kisah “Pertunjukan di Malam Ramadan” laku ghibah disimbolkan melalui gerakan alam bawah sadar Ramadan bak penari yang memoret kehidupan dengan memuntahkan potongan daging saudaranya.

Dalam pada itu, Ramadan menarik bibir, mulut, dan lidahnya. Sangat mengerikan, monyong, manis berduri seperti menyemai tebu di bibir, tapi berduri di hati. Tidak berapa lama kemudian, berhamburan suara berat. Isinya carut marut, fitnah, caci maki, dan hujat menghujat. Mulutnya seperti mengunyah sesuatu.

“Uaaaakhkh,” Ramadan memundahkan sesuatu dari mulutnya. Ternyata, potongan daging saudaranya.

Kisah senada dalam “Perempuan Dahaga” kebiasaan bergunjing (ghibah) tetap dilakukan seolah terlupa sedang dalam bulan suci. Simboliknya ditunjukkan kala ibu-ibu yang bergunjing memuntahkan sesuatu dari mulutnya.

“Kami puasa,” jawab mereka lagi.

“Ada kebusukan. Ayo muntahkan.”

“Kami puasa. Kami dahaga. Da … ha…”

Akhirnya, mereka muntah juga. Nanah, darah, dan bangkai melompat dari tenggorokan mereka.

Simbol Panah Beracun

“Ramadan” menyajikan simbol lain sebagai bacaan dakwah. Dikemas dalam kisah terasa lebih mengena. Lewat simbol panah beracun setan dalam hal ini ruang-ruang bagi setan untuk menghasut salah satunya melalui pandangan mata. Mata nafsu lelaki yang membidik perempuan. Dalam kisah “Panah Beracun Setan” digambarkan bagaimana mata menjadi media bagi setan masuk merusak pertahanan diri.

Matanya bagai penembak jitu yang sudah sangat terlatih. Mangsanya adalah para perempuan (dara atau isteri) yang cantik secara fisik. Di manapun posisinya, Kemantan pasti melepaskan matanya, membiarkannya melompat-lompat, dan menyelinap di sebalik kesenangan dan kepuasan nafsu.

Pengingatan akan pentingnya menjaga pandangan mata dalam “Ramadan” juga dijelaskan sebagai kisah yang memberikan ilmu. Mencantumkan hadis sebagai bagian dalam kisah bukan sekedar tempelan menjadikan kisah-kisah dalam “Ramadan” semakin bergizi.

Membaca “Ramadan” akan mengulik sisi batin kita untuk menjaga laku. Berbagai hikmah bertabur dari satu paragraf ke paragraf berikutnya. Meski ada beberapa typo yang sedikit mengganggu dalam menikmati gizinya “Ramadan” namun tertutupi dengan ending-ending kisah yang selalu twist disuguhkan penulis. Tahniah.

Bambang Kariyawan Ys., Sastrawan.

Comments (0)
Add Comment