Teater adalah Upacara Bersama: Catatan Shafwan Hadi Umry

Teater adalah upacara bersama yang membutuhkan kerjasama yang saling berinteraksi sesamanya. Menurut saya teater yang lengkap itu memiliki dua dimensi pandangan yakni interaksi seorang aktor di atas panggung dengan para penonton. Sistem interaksi itu dapat diciptakan menggunakan teknik komunikasi itu bukan saja kata-kata, kalimat (unsur segmental), tetapi membutuhkan juga unsur suprasegmental (mimik, gerak-gerik, tingkah laku sang pemain di dunia pentas).

Penonton sebagai khalayak yang datang ke arena pertunjukan, menghadiri sebuah pementasan datang dengan berbagai motivasi dengan berbagai interpretasi yang beraneka ragam. Sang penonton memiliki kebebasan untuk melihat sebuah pertunjukan bermula dengan dirinya sendiri, dengan lingkungan keseharian yang dilakukannya. Sebagai contoh, bila seorang politisi menonton sebuah pertunjukan teater maka bisa jadi pertunjukan itu bernada politis. Bila seorang sosiolog menonton sebuah pertunjukan maka kesan yang diterimanya berbau sosiologis, begitu juga seorang guru menonton drama maka yang ditemuinya adalah sebuah drama didaktis yang mengandung nilai-nilai pendidikan. Bahkan apabila seorang penonton datang dengan persiapan apa adanya maka pertunjukan itu tidak ada apa-apanya.

Jadi, posisi penonton sebagai calon penikmat dan penafsir ditentukan sejauh mana ia memperlakukan tontonan itu menurut kacamata pribadinya sebagai posisi personal. Di sini sang sutradara berperan utama untuk memoles, menata dan membloking para aktor untuk menyampaikan tema dan amanat pertunjukannya ke khalayak penonton.
Hal ini berbeda dalam dunia puisi ketika seorang penyair menyampaikan pesan puisinya dari posisi personal. Dari seseorang yang bersendiri menyampaikan pesan puisinya kepada orang yang bersendiri yang mungkin sedang duduk di kamarnya atau sedang menikmati teh dan kopi di sebuah kafe.

Pernyataan ini mirip dengan kemerdekaan seorang penyair yang memiliki kepribadian tunggal untuk menempuh jalannya sendiri. Sebuah jalan yang mungkin tak pernah dilalui orang lain. Sebagaimana kata Robert Frost, ”satu jalan yang bersimpang dua di hutan, dan aku, aku ambil jalan yang sunyi dan itulah yang membedakan segala-galanya”. Seperti nyanyian Frank Sinatra, I do it my way.

Berbeda dengan dunia teater, dunia panggung dan pementasan. Mereka memerlukan penonton , membutuhkan audiens untuk membangun komunikasi, membangun dialog dan kesepakatan, bertatap muka, membangun dialog interaktif. Membangun kebersamaan.Dari mulai sutradara, naskah lakon, pemain, tata rias, tata busana, dekorasi, sampai tukang bisik dan tarik layar. Hal ini membuktikan bukan saja saluran pancaindra para pemain yang diperlukan akan tetapi setting, tata lampu, tata suara, tata musik agar pertunjukan itu menjadi ‘tata tenteram kartaraharja’. Dengan istilah kerennya yakni bagaimana menjinakkan penonton dengan strategi jitu sang sutradara.
Maka ‘hidup atau mati’, sang sutradara memerlukan upacara bersama untuk melakonkan sebuah naskah ke hadapan penonton.

*Penulis dosen dan sastrawan

Disampaikan dalam acara “Dialog Interaktif & Kuliah Umum” penyelenggara Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP UISU Tanggal 12 Februari 2025

 

Comments (0)
Add Comment