Redaktur: Fitriana Setyaningrum
TANJUNGPINANG- TIRASTIMES: Dewan Pers menggelar FGD (Focus Group Discussion) Indeks Kemerdekaan Pers di Provinsi Kepri, Senin (07/08) di Hotel CK Tanjung Pinang. Bekerjasama dengan Sekolah Tinggi Ilmu Sosial Politik (STISIPO) Raja Haji, kegiatan ini menghadirkan sejumlah informan ahli. Mereka diantaranya adalah Den Yealta, Ridarman Bay, Hartam dari Kejaksaan, Rumbadi Dalle, Wakil Dekan Hukum Unrika Batam, serta Sekretaris PWI Kepri, Saibansah Dardani.
“Sebelumnya, yang menjadi informan ahli hanya dari Jakarta, tapi sejak 2 tahun ini, Kepri masuk,” ujar Chelsea dari Komisi Hukum Dewan Pers.
- Film ‘Empat Musim Indonesis’ karya Karmila Andini, Resmi Diajukan untuk Academy Awards ke-99
- Tropi dan Sertifikat Anugerah JMSI untuk UAS Diserahkan: Media Bisa Bentuk Opini Publik
- GPMB Riau Bersama Dipersip Hadirkan Literasi Hijau di Seminar Adiwiyata Festival Ozon 2026
- Kidung Senja: Puisi Iin Oyon
- Dari Khazanah ke Literasi: GPMB Riau Apresiasi Peluncuran Buku Tenun Songket Hj. Evimeiroza
Bersama Chelsia, hadir pula Winarto yang sehari-hari bertugas di Komisi Penelitian Dewan Pers. Sedangkan dari Stisipol Raja Haji hadir Zamzami A Karim sebagai koordinator kegiatan tersebut.
Chelsia mengatakan, berdasar riset dan ranking yang dilakukan oleh lembaga riset jurnalistik Sanfrontie di Perancis dan Freedom House di Amerika, posisi Indonesia pada tahun 2017 ini ditempatkan di urutan 128 dari 190 negara di dunia.
“Inilah beberapa hal yang menjadi alasan, kenapa dewan pers melakukan survey indeks kemerdekaan pers,” ujar Chelsea.
Sangat menyedihkan, posisi Indonesia berada di bawah negara yang baru merdeka, yaitu Timor Leste. Alasan ranking inilah, tambah Chelsea, perlu ada survey kemerdekaan pers di dalam negara kita.