Para warga TIM tahu benar, ada perselisihan serius antara Sutardji Calzoum Bachri dengan Hamsad Rangkuti. Namun saya baru tahu, setelah menurunkan berita omelan SCB terhadap kegiatan sastra yang digelar oleh Dewan Kesenian Jakarta, di mana Hamsad Rangkuti menjadi Ketua Komite Sastra.
DKJ akan menggelar acara dengan spanduk mentereng, yaitu Tadarus Puisi pada bulan Ramadan, yang akan menghadirkan tiga penyair ternama: Rendra, Taufik Ismail, dan Sutardji Calzoum Bachri. Acara berlangsung di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki.
Saya meliput acara ini, dan ternyata ada Iwan Fals bersama istri, ikut duduk lesehan sebagai penonton.
Otomatis dong saya mendekati Iwan Flas, dan minta komentar singkar. Ia bilang, ini acara yang penting, menghadirkan tiga penyair besar!
Namun hingga acara selesai, tiga penyair itu tidak ada yang nongol batang hidungnya. Namun senior saya, tempat saya memohun petunjuk ala Harmoko, yaitu Ahmadun Yosi Herfanda @Ahmadun Yosi Herfanda (Redaktur Koran Republika), hadir membacakan puisi Sembahyang Rumputan, yang merupakan salah satu masterpiece-nya.
Lalu saya pulang, tapi mampir dulu di tenda biru, yang berderet di jalan Cikini, di depan TIM. Ternyata ada SCB sedang kudapan. Otomatis dong saya bertanya, “Kenapa tak hadir?”
“Acara apaan itu, tak ada undangan tuh aku harus baca puisi. Fiktif itu,” dan lain-lain diungkapkan oleh SCB.
Pernyataan SCB itu saya muat dalam rubrik Kronik, termasuk dipandang berita kecil, di antara riuh gemuruh berita politik di awal reformasi itu.
Besoknya, saya dikabari staf redaksi, ada telepon dan mau bicara dengan saya. Saya tanya, dari siapa? Sayang staf itu tak ingat siapa nama penelepon. Eh telepon berdering lagi, dan ingin bicara dengan saya.
Begitu saya terima itu telepon, tanpa hujan angin, tanpa ba bi bu, langsung dicerca. “Kau itu, jangan asal mengutip pernyataan orang. Itu cuman ucapan mulut besar dari orang besar. Dia tak tahu permasalahan di DKJ,” telepon itu dari Hamsad Rangkuti. Saya mendengarkan saja, tidak menyela, dan di akhir telepon, saya meminta Bang Hamsad menulis surat pembaca, atau apalah, untuk klarifikasi. Layangan surat pembaca itu ada, dan dimuatkan.
Selesai sudah perkara.
Hingga akhirnya tersiar kabar, Paus Sastra HB Jassin mangkat, dan akan dikuburkan di TMP Kalibata. Amat jarang sastrawan atau budayawan dianggap pahlawan, sehingga dimakamkan di Kalibata. Tentu saya wajib hadir, dan meliput acaranya.
Sedang berjalan bersama rombongan pelawat, saya mendengar suara panggilan. Saya menengok ke arah suara tersebut, ternyata Bang Hamsad. Maka saya mendekat, dan langsung dicerca. Saya nunduk dan mangut-mangut saja. “Kau belajarlah jadi wartawan yang benar!” kata-kata itu terngiang dalam ingatanku.
Selesai menerima wejangan, terdengar ada suara yang memanggil dari seberang jalan. Ternyata SCB dengan mengenakan topi, tangannya melambai-lambai ke arahku, dan memanggil-manggil!
Aku pun memotong rombongan pelawat untuk sampai ke sebarang jalan. Siap dicaerami lagi. Siap menerima makian!
“Jangan kau dengar omongan si tua bangka itu!” itu suara SCB.
Aku jadi mematung. Ini orang tua, rupayanya serius bertengkar. Duh, ini kan acara penguburan HB Jassin!
Di Universitas Lidah Buaya, SCB itu salah satu dekan yang mengurusi perkara menghujat. Sedang Motinggo Busye itu Rektor yang berujar sastrawan adalah pembohong besar. Tommy F Awuy sebagai junior dari keduanya, meneruskan ucapan Motinggo itu, mempopulerkannya, hingga sampai ke pengupingan Hamsad Rangkuti. Nah, Tommy pun dicerca oleh Bang Hamsad.
Begitulah sisi lain dari kehidupan seniman, yang menegaskan, ia juga punya emosi sebagai manusia. Bagaimana mengelola emosi ini, menjadi salah satu perjuangan berat para seniman. Selain tunduk pada uang, seniman sering menjadi bahan bulian, ledekan, sindir sampir, salah satunya karena tata kelola emosi.