SASTRA memang unik. Seseorang bisa menjadi sastrawan dari berbagai latar belakang profesi. Salah satunya adalah polisi yang beralih menjadi penyair. Di Riau, ada beberapa sastrawan yang pernah berkarier sebagai polisi, seperti Ibrahim Sattah (Alm), Wunuldhe Syaffinal (Alm), Oscar Rayzar, dan beberapa lainnya.
Namun, tak banyak yang berani meninggalkan profesi tetapnya demi menekuni dunia sastra. Salah satu yang mengambil keputusan besar itu adalah Ibrahim Sattah.
Suatu ketika, saya bertanya kepadanya, “Mengapa lebih memilih menjadi penyair daripada tetap menjadi polisi?”
Dengan tawa khasnya, Ibrahim menjawab, “Kalau tetap jadi polisi, abis hari dek hormat saja. Kalau sekarang (jadi penyair), justru akulah yang diberi hormat oleh polisi!”
Ibrahim Sattah dikenal sebagai sosok bertubuh tidak tinggi tapi kekar, berambut ikal, dan berkarakter tegas. Setelah meninggalkan kepolisian, ia sepenuhnya menjalani hidup sebagai penyair, sastrawan, dan teaterawan. Pada era 1970–1980-an, ia mendirikan Bengkel Teater Bhayangkara (BTB), yang kerap tampil di berbagai acara seni.
Meski temperamental, Ibrahim juga humoris. Salah satu peristiwa menarik terjadi saat BTB diundang untuk tampil dalam acara perpisahan sekolah. Awalnya, penampilan teaternya dijadwalkan di akhir acara. Namun, Ibrahim meminta agar dipindahkan ke awal. Akibatnya, seorang peserta yang semula akan tampil menyanyi harus digeser. Tak disangka, orang tua si penyanyi yang merupakan perwira tinggi polisi marah-marah kepada MC acara.
“Siapa yang berani-berani mengubah susunan acara ini?” bentaknya.
Dari kejauhan, Ibrahim mendengar dan langsung menjawab, “Saya!”
Si polisi menatapnya tajam dan bertanya dengan nada tinggi, “Saudara tidak kenal saya?”
Tanpa ragu, Ibrahim menjawab, “Kenal! Saudara …(menyebut nama), bukan?” sambil bergaya seolah siap menyerang. Tak disangka, si polisi justru mundur dan pergi dengan wajah ketakutan, seakan mengingat reputasi Ibrahim saat masih menjadi bawahannya.
Sebagai penyair, Ibrahim dikenal dengan puisi-puisinya yang memiliki pola tipografi sentral (belah dua), mirip dengan gaya puisi Sutardji Calzoum Bachri. Pada awal 1980-an, saat ia sedang menyelesaikan puisi “Hai Ti”, “Dan Dan Dit”, dan lainnya, ia baru saja membeli mesin tik elektrik untuk penerbitnya, CV Bumi Pustaka.
Saat mencoba mesin tik itu, ia menyadari betapa mudahnya menciptakan tipografi sentral. Dengan semangat, ia berseru, “Wahhh… dengan mesin tik listrik, membuat tipografi puisi sangat mudah!”
Tahun 1980-an, Ibrahim mendirikan Yayasan Puisi Nusantara (YPN) yang berkantor di Jl. Pepaya, Pekanbaru. Di dalam strukturnya terdapat Dewan Kreatif yang diisi sastrawan senior dan Program Kreatif yang diketuai oleh penyair M. Husnu Abadi dan saya sebagai sekretaris serta ada beberapa sastrawan muda yang ambil bagian.
Keberadaan kami di yayasan ini membuat pertemuan dengan Ibrahim cukup intens. Suatu malam saya diajak Ibrahim naik sepeda motor menjemput sesuatu di rumahnya di komplek kepolisian Jl. Kartini. Waktu itu, Ibrahim yang bawa motor menaiki pulau jalan tanpa ragu-ragu untuk menghindari memutar.
Tahun 1981, YPN berhasil menyelenggarakan Sidang Sastra Indonesia tahun 1981 yang cukup besar. Puluhan tokoh dan sastrawan terkenal pada masa itu tampil. Diantaranya Putu Wijaya, Renny Djayusman, Umar Yunus, dan masih banyak lagi.
Mengenai kemiripan puisinya dengan Sutardji, dalam majalah Horison No. 9, hlm. 982, disebutkan bahwa “Ibrahim Sattah mengakui bahwa ia banyak diilhami oleh sajak Sutardji Calzoum Bachri.”
Ibrahim menerbitkan beberapa kumpulan puisi, di antaranya:
Hai Ti (1981), diterbitkan oleh Bumi Pustaka, yang berisi delapan puisi, antara lain “Sausauna“, “Kaki“, “Sebab“, “Zamzam“, dan “Hai Ti“.
Kemudian terbit pula Kumpulan puisi Dandandid (1980), berisi 15 puisi.
Beberapa puisinya, seperti “Jakarta“, “Duka“, “Sebab“, dan “1974“, pernah dimuat dalam Surat Kabar Singgalang (Th. XV, No. 2263, 27 April 1983, halaman 5).
Ibrahim Sattah sering mendapat berbagai kritik. Ada yang menganggapnya sebagai penyair dolanan kanak-kanak, karena puisinya seakan-akan terinspirasi dari dunia anak-anak.
Dalam artikel “Manusia Alam Ibrahim Sattah dalam Pentas” yang ditulis oleh Ikranagara di Sinar Harapan, disebutkan bahwa tokoh-tokoh dalam puisinya bukanlah “manusia modern“, melainkan lebih cocok dikategorikan sebagai “manusia alam.“
Di sisi lain, menurut Slamet Sukirnanto dalam artikel “Puisi Warisan Ibrahim Sattah” (Suara Pembaruan, 30 Mei 1998, Tahun ke-21, No. 462), Ibrahim tidak menulis puisi dengan beban sosial atau amanat berat. Puisinya bukanlah “senjata untuk suatu impian tertentu,” tetapi lebih sebagai ajakan untuk menikmati keindahan bahasa, menyelami makna, dan merasakan kebebasan ekspresi.
Sementara itu, dalam artikel “Usman Awang dan Ibrahim Sattah: Dua Wajah dari Satu Dunia” (Pelita, 30 Maret 1988, Tahun ke-14, No. 4149), Umar Yunus menegaskan bahwa Ibrahim telah memisahkan diri dari tradisi puisi lama. Ia membangun “tradisi baru,” di mana kebebasan berekspresi menjadi elemen utama dalam puisinya.
Pada masa produktifnya, Ibrahim pernah diundang untuk membaca puisi di Rotterdam, Belanda, bersama beberapa penyair Indonesia lainnya. Ia juga kerap tampil membacakan puisinya di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, serta di berbagai panggung sastra di Riau.
Dedikasinya terhadap dunia sastra tetap dikenang hingga kini. Keputusan besarnya meninggalkan kepolisian demi puisi menunjukkan betapa besarnya kecintaannya terhadap seni. Bagi Ibrahim Sattah, menjadi penyair bukan sekadar pilihan, melainkan panggilan jiwa.*
Ir. Fakhrunnas MA Jabbar, M.I.Kom, Ph.D (Can) adalah penyair, wartawan dan pensyarah, tinggal di Pekanbaru.