BAGI generasi sastra 1970-1980an pasti akrab dengan nama sastrawan besar Indonesia asal Tanah Melayu Riau yakni BM. Syamsuddin, atau Bujang Mat Syamsuddin. Dulu, di masa jaya sastra koran, karya prosa Bang Syam hampir tiap Minggu atau bulan muncul di halaman koran dan majalah. Gemulainya tutur kata khas Melayu dalam gubahan ceritanya membuat para pembaca terkesima.
Penampilannya sederhana. Rambut agak kusut masai seperti cerminan seniman. Sebatang rokok dengan kepulan asap dalam setiap hembusan napasnya sudah menjadi ciri khas Bang Syam.
Di balik kisah sukses BM Syamsuddin yang diakui dunia sastra Indonesia sebagai cerpenis, novelis, cerita bersambung dan cerita anak, banyak kisah lucu dan menarik dari dirinya.
Dulu di masa produktifnya, Bang Syam sering memenangkan sayembara penulisan yang diadakan oleh koran, tabloid dan majalah seperti Kompas, Majalah Kartini, Sarinah, dll. Hadiahnya lumayan pada masa itu. Saya sebagai sastrawan muda masa itu sudah sangat akrab karena sering bertemu. Biasanya di kios koran Pasar Pusat, Jl. Sudirman (sekarang sudah jadi Mal Plaza Sukaramai). Kami sama-sama mengecek koran atau majalah terbaru, apakah memuat karya kami. Kalau karya kami dimuat, berarti cuan sebagai penghasilan tambahan. Apalagi, Bang Syam punya penghasilan tetap sebagai guru sampai masa pensiunnya.
Suatu kali, saya bertemu Bang Syam di kios koran Lubis, langganan kami. Syam dalam bulan itu, dia baru saja menenangkan sebagai juara pertama sayembara penulisan novel sebuah majalah. Hadiahnya lumayan besar. Kalau dikurs dengan nilai yang sekarang bisa mencapai Rp. 2-3 juta
“Bang Syam, selamat ya atas pemenang sayembara. Bisalah kita ngopi sekarang,” ucap saya akrab.
Bang Syam yang selalu tampil dengan wajah agak memelas, langsung menjawab dengan dialek Melayu Riau Kepulauan yang mendayu-dayu:
“Inilah masalahnya. Awak ada duit tak? Kita bisa ngopi.”
Saya dan sastrawan Husnu Abadi termasuk sering berkunjung di rumah Bang Syam. Biasanya kami lakukan pada malam Ahad yang santai. Rumahnya yang berdekatan dengan pembangkit listrik PLN di kawasan tepi Sungai Siak. Banyak dikelilingi semak dan batang pandan seperti suasana pinggir hutan.
Kalau kami ngobrol ya harus dengan berteriak-teriak karena sulit didengar. (Bersambung) *
Ir. Fakhrunnas MA Jabbar, M.I.Kom, Ph.D (Cand) adalah budayawan Melayu, penyair, wartawan dan pensyarah, tinggal di Pekanbaru.