SUATU KALI, waktu kami ber kunjung, saya mengonfirmasi cerita budayawan Hasan Junus (Alm) bahwa Bang Syam pernah menjadi anak-anak dan kawan tetangganya yang masih kecil untuk kelengkapan foto tulisan Suku Laut.
“Betul cerita Bang Hasan itu?”, tanyaku mendesak.
BM Syam tertawa lebar.
“Iya, waktu itu aku menulis tentang Suku Laut (suku asli masyarakat Riau terbiasa hidup di laut- FMJ) dan dikirim ke sebuah majalah berita. Redaksinya minta dilengkapi foto Suku Laut itu.
Dah, aku panggil anak-anak dan kawan-jawannya yang masih kecil. Kusuruh buka baju dengan rambut kusut dan penampilan kumal. Lalu aku foto dan dikirim ke majalah tadi. Ya, dimuat dengan keterangan foto: Anak-anak Suku Laut. Haha .” BM Syam betul-betul tertawa lebar
BM Syam lahir di Sedanau, Natuna, Kepulauan Riau, pada 10 Mei 1935. Ia tumbuh dalam lingkungan Melayu pesisir yang kental dengan tradisi lisan, hikayat, dan pertunjukan rakyat. Warisan budaya itu kelak menjadi fondasi kuat bagi karya-karya sastra yang ditulisnya sepanjang hayat.
Sosoknya dikenal luas sebagai sastrawan, budayawan, sekaligus guru yang memiliki dedikasi tinggi terhadap dunia literasi dan seni pertunjukan Melayu.
Perjalanan intelektualnya dimulai dari Sekolah Guru Bantu (SGB), lalu melanjutkan ke Sekolah Guru Atas (SGA) di Tanjungpinang. Semangatnya dalam bidang bahasa dan sastra membawanya menjadi guru, wartawan, dan dosen. Ia mengajar di berbagai sekolah dan sempat menjadi dosen luar biasa di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Islam Riau, Pekanbaru.
Sebagai sastrawan, BM. Syamsuddin dikenal produktif menulis puisi, cerpen, drama, dan esai kebudayaan. Karyanya dimuat di banyak media nasional seperti Kompas, Suara Karya, dan Suara Pembaruan. Ia memiliki gaya khas yang kaya kosakata, berakar pada tradisi lisan Melayu, namun juga peka terhadap problem sosial dan lingkungan modern. Dalam cerpen-cerpennya, ia sering menciptakan kata-kata baru yang memukau pembaca, seperti “menderis” (tiupan angin laut) dan “bercelamak” (air tercemar), menjadikannya dijuluki “kamus berjalan” oleh rekan-rekannya.
Selain karya sastra, BM. Syamsuddin juga memberi perhatian besar terhadap pelestarian seni teater tradisional Melayu seperti Mendu dan Mak Yong. Ia mendokumentasikan dan menganalisis nilai-nilai luhur dalam pertunjukan tersebut melalui buku Seni Lakon Mendu dan Seni Teater Tradisional Mak Yong. Ini menjadikannya tidak hanya sebagai seniman, tetapi juga intelektual budaya yang turut merawat akar-akar tradisi Melayu di tengah arus modernisasi.
BM. Syamsuddin wafat pada 20 Februari 1997. Namun jejaknya tetap hidup dalam sastra Melayu modern, baik di Riau maupun di tingkat nasional. Ia dikenang sebagai pelopor yang membawa napas baru dalam dunia kepenulisan Melayu, memperkaya khazanah sastra Indonesia dengan warna-warna dari pesisir timur Sumatra yang puitik, tajam, dan penuh daya hidup.
BM Syam banyak menerbitkan buku berupa novel dan cerita anak-anak yang diterbitkan oleh Grasindo dan Gramedia. Di antara bukunya yang terbit adalah novel Jiri San, Tak Elok Menangis, Buku Mendu, Teater Tradisional dari Natuna dll. *
Ir. Fakhrunnas MA Jabbar, M.I.Kom, Ph.D (Cand) adalah budayawan Melayu, penyair, wartawan dan pensyarah, tinggal di Pekanbaru.