Pengantar. Akhirnya pengumuman siapa penerima Anugerah Sastrawan Negara ke 16 terjawab sudah. Menteri Pendidikan YB Fadhlina Sidek yang merangkap jabatan sebagai Ketua Panel Anugerah Sastra ke 16 mengumumkan bahwa penerimanya adalah Allahyarham Mana Sikana, anugerah ini merupakan pengakuan tertinggi negara terhadap tokoh sastrawan yang menulis dalam bahasa Melayu. Penghargaan ini diberikan atas jasa dan sumbangan besar almahhum dalam memperkaya khazanah sastra negara, khususnya dalam bidang kritikan sastera, teori kesusasteraan dan penulisan kreatif yang berpengaruh. Setahun yang lalu, atau tepatnya pada 14 April 2025, putusan panel sebetulnya telah dibuat. Namun baru setahun kemudian, putusan itu dapat diumumkan dan penerimaan anugerah ini dilaksanakan pada tanggal 28 April 2026 atau waktu lainnya sesuai dengan kesediaan dari kerajaan.
Mana Sikana. Anugerah Sastrawan Negara tidak dilakukan setiap tahun, namun diadakan sangat tergantung pada perkembangan dunia sastra berdasarkan pengamatan para pengamat serta kebijakan dari kerajaan. Penerima anugerah SN ke 13, 14 dan ke 15 adalah Dr. Zurinah Hasan (Tahun 2013) dan Prof. Dr. Siti Zainon Ismail (2019) dan Dato Dr. Anwar Ridhwan (Tahun 2022). Dengan diterimanya anugerah SN ke 16 pada Mana Sikana, maka baru ada 2 orang penerima SN yang perempuan. Apa saja keistimewaan penerima anugerah SN ini ? Setiap penerima anugerah SN akan diberikan (1) Warkah penghormatan negara ; (2) Wang tunai sebanyak RM 60.000. ; (3) Penerbitan sebanyak 50.000 naskah buku atau nilai harga buku berjumlah maksimum RM 500.000 untuk dibeli oleh kerajaan/pemerintah dan disebarkan dengan luasnya ke sekolah, perpustakaan, jabatan dan agensi kerajaan.
Mana Sikana atau nama aslinya adalah Abdul Rahman Napiah, dilahirkan 9 Oktober 1945, di Bagan Serai, Perak. Mendapat pendidikan di Kuala Kangsar dan kemudian ke Sekolah Izzudin Shah, Ipoh, mengikuti latihan perguruan di Maktab Perguruan Bahasa, Kuala Lumpur; Universiti Kebangsaan Malaysia sampai mencapai derajat doktor di bidang persuaratan Melayu. Pernah berbakti sebagai guru dan pensyarah di UKM dan Universiti Teknologi Nanyang Singapura.
Sebagai penulis prolifik, Mana Sikana telah menghasilkan lebih dari 100 buah karya pelbagai genre seperti cerpen, novel, drama dan kritik sastra. Cinta Junjungan (2023) meruakan kumpulan cerpen yang memperlihatkan eksperimen naratif serta kekuatan pemikiran falsafah. Dalam genre novel, Mana Sikana menghasilkan novel Ronjang (1984),Klimaks (1995), Kesesatan (1987), dan Syajar (1995), kesemua novel itu dihasilkan secara intelektual, metafiksyen dan meta sejarah. Dengan demikian novel itu terdapat pembaharuan dari segi struktur dan teknik penulisan.
Dalam bidang drama, Maka Sikana telah menulis naskah seperti Tanah Di Hujung Bendang, sebuah karya beraliran realisme, naskah lainnya Di Hujung Taming Sari berbentuk drama meta sejarah , sedangkan naskah Pengadilan merupakan drama komedi yang dihasilkan berdasarkan ide yang absurd.
Seperti yang dikatakan oleh Norhayati Abdur Rahman, seorang pensyarah profesor madya dalam bidang pengajian sastra dan kebudayaan Melayu di Kuala Lumpur di dalam sebuah penjelasannya kepada saya yang menyatakan bahwa Mana Sikana adalah seorang akademisi, Profesor Sastra dari Univeristi Kebangsaan Malaysia, tidak menulis puisi, tetapi menulis drama dan seorang pengkritik sastra. Punya teori sastra sendiri yaitu teori Tekdealaisme. Banyak menulis buku ilmiah.
Seperti dijelaskan sebagai alasan dan latar belakang diberikannya anugerah sastrawan Negara ke 16, Mana Sikana dikenal sebagai pelopor yang membawa pendekatan avant garde dan absurd dalam teater Melayu modern melalui puluhan drama pentas, radio dan televisyen yang ditulisnya. Di bidang kritik dan teori sastra, Mana Sikana menulis banyak buku antara lain Aliran dalam Sastra Melayu (1983), Kritikan Sastra: Pendekatan dan Kaedah (1986), Teori Sastra Tekdealisme (1996), Teori dan Kritikan Sastra Kontemporer (2005). Buku-buku dimaksud menjadi rujukan utama dalam kalangan sarjana dan pelajar serta menyumbangkan kepada perkembangan pemikiran sastra modern di Malaysia.
Dalam konteks pemikiran, Mana Sikana dikenal sebagai tokoh penting yang memperkenalkan pendekatan baru dalam kritikan sastra, termasuklah teori teksdealisme, pendekatan intertekstualiti serta gagasan kritikan berdasarkan nilai Islam seperti teori Taabudiyah.
Novel Syajar. Untuk mengetahui sedikit dari karya novel Mana Sikana, berikut ini saya kutipkan beberapa bagian novel dimaksud. Membaca Novel ini memang perlu berpikir serius juga, sebab penulisnya memang terkenal dengan sastra pascamodern dan menggeluti falsafah Islam. Tak macam Taqdir yang gaya bahasanya menggunakan bahasa dakwah secara langsung.
Syajar sdalah nama tokoh lelaki yang hidup dalam 2 dunia. Syajar berarti pokok/pohon, berasal dari bahasa Arab. Dunia zahir dia adalah pensyarah di sebuah universtas ternama, mempunyai isteri yang cantik bernama Zaitun. Dunia batin dia keliru, iman dia goyah, hati kosong walaupun berharta. Syajar makin kaya, naik pangkat, Tapi makin jauh dari Tuhan. Isteri dia Zaitun pula mula alpa, sibuk dengan fesyen dan majelis sosial. Rumah besar, tapi sunyi dari zikir. Suatu malam Syajar bermimpi yang sangat misterius, dia nampak pokok besar tumbang, akar tumbang dimakan anai-anai.
Dalam kehidupan kampus, Syajar berjumpa dengan Maria seorang pelajar program doktor dari Barat. Maria seorang perempuan yang bijak, cantik dan atheis. Dia mencoba menggoda iman Syajar dengan kata-katanya “Kalau Tuhan ada, kenapa dunia penuh kejahatan?” Syajar tergoda secara intelektual dan juga terpengaruh untuk nafsu yang menyimpang. Dia tergoda untuk berbuat kecurangan ketika ada proyek yang diberikan oleh pemerintah/universitas dan godaan untuk berbuat rasuah.
Suatu hari, anak tunggal Syajar meninggal dunia karena kecelakaan lalu lintas. Zaitun menyalahkan Syajar karena lalai dan dari kejadian ini mengakibatkan Syajar menjadi murung. Syajar menyendiri ke kampung halamannya. Di sini Syajar berjumpa dengan Imam Tua di tepi sebuah sungai. Pak Imam tak bagi ceramah tentang Iman, Islam, dan Tauhid. Pak Imam Tua cuma memberi nasehat dengan cara menunjuk sebuah pohon yang kokoh kuat yang berada di tepi sungai.
Senja di tepi sungai. Syajar duduk atas akar-akar pokok yang tua. Angin dari hulu bawa bau tanah lembap. Pak Imam Tua datang, tak beri salam. Dia Cuma duduk sebelah, tongkat di tangan. Lama sunyi. Hanya bunyi riak air. Syajar akhirnya bersuara serak. “Pak Imam…kenapa hari saya kosong? Saya ada semua. Rumah, kereta, nama. Tapi tiap malam saya mimpi pokok tumbang.
Pak Imam Tua tak pandang Syajar. Mata dia pada pokok di depan mereka. Pokok itu besar, tapi separuh daunnya mati, kulitnya dikikis anai-anak.
“Kau nampak pokok itu”. Suara pak Imam perlahan. “50 tahun dia lawan ribut. Tapi sekarang dia tunggu masa rebah. Tau kenapa ?
Syajar geleng.
“Sebab akar dia dah dimakan anai-anai” kata Pak Imam. “ Dari luar nampak tegak. Dalam tanah, dah reput. Manusia sama, Nak. Kau sibuk jaga dahan—nama, pangkat, pujian orang. Tapi akar kau – solat, zikir, takut Tuhan— tak biar anai-anak dunia gigit sikit-sikit.
Syajar duduk. Air matanya jatuh atas akar- kayu.
“Saya dah jauh, Pak Imam. Saya dah kotor”
Pak Imam ketuk tanah dengan tongkat. “ Tanah ni tak pernah tolak bangkai. Dia terima, dia reputkan, dia jadi baja. Tuhan lagi luas rahmat. Dia dari tanah ini. Cuma kau kena cabut anai-anai tu dulu”
Angin kuat tiba-tiba. Dahan mati atas pokok itu patah, jatuh depan kaki Syajar.
Pak Imam bangun. “ Kalau kau takut tumbang, tanak akar baru. Malam ini juga. Sebelum ribu besar sampai.”
Dia jalan, tinggalkan Syajar dengan dahan mati di tangan dan bunyi sungai yang macam zikir.
Syajar taubat. Dia tolak rasuah, putus pula hubungannya dengan Maria yang menggoda itu. Syajar dan Zaitun mulai balik ke pangkal jalan, sholat jemaah, bantu anak yatim. Novel ini ditutup dengan kegiatan Syajar menanam bibit sebuah pohon di depan rumah sambil cakap
“ Aku nak mati macam pokok ini. Akar kuat dalam tanah, dahannya redup untuk orang lain”
Selamat untuk almarhum Mana Sikana atas penganugerahan Sastrawan Negara ke 16. Engkau memang telah berpindah ke alam yang lain, alam baqa. Tapi karya-karyamu yang menggugah dan memperbaharui akan selalu dikaji, diulas, dibandingkan dengan perkembangan selanjutnya di masa depan. Kami peminat sastra yang berada di Indonesia, khususnya di Provinsi Riau, ikut berduka atas kepergianmu yang cukup mengagetkan ini.****
Kota Impian ( Mansur Abdullah)
Husnu Abadi adalah Penasehat Utama Persatuan Penulis Satupena Provinsi Riau, pensyarah, Associated Professor pada Fakultas Hukum Universitas Islam Riau, penerima Anugerah PPBHI Z. Asikin Kusumahatmadja (2014), Anugerah Sastrawan SAGANG (2015), Anugerah Makrifat Mardjani (APHTN , 2022), Anugerah Penghargaan 40 Tahun Berkarya dari Badan Pengembangan Bahasa Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia (2025). Sampai dengan tahun ini telah menerbitkan 5 buah buku puisi, terakhirnya adalah Lautan Rempang (2024).