Tahun-tahun berlari. Meninggalkan kenangan. Sedih dan bahagia
Bukit, lembah, pematang sawah. Jam Gadang, Lembah Anai, Harau
Kota-kota. Bandara. Teh Telur. Sate. Bebek goreng. Juga puisi-puisi
Lalu senyum. Ia simpan baju kaus bau keringat. Dalam rak ingatan
Grafiti. Kelompok sastra. Ada debur di dalamnya. Ada karang sunyi
Ada imaji. Baju kaus bau keringat. Tahun-tahun berlari. Rindu?
Kau telah jauh mengembara. Meninggalkan kenangan. Hitam dan
putih, dan jingga. Sejarah kecil, sejarah besar. Dalam baris-baris
puisi surealis. Semi absurd. Kenapa gigi waktu begitu tajam
menggigit setiap kenangan? Karena pertemuan dan perpisahan
bisa berujung luka.
Ia simpan baju kaus bau keringat. Untuk memelihara imaji Penyair.
yang liar dan sulit ditaklukkan. Ketulusan dan kesetiaan. Kata-kata
serupa runcing karang. Tempat singgah camar dari tualang
Tempat bernaung matahari dan rembulan. Rumah cinta yang utuh
yang jendelanya terbuat dari kristal cahaya dan selalu terbuka
Kata-kata. Grafiti. Tempat berlindung sejarah. Kita selalu ada
di dalamnya dengan debar dada. Sepenuh cahaya!
Jaspinka, 2023
Eddy Pranata PNP— adalah founder of Jaspinka (Jaringan Sastra Pinggir Kali) Cirebah, Banyumas Barat.. Buku kumpulan puisi tunggalnya: Improvisasi Sunyei (1997), Sajak-sajak Perih Berhamburan di Udara (2012), Bila Jasadku Kaumasukkan ke Liang Kubur (2015), Ombak Menjilat Runcing Karang (2016), Abadi dalam Puisi (2017), Jejak Matahari Ombak Cahaya (2019), Tembilang (2021).