Tidak semua laki-laki pecandu kopi, meskipun ada sebuah kedai kopi Si Atak di Perbaungan atau “candu kopi” di sebuah kafe di Jl. Amir Hamzah, Medan. Namun, ada satu hal lagi tentang sikap kita yang penting untuk diketahui, yaitu: senang bising.
Seorang budayawan mengatakan, “Kita bangsa pecandu kebisingan. Mercon, takbiran keliling dengan loudspeaker, jerit knalpot motor, band di restoran, hingga debat buku ‘Gurita’ di TV.” (Goenawan Mohamad, 2011).
Membedah Kebisingan
Pertama, mercon dan bunga api setiap awal tahun baru. Niatnya adalah menyambut tahun baru dengan harapan dan rencana baru. Demikian pula peristiwa takbir di malam hari raya; secara umum niatnya adalah ibadah, melafazkan takbir memuliakan Rasul. Namun, caranya yang dilakukan dari jam 23.00 sampai jam 13.00 justru mengganggu. Niat yang seharusnya “agung” malah berganti dengan hilangnya kekhusyukan akibat tingginya alat ukur desibel.
Kedua, jerit knalpot motor/kereta yang digunakan bukan untuk “mengebut” di jalan raya dalam arena balap resmi, melainkan hanya dibuat untuk dilihat dan didengar. Bising itu dianggap sebagai bentuk eksistensi, sebab jika senyap, mereka merasa tidak ada.
Ketiga, band di kafe atau restoran. Ketika kita membawa keluarga ke kafe untuk mencari kenyamanan dan ketenangan, kita justru “digebuk” drum dan musik melengking. Padahal, kita membayar untuk mendapatkan suasana nyaman, bukan serangan pada telinga.
Keempat, debat buku atau panggung pro-kontra di televisi terkadang jauh dari upaya mencari solusi. Mereka malah berdebat tentang siapa yang paling keras, siapa yang paling jago memotong cakap lawan bicara, dan yang dijual hanyalah teriakannya.
Timbul pertanyaan, mengapa kita menjadi pecandu bising? Jawabannya: karena sunyi itu jujur. Ketika berada dalam kesunyian, kita dipaksa mendengar isi kepala sendiri dan mendengar hati nurani, serta menyadari kesalahan dan kelemahan diri kita sendiri. Oleh sebab itu, kita menggunakan kebisingan agar hati nurani tidak terdengar.
Sebagai contoh, bila negara bising, tidak ada yang sempat memikirkan; bila TV bising, tidak ada yang sempat bertanya; dan bila jalan bising, tidak ada yang sempat merasa.
Manusia sebagai makhluk individu perlu juga mencari ketenangan. Terkadang kita rindu dengan “sunyi” yang produktif, misalnya sehabis subuh di kampung atau di perpustakaan. Di sanalah baru terdengar suara akal dan hati.
Timbul pertanyaan, bagaimana solusi mengatasi kebisingan dalam bermasyarakat dan bernegara ini? Kecanduan bising itu dapat diobati, tetapi obatnya pahit. Kita tidak bisa hanya menunggu pemerintah dan seharusnya mulai dari diri sendiri sebagai pecandu bising.
1. Pertama, puasa bising satu jam sehari. Matikan TV, matikan musik, duduk sendiri dalam diam. Meskipun awalnya resah, lama-kelamaan akan terdengar suara hati.
2. Kedua, melakukan filter konsumsi. Perdebatan di TV yang isinya hanya teriakan dan sorakan dihapus saja. Konten yang hanya memancing emosi sebaiknya di-unfollow. Kita dapat memilih apa yang seharusnya diisikan ke dalam kepala kita.
3. Ketiga, dalam melakukan takbiran di jalan, perlu dikaji ulang bahwa takbiran itu untuk Allah, bukan untuk dilihat tetangga dan warga. Kemudian, hindari knalpot blong dan gantilah dengan bersilaturahmi dengan tetangga di rumah, bukan di jalan.
4. Keempat, perlu kesadaran komunitas di masyarakat yang sadar akan ketenangan dan ketenteraman. Misalnya, menciptakan situasi takbiran yang khusyuk; di jalan membawa obor tanpa perlu memakai 8 toa ditambah DJ. Justru suara yang pelan bisa lebih sampai ke hati.
5. Kelima, membuat zona sunyi berdasarkan kesepakatan Rukun Tetangga (RT), yakni jam 22.00 malam sampai subuh “no knalpot blong” dan “no musik keras“. Kafe dan restoran dalam seminggu mengadakan “no live music” agar pengunjung kafe bisa mengobrol satu sama lain.
6. Keenam, edukasi sekolah perlu untuk mengatasi kebisingan dengan cara mengajarkan dan menerapkan bahwa kenyamanan itu milik semua orang. Di samping itu, buatlah slogan dan papan nama: “Buah dedap buah gasing, makan senyap kerja bising.“
*Penulis adalah pemerhati masalah budaya.