Berkaca pada Batu: Puisi Eddy Pranata PNP

Setiap ia ke puncak bukit pinus Wanasuta. Ia tergugu
Pada batu hitam licin lebar besar teronggok bisu. Batu
yang menyemburkan warna-warni sejarah masa lalu
Jingga. Abu-abu. Titik-titik kecil cahaya. Lalu kemilau

Ia serupa sedang tamasya. Ke tempat-tempat jauh
Stasiun, bandara, pelabuhan. Kebun apel. Stroberi. Lembah
Danau. Telaga Dewi. Puncak Marapi. Mercusuar. Sate Padang
Juga langkah menyusuri jalan setapak ke rumah kayu. Senja
menyeret tubuh kian tajam ke dalam batu. Tak ada puisi
Hanya bongkah rindu pada pohon-pohon kebaikan

Kian dalam ia masuk ke dalam batu. Amat sunyi. Alangkah nyeri
Ia segera keluar. Cahaya melemparkannya. Ke hadapan batu
Ia turun dari puncak bukit. Seribu rasa. Doa bumi dan langit
Titik-titik kecil cahaya menjelma kasih-Mu. Kebahagiaan
Bahwa segala tindak menyimpan bayang-bayang. Segala ucap
menyimpan rindu akar pada daun. Kebersaman. Entah hingga
kapan, bercermin pada batu yang menyemburkan warna-warni
sejarah masa lalu. Di puncak bukit pinus. Ia akan datang lagi…

Jaspinka, 2023

Eddy Pranata PNP— adalah founder of Jaspinka (Jaringan Sastra Pinggir Kali) Cirebah, Banyumas Barat.. Buku kumpulan puisi tunggalnya: Improvisasi Sunyei (1997), Sajak-sajak Perih Berhamburan di Udara (2012), Bila Jasadku Kaumasukkan ke Liang Kubur (2015), Ombak Menjilat Runcing Karang (2016), Abadi dalam Puisi (2017), Jejak Matahari Ombak Cahaya (2019), Tembilang (2021).
sajaksastra
Comments (0)
Add Comment