Idrus Tintin, Bapak Stand-Up Comedy Indonesia yang Tak Semua Orang Tahu (Bagian Ketiga-Habis): Oleh Fakhrunnas MA Jabbar

Fakhrunnas MA Jabbar

Hidup bagi Idrus Tintin ibarat drama yang sarat anekdot. Sebagai seorang teaterawan, ia mahir menampilkan ekspresi yang serius, tetapi dalam sekejap bisa berubah menjadi tawa lepas. Kepribadiannya yang unik membuatnya selalu menarik dalam pergaulan. Ia tak hanya seorang seniman, tetapi juga pendidik yang pernah mengajar seni di SMA Negeri 2 Pekanbaru.

Idrus bukan hanya dikenal sebagai seorang guru seni, tetapi juga seorang yang dekat dengan banyak tokoh penting di Riau, termasuk para pejabat dan budayawan. Salah satu di antaranya adalah Rustam S. Abrus, seorang birokrat yang juga sastrawan. Rustam pernah menjabat sebagai Kepala Bappeda dan Sekretaris Daerah Provinsi Riau. Lebih dari itu, ia adalah Ketua Dewan Kesenian Riau pertama, yang tentunya memiliki kepekaan terhadap dunia seni dan budaya.

Karena kedekatannya dengan Idrus, Rustam pernah mencoba menarik sang seniman untuk bekerja sebagai pegawai di Kantor Gubernur Riau. Barangkali ia berharap Idrus bisa memberikan sentuhan seni dalam lingkungan birokrasi. Namun, karakter seniman yang sulit tunduk pada aturan kerja yang ketat membuatnya tak bertahan lama. Kehidupan sebagai pegawai negeri ternyata bukan jalan yang cocok bagi Idrus. Ia lebih nyaman dalam dunia seni yang memberinya kebebasan berekspresi.

Idrus Tintin

Perang Speaker dengan Tetangga

Sebagai seorang seniman, Idrus Tintin memiliki sensitivitas tinggi terhadap suasana di sekitarnya. Ia menyukai ketenangan, terutama ketika sedang membaca atau menciptakan karya seni. Namun, kehidupan di lingkungan perumahan tak selalu berjalan sesuai keinginannya.

Suatu hari, seorang tetangga baru pindah ke sebelah rumahnya. Keluarga baru itu membawa serta sebuah speaker besar, yang tampaknya menjadi sumber kebanggaan mereka. Setiap hari, suara musik berdentum keras dari rumah tetangga, terutama pada siang hari. Bagi Idrus, ini adalah gangguan yang tak bisa ditoleransi.

Idrus sudah beberapa kali mendatangi tetangga itu untuk meminta agar volume musik dikecilkan. Namun, setiap kali ia mengajukan protes dengan sopan, sang tetangga hanya mengiyakan sebentar, lalu keesokan harinya kembali membunyikan musik dengan volume tinggi.

Hari demi hari berlalu, dan kesabaran Idrus semakin menipis. Ia merasa harus melakukan sesuatu. Kemudian, sebuah ide cerdik muncul di kepalanya. Suatu siang sepulang mengajar, ia mampir ke sekolah dan meminjam sebuah speaker TOA yang biasa digunakan untuk upacara bendera.

Sesampainya di rumah, ia langsung memasang TOA itu di dekat jendela yang menghadap rumah tetangga. Begitu tetangga menyalakan musik dengan volume tinggi, Idrus segera menanggapi. Ia menghubungkan speaker TOA itu ke tape recorder miliknya dan mulai menyetel lagu dengan volume maksimal. Suara yang dihasilkan jauh lebih nyaring dibandingkan suara speaker tetangga.

Perang suara pun terjadi. Idrus dengan penuh semangat terus menyalakan musiknya, tak peduli berapa lama. Tetangga yang awalnya merasa tak mau kalah, lama-lama menyerah juga. Setelah beberapa jam berlalu, suara musik dari rumah sebelah mulai meredup, lalu akhirnya mati sama sekali.

Esok harinya, suasana rumah kembali damai. Rupanya, cara mengatasi gangguan suara bising tidak perlu lewat marah-marah atau perkelahian.

“Rupanya cara mengatasi suara bising itu mudah,” ujar Idrus sambil tertawa. “Kubikin tanding speaker. Baru aman,” tambahnya, menggunakan istilah dalam bahasa Melayu Riau yang berarti “baru dia mengerti.”

Puber Kedua yang Ditunggu-Tunggu

Idrus Tintin dikenal sebagai pribadi yang humoris. Ia sering bercerita dengan gaya yang mengundang gelak tawa. Salah satu kisah yang kerap ia ceritakan adalah pengalamannya tentang ‘puber kedua.’

Menurut banyak orang, puber kedua adalah fase yang dialami oleh laki-laki saat memasuki usia 40 atau 50 tahun. Pada usia ini, konon pria akan kembali merasakan gejolak asmara seperti remaja. Namun, bagi Idrus, fenomena ini awalnya terasa seperti mitos belaka.

“Konon, puber kedua itu datang pada usia 40,” katanya suatu kali dalam sebuah perbincangan. “Menjelang usia tersebut, kutunggu-tunggu puber itu. Eh, biasa aja. Begitu pula menjelang usia 50, kutunggu lagi gejala puber kedua itu. Eh, perasaanku biasa aja. Aku mulai berpikir, jangan-jangan sebagai lelaki, aku ini tidak normal.”

Cerita ini tentu saja membuat banyak orang tertawa. Tetapi Idrus melanjutkan kisahnya dengan lebih serius, meskipun tetap dalam nada bercanda.

“Aku jadi penasaran. Apa benar puber kedua itu ada? Akhirnya, aku coba iseng-iseng menggoda perempuan lain. Sekadar mengetes, apakah benar ada gejalanya,” katanya dengan ekspresi menggoda.

Ternyata, eksperimen kecilnya membawa hasil yang mengejutkan. Beberapa perempuan yang ia dekati mulai menunjukkan ketertarikan. Semakin sering ia menggoda, semakin sering pula ia mendapat respons yang menyenangkan.

“Lahhhh… aku jadi ketagihan!” serunya sambil terkekeh. “Barulah aku percaya, puber kedua itu memang ada.”

Cerita ini selalu membuat pendengar tertawa terbahak-bahak. Idrus memang memiliki keahlian luar biasa dalam mengisahkan pengalaman hidupnya dengan cara yang menghibur. Bahkan, kejadian sehari-hari yang biasa bisa berubah menjadi kisah yang menarik di tangannya.

Seniman yang Tak Terlupakan

Idrus Tintin bukan hanya dikenal sebagai seniman, tetapi juga sebagai sosok yang penuh warna dalam kehidupan sosialnya. Ia adalah seorang seniman sejati yang hidup dengan prinsip kebebasan dan kreativitas.

Meskipun pernah mencoba menjadi pegawai negeri, ia akhirnya menyadari bahwa dunia seni adalah tempat yang paling cocok untuknya. Pengalaman-pengalamannya yang unik, dari perang speaker dengan tetangga hingga uji coba puber kedua, adalah gambaran nyata dari bagaimana ia menjalani hidup: dengan penuh humor, kecerdikan, dan kebebasan.

Hari ini, Idrus Tintin memang telah tiada, tetapi kisah-kisahnya tetap hidup dalam ingatan banyak orang. Ia adalah contoh nyata bagaimana seorang seniman bisa memberikan warna pada kehidupan, bukan hanya melalui karya, tetapi juga melalui kepribadian yang tak terlupakan.*

Ir. Fakhrunnas MA Jabbar, M.I.Kom, Ph.D (Can) adalah penyair, wartawan dan pensyarah, tinggal di Pekanbaru.

Comments (0)
Add Comment