BOGOR
— Puncak
suara gesekan rem dan laju gesit kendaraan makin terdengar
tajam, terlalu lama, mereka jadi lupa cara mendesis −terkadang
mesti mengekang lapar, mesti bergerak melata di antara macet,
udara yang selalu saja dingin.
datanglah setiap mendekati, dan memasuki hari libur.
aku senang berkhayal mereka ini seperti selang-selang besi yang
memanjang dari jakarta. percayalah; sepanjang perjalanannya
apa saja dapat disinggung oleh pinggul waktu yang lapang
: pikiran yang mengunci, mengasingkan kegalauan gedung-gedung
bertingkat yang berkarut, sesuara yang betah mengendapi bubuk-
bubuk baru pepohonan tepi jalan, atau etalase dengan meja, kursi-
kursi kosong berbanjar –siap bercengkerama bersama pengunjung
di suatu tempat peristirahatan yang akan segera dibuka
tak perlu tergesa-gesa, kuhirup perlahan aroma khas dari peralihan
suhu ini, ada perasaan sedemikian segar, yang disempurnakan oleh
selaput-selaput basah −yang berupaya menyambung garis-garis
hujan yang patah− di atas bebatuan sungai, yang tiada pernah ingin kutahu
muaranya. aku tiada bercakap, hanya diam. berkali-kali diam. mencari,
dan memandang lekat puncakmu, sebab bisa jadi segala ini bukanlah
perjalanan dan ingatanku yang pertama,
untuk kelak menetap di jantungmu,
bogor…
Melrimba Garden-Bogor, 2013
Faustina Hanna, lahir di Jakarta, 5 April 1987. Sajak-sajaknya terbit di Republika, Media Indonesia, Jurnal Nasional, Pikiran Rakyat, Minggu Pagi, Banjarmasin Post, Rakyat Sultra, Lombok Post, Bali Post, Tribun Bali, Nusa Bali, Pos Bali, Pos Kupang, Radar Cirebon, Radar Lampung, Radar Mojokerto, borobudurwriters.id (Borobudur Writers & Cultural Festival), magrib.id, berandanegeri.com, beritabaru.co, Cerita Net, PustakaEkspresi.