Bogor | Puisi : Faustina Hanna

BOGOR

 — Puncak

suara gesekan rem dan laju gesit kendaraan makin terdengar

tajam, terlalu lama, mereka jadi lupa cara mendesis −terkadang

mesti mengekang lapar, mesti bergerak melata di antara macet,

udara yang selalu saja dingin.

datanglah setiap mendekati, dan memasuki hari libur.

aku senang berkhayal mereka ini seperti selang-selang besi yang

memanjang dari jakarta. percayalah; sepanjang perjalanannya

apa saja dapat disinggung oleh pinggul waktu yang lapang

: pikiran yang mengunci, mengasingkan kegalauan gedung-gedung

bertingkat yang berkarut, sesuara yang betah mengendapi bubuk-

bubuk baru pepohonan tepi jalan, atau etalase dengan meja, kursi-

kursi kosong berbanjar –siap bercengkerama bersama pengunjung

di suatu tempat peristirahatan yang akan segera dibuka

tak perlu tergesa-gesa, kuhirup perlahan aroma khas dari peralihan

suhu ini, ada perasaan sedemikian segar, yang disempurnakan oleh

selaput-selaput basah −yang berupaya menyambung garis-garis

hujan yang patah− di atas bebatuan sungai, yang tiada pernah ingin kutahu

muaranya. aku tiada bercakap, hanya diam. berkali-kali diam. mencari,

dan memandang lekat puncakmu, sebab bisa jadi segala ini bukanlah

perjalanan dan ingatanku yang pertama,

untuk kelak menetap di jantungmu,

bogor…

Melrimba Garden-Bogor, 2013

Faustina Hanna,  lahir di Jakarta, 5 April 1987. Sajak-sajaknya terbit di Republika, Media Indonesia, Jurnal Nasional, Pikiran Rakyat, Minggu Pagi, Banjarmasin Post, Rakyat Sultra, Lombok Post, Bali Post, Tribun Bali, Nusa Bali, Pos Bali, Pos Kupang, Radar Cirebon, Radar Lampung, Radar Mojokerto, borobudurwriters.id (Borobudur Writers & Cultural Festival), magrib.id, berandanegeri.com, beritabaru.co, Cerita Net, PustakaEkspresi.
Comments (0)
Add Comment