Kita memilih untuk membela(h) diri
Membagi separuh kepada kanan
Separuh lagi kepada kiri
Menutup aib yang lalu
Kita siarkan di toa masjid menjelang subuh
Langit terlalu gelap
Karena rembulan kita tikam
Agar tak nampak jejak sajak
Yang tanpa kita sempat tahu
Berubah menjadi tanaman rambat
Mengikat kaki-kaki yang sengaja berlari
Dari segara dosa yang kita gali
Asin air matamu
Mengering
Menjadi garam
Mengawetkan mimpi yang mulai busuk
Di mana kau kubur puisi-puisi?
Biar kucari hingga jarum jam terhenti
Meski waktu muak melihatmu
Terus menangis sepanjang hari
Setidaknya puisi akan menemanimu
Hingga hari kau harus mati
Indramayu, 25 Juli 2024
Sapitri Indah. Lahir, besar dan tinggal di Indramayu. Kembali menulis puisi sejak 2019 dan sedang aktif menulis puisi di Kelas Puisi Asqa Imagination School (AIS) #48. IG@sapitri_indah1.