Di Titik Negeri: Puisi Aal Rahim Sekha.

Kami berdiri
di titik pusat negeri
tempat arah cita
menyatu dengan dada.

Awal yang duka
bukan alasan untuk diam!
Bukan penghalang bicara!

Justru dari luka
kami belajar
menyebut nama negeri
dengan suara paling jujur.

Suka…
tak kami bingkai untuk sengsara.
Ia kami simpan
sebagai bara.

Agar harapan
tetap menyala
saat gelap mencoba
menguasai cahaya.

Langkah kami tertata!
Bukan kebetulan!
Telah terencana
oleh kesadaran dan keberanian!

Kami menyusuri
jalan terjal
dengan wibawa—
bukan untuk gagah,
tapi untuk setia!

Membela negara
bukan hanya soal senjata!
Tapi soal sikap!
Soal menjaga!

Menjaga tanah!
Menjaga bahasa!
Menjaga ingatan!

Agar warisan bangsa
tak runtuh
di tangan lupa!

Dengar…
itu bukan sekadar langkah.
Itu derap!
Itu hentakan!

Barisan anak bangsa
yang memilih berdiri
saat yang lain mundur.

Kami mara
membela hari-hari merdeka!
Bukan satu hari!
Bukan satu masa!

Tapi setiap waktu
ketika negeri memanggil
dengan sunyi
dan harapan!

Karena negeri ini
bukan milik yang hanya pandai berteriak.

Ia milik
mereka
yang diam-diam
berdiri tegak…

Menjaga.
Berkorban.
Setia.

Saat dunia goyah
kami memilih:
BELA NEGARA.

Bagansiapiapi19 Desember 2025.

 

Comments (0)
Add Comment