Dunia berada di ujung telunjuk anakku kini
Luasnya hanya beberapa inci
Dalam situs-situs maya anakku bersembunyi
Membangun istana dengan tangannya sendiri
Anak ku dimana kamu kini, berabad dia tak kembali
Jiwanya yang dahaga kian rekah tidak bisa lagi disusui
Untuk masuk ke bilik nya aku harus tahu kode sandi
Tiap menit nafasnya adalah eksplorsi
Update status membangun jaringan, tempatnya sembunyi
Dimanakah kau anakku
Kita dipisahkan oleh peradaban
Padahal engkau hanya duduk di situ
Bahkan desah mu dapat aku rasakan
Saat kau retas rahasia terlarang dalam dua abjad bantuan
Akupun terjunkal ditelikung jejari mu
Coba mengejar dan berseru, jangan!
Tapi, ke balik jejaring kau cepat berlalu
Jejak mu tak ter rekam pengamatan
Dunia tak berdinding di bawah telunjuk anakku
Banjir informasi menenggelamkan perahu akalmu
Yang teranyam dari pongah kebodohanku
Pasar dunia menggenang di tas sekolah dan buku
Bahkan tugas dari guru kau beli di situ
Aku pun terjungkal ditelikung jejarimu
Coba menawar waktu untuk bertemu
Dalam putaran detik semakin cepat berlalu
Tapi jejari anak ku begitu cepat tak terburu
Dimanakah kau anakku
Aku merindukan lagi rengekmu
Memecahkan pekerjaan rumah seperti dulu
Melayarkan perahu jaman ditawamu
Menghitung biji dacon dari tangan ibu
Masa kini memang milikmu
Tanganku kian rapuh tak sanggup lagi merebut waktu
Dunia maya mengambang di ujung jemari anakku
Detik-detik menggelombang diingatan ku
Bayangan masa lalu adalah jarak yang tak dapat kutempuh
Aku berteriak sepenuh langit di sunyi bumi pencarian
Tapi engkau semakin jauh melayari gelombang pulsa
Dan aku ternganga menghitung kecepatan jari mu
Berlompatan diatas keyboard menertawakan aku
Maka aku pun beku dalam dekapan waktu.
Bogor, 27 September 2012