Berdasarkan data-data yang ditunjukkan oleh Walhi, mayoritas lahan yang ada di Riau, dikuasai oleh perusahaan multi nasional, yang proses izinnya melalui demerintah daerah dan keputusannnya berada di tangan Jakarta. Sumber kebakaran yang setiap tahun memproduksi asap (jerebu) berasal dari lahan yang dikuasai oleh mereka. Tak ada kemajuan berarti untuk mengantisipasi munculnya tragedi asap itu. Baik korporasi dan penegak hukum, selalu tampak serius ketika berhadapan dengan media massa, seolah-olah mereka telah berupaya semaksimal mungkin menanggulangi tragedi asap itu. Namun, asap terus juga datang setiap tahun. Banyak kerugian yang ditimbulkannya. Kerugian ekonomi ataupun kesehatan. Apakah tidak layak setiap anak negeri menggugat akan kepedulian negara dalam hal ini, yang dalam pandangan mereka, penyelenggara negara sepertinya membiarkan tragedi ini berlalu begitu saja. Dalam kalimat lain telah terjadi: pembiaran.
Buku antologi ini, Membaca Asap, menghimpun 171 penyair dari sejumlah negeri, termasuk dari luar negara. Mereka yang mengirimkan karya-karyanya berasal dari Malaysia, Vietnam, Singapore, Thailand (berjumlah 20 orang), sedangkan dari Indonesia berasal dari berbagai kota di Pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Bali- Nusa Tenggara, Bangka Belitung, Kepulauan Maluku, Maluku Utara, Kepulauan Riau dan lain-lain (berjumlah 113 orang). Tentu saja penyair tuan rumah Riau ikut menjadi penyumbang terbanyak antologi ini. Dilihat dari segi umur, juga amat variatif. Dari yang berumur belasan tahun, sampai pada penulis yang berumur diatas 70 tahun. Untuk itu kiranya kaum penyair Asean sangat ikhlas untuk memberikan penghargaan d an tahniah kepada 3 penyair yang umurnya diatas 70 tahun yang masih bersemangat untuk mengirimkan puisi-puisinya dalam antologi ini yaitu tuan M.S. Rindu atau yang nama aslinya Dr. M. Saleh Lamry (kelahiran 1942, pensyarah di UKM Selangor), Datok Rida K. Liamsi (kelahiran 1943), Iberamsyah Barbary (kelahairan 1948) dan R. Soekoso DM (kelahiran 1949, Jawa Tengah). Khusus untuk kaum perempuan, memang tidak ada yang telah berumur 70 tahun, namun yang mendekati itu ada satu orang yaitu bunda Rohani Din (kelahiran 1953, Singapore). Selain dari itu, kamipun menelusuri siapa penyair yang termuda dari yang lolos kurasi ini. Menurut catatan kami terdapat 2 orang yang berkelahiran di tahun 2000 atau diatasnya: Elsa Maringko Yasman (Morotai 2001), Rofqil Yunior (Madura 2002).
Apa makna dari kehadiran mereka ini ?
Bahwasanya disamping karya kreatif mereka yang selalu muncul di ruang publik, para penyair berumur emas , 70 tahunan ini, mereka sangat santun dan sangat menghormati karya-karya kreatif anak-anak muda. Kehadiran mereka dalam antologi ini membuktikan itu semua. Mereka tetap bersedia bersama, duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi, bersama para penyair dari generasi zaman now. Umumnya, mayoritas, yang hadir dalam buku ini adalah mereka yang berumur 30- 50 tahun. Kategori ini merupakan perkiraan. Mengapa? Karena umumnya biodata yang masuk ke tim kurator banyak sekali yang malu-malu menyebutkan tahun kelahirannnya. Mereka hanya menyebut tanggal dan bulan kelahiran. Mungkin soal umur adalah sesuatu yang perlu dirahasiakan.