Esai dan Kritik : Membaca Asap dan Membaca Azab (?)

Dari sekitar 170 puisi yang dimuat dalam buku ini, paling dapat dikategorikan dalam 2 golongan besar.

Pertama, puisi-puisi yang menggambarkan dampak buruk dari adanya tragedi  asap yang setiap tahunnya  berulang datang. Mereka merasa sedih, menangis, duka, prihatin akan dampak kebakaran dan memanasnya asap berupa kerusakan eko sistem, kesehatan, penerbangan yang dibatalkan, kapal-kapal yang tak mungkin berlayar, kematian karena kecelakaan akibat terganggunya pemandangan,  kematian anak-anak balita, protes negara-negara tetangga yang mengakibatkan lumpuhnya perekonomian dan lain-lain, diliburkannya anak-anak dari kegiatan belajar di sekolah-sekolah sampai perguruan tinggi. Mayoritas puisi mewakili kelompok pertama ini.  Hal ini dapat dipahami sebab keadaan ini sangat terasa mengenai nasib orang-orang  kebanyakan,  yang paling banyak menderita dan paling nyata. 

Kedua: penyair-penyair yang mengangkat senjata (pena), untuk menuntut negara dan peyelenggara negara, atas ketidak seriusan dan ketidak becusan mereka dalam menanggulangi bencana kebakaran dan tragedi asap ini. Mereka seperti hendak mengikuti jejak-jejak WS Rendra, yang menyuarakan puisi perlawanan seperti yang diterbitkan dalam Potret Pembangunan dalam Puisi, berteriak dan mengepal-ngepalkan tangan, menuntut, menggugat. Negara dan pemerintah, haruslah memikul tanggung jawab dalam menghormati, melindungi dan memenuhi hak-hak asasi manusia dalam bidang lingkungan hidup. Kegagalan negara dalam memenuhi hal ini,  menempatkan negara sebagai objek yang harus digugat, dan resikonya ya mereka itu, para penyelenggara negara itu,  harus tahu diri . Kalau perlu ya mundur ! Mungkin inilah sindiran yang dimaksud oleh salah sebuah puisi yang menyatakan dengan gamblang….. Raja Yang Tidak Dirindukan !

Salah seorang penyair perempuan, Edrida Pulungan (Jakarta) mengekspresikan sebuah teriakan dan gugatan tentang keadaan suatu negeri yang dizalimi oleh kebakaran dan  asap dengan bertanya  ….. berapa banyak lagi korban yang jatuh saat bara hutan tak bisa dipadamkan air.  

Bara panas dimana-mana

Asap menjadi sarapan pagi, siang dan malam hari

Satu negeri dihujat karena asapnya menyebar hingga negeri tetangga

Satu negeri dipuja karena lebat hujan tropisnya

(puisi: Pukat Asap)

esaiHusnu Abadikritik
Comments (0)
Add Comment