Esai dan Kritik : Membaca Asap dan Membaca Azab (?)

MEMBACA ASAP dan  MEMBACA AZAB   (?)

Oleh : Husnu Abadi

Pengantar Redaksi. Tulisan Husnu Abadi berikut ini adalah membicarakan sebuah antologi puisi NEGERI DI ATAS ASAP di tahun 2019 tentang bencana asap yang selalu menimpa negeri  Riau. Sejumlah puisi yang dimuat dalam antologi ini, memperlihatkan bahwa kebijakan publik yang diambil oleh penguasa masih selalu tidak mempertimbangkan rakyat banyak, dan lebih cenderung jinak pada kemauan para pemilik modal. Walaupun  demikian para penyair tetap santun dalam menuliskan apa yang dia anggap benar.
Selamat membaca

(Redaksi TT : Hendrik Soebagio)

Di Indonesia semua kejadian, baik itu penomena alam, kepergian seorang tokoh,  baik tokoh besar ataupun seseorang yang biasa-biasa saja,   keindahan alam,  keunikan suatu daerah,  awan, laut, sungai  selalu mampu menggerakkan penyair untuk menulis puisi. Apalagi bila ada saja orang-orang atau komunitas tertentu  yang menggerakkan ribuan kaum penyair di Nusantara ini untuk menulis puisi, maka pastilah akan terbit sebuah  antologi puisi. Berbayar ataupun tidak.   Paling tidak trend penerbitan puisi melalui proses semacam itu, terjadi pada 20 tahun terakhir ini. Hal ini  didukung pula oleh perkembangan  teknologi informasi dan teknologi percetakaan yang semakin effisien,  cepat dan relatif murah. Bahkan hampir setiap pertemuan para penyair selalu dimulai dengan pengumpulan karya para penyair dan kemudian hasilnya berbentuk penerbitan buku abtologi puisi. Oleh karena itu, penerbitan buku antologi puisi mampu menembus hampir semua ibukota provinsi di negeri ini, bahkan sampai lebih  jauh dari itu,  sampai ke kota-kota  kabupaten. Sebut saja misalnya penerbitan itu dihasilkan di Tegal, Takengon, Meulaboh, Depok, Padang Panjang, Klungkung, Singaraja, Kotabaru, dan masih banyak lagi.

Riau sebagai wilayah kebudayaan, dinyatakan oleh banyak penulis sebagai negerinya Busthanul Katibin, Taman Para Penulis, sebuah identitas yang sangat mulia  dalam negeri-negeri yang berperadaban (tamaddun), khususnya dengan tradisi literasi dan kepenulisan. Pulau Penyengat, dengan sang Raja Ali Haji sebagai seorang tokohnya,  seolah-olah magnit yang menularkan virus dan tradisi kepenulisan ke semua penjuru Nusantara. Spirit dan semangat untuk mengawal dan merawat ruh dari negeri Busthanul Katibin ini, mau tak mau merupakan tugas mulia bagi generasi kini dan generasi mendatang. Tak ada pilihan lain. Hanya ada satu jalan: kreatifitas. 

UU Hamidy memang pernah menyatakan melalui buku-bukunya bahwa Riau tak lebih tak kurang hanyalah sebagai ladang perburuan, karena hasil alamnya yang berlimpah namun negeri ini selalu dirundung malang seperti ditunjukkan dengan jumlah mereka yang termasuk barisan orang-orang miskin (angka kemiskinan)  ataupun jumlah mereka yang mengenyam pendidikan, baik peringkat rendah sampai ke perguruan tinggi,  masih tergolong tidak menggembirakan. Namun perlawanan atas nasib itu tak pernah berhenti untuk digelorakan oleh para penulisnya, oleh para penyairnya. Perlawanan memang tidak mengggunakan laras senjata, rencong, tombak,  keris, panah,  ataupun yang sejenis dengan itu, tapi melalui pena. Ya pena. Karena memang dialah sang raja dunia. Salah satu kehebatan para penyair itu adalah menulis tiada henti. Termasuk menulis puisi-puisi protes yang berkenaan ketidak adilan negara terhadap Riau, ketidak seriusan penyelenggaraa negara dalam membela  nasib rakyat Riau.

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan