Garuda Mematuk Kutukan: oleh Syamsul Bahri (Kepala MTs Al-Hidayah Toboali)

Setelah tim nasional sepak bola senior Indonesia berhasil keluar sebagai juara FIFA ASEAN Cup 2026, bermunculan tulisan dan headline surat kabar yang membahas tentang kutukan bagi tim nasional Indonesia. Seperti Inews.ID mengangkat judul “Patahkan Kutukan Final, Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026”. Kanalindonesia.com mengangkat judul “Patahkan Kutukan Spesial Runner-up, Timnas Indonesia Tumbangkan Thailand Lewat Drama Pinalti”. Sedangkan detik.com mengambil judul “Indonesia Bisa Akhiri Kutukan”. Bola.com mengambil judul “Ukir Sejarah! Timnas Indonesia Akhiri Kutukan”. Hanya Kompas yang mengambil judul sedikit berbeda yaitu “Juara FIFA ASEAN Cup, Tim Garuda Catatkan Sejarah Baru”.

Judul-judul pemberitaan di atas sangat wajar dan dan memang sebuah aksioma. karena timnas Indonesia mengalami penantian panjang dan selalu gagal di partai final turnamen tingkat Asia Tenggara (Seperti piala AFF, meskipun sering lolos ke final. Karena sering kalah di final maka “kutukan runner-up” atau kutukan belum pernah juara pun disematkan ke tim nasional sepak bola Indonesia. Label kutukan tersebut sangat lama sudah disematkan ke tim nasional sepak bola Indonesia, setidaknya sudah 35 tahun lamanya tim nasional senior Indonesia belum merasakan juara.

Tercatat beberapa kali Indonesia masuk final namun selalu kandas di tangan musuh-musuhnya. Tim nasional sepak bola senior Indonesia tercatat 6 kali gagal menjadi juara setelah lolos ke babak final. Dimulai tahun 2000 di final dikalahkan Thailand, tahun 2002 juga dikalahkan Thailand lewat adu pinalti, 2004 dikalahkan Singapura, tahun 2010 dikalahkan Malaysia, tahun 2016 kembali dikalahkan Thailand dan tahun 2020 juga dikalahkan Thailand.

Namun, akhirnya kutukan tersebut bisa diruntuhkan setelah tim nasional Indonesia senior berhasil menjuarai FIFA ASEAN Cup 2026. Istimewanya mereka mengalahkan sang musuh bebuyutan, Thailand di partai final melalui babak adu pinalti. Jalannya pertandingan pun sangat dramatis. Sempat unggul 1-0, Thailand berhasil menyamakan kedudukan satu menit kemudian, bahkan di babak perpanjangan waktu Thailand berbalik unggul 2-1 walau mereka bermain dengan 10 orang. Harapan pendukung Indonesia sempat sirna dan tampaknya mereka harus pasrah menerima kembali kutukan runner-up tersebut. Tetapi keajaiban terjadi, setelah Indonesia berhasil menyamakan kedudukan 2-2. Sebuah gol yang Indah dilesakkan oleh Elkan Baggot menerima umpan manis dari Rizki Ridho yang bekerjasama dengan Egy Maulana Vikry.

Perjuangan Indonesia belum berakhir, game on kata komentator televisi. Dan benar saja dalam drama adu pinalti tim nasional Indonesia keluar sebagai jawara, setelah keempat penendang timnas berhasil melesakkan bola ke gawang Thailand, sementara dua pemain Thailand gagal mengeksekusi pinalti, satu membentur tiang dan satunya berhasil ditepis kiper Indonesia, Emil Audero. Semua langsung euphoria berhamburan dengan segala ekpresinya. Suporter yang memenuhi stadion utama Gelora Bung Karno juga tidak kalah histeris. Teriakan-teriakan penuh emosi dan kegembiraan bergemuruh bercampur dengan rasa bahagia.

Suatu kemenangan yang sungguh sangat luar biasa indah. Bukan hanya kemenangan yang dinanti selama puluhan tahun tetapi juga kemenangan yang menghancurkan kutukan selama ini. Kemenangan yang didapat dengan susah payah itu membuat Indonesia tidak lagi menyandang tim spesialis juara kedua, tetapi sekarang tim nasional Indonesia sudah disebut sebagai the king of Asean. Apalagi yang dijuarai adalah turnamen resmi yang diakui oleh FIFA. Sehingga keluar lontaran kata-kata dari para netizen, “untuk apa juara AFF berkali, tapi tidak pernah juara ASEAN Cup”. Hal ini menunjukkan betapa berharga dan tingginya gelar yang baru saja didapat.

Gelar ini juga memiliki makna penting bagi pemain dan pelatih tim nasional Indonesia. Pelatih Kepala Timnas Indonesia John Herdman mengatakan membawa Indonesia menjadi juara FIFA ASEAN Cup 2026 merupakan pencapaian terbaik dalam kariernya di sepak bola. “Untuk saat ini, (menjuarai FIFA ASEAN Cup 2026) merupakan pencapaian terbaik saya di sepak bola karena saya membagikan bersama sekelompok pemain yang saya tahu sangat memahami arti momen ini bagi mereka,” kata John Herdman dalam konferensi pers di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, Senin. Bagi penyerang Ole Romeny, keberhasilan tersebut memiliki makna besar, bukan hanya bagi dirinya dan para pemain, tetapi juga untuk masyarakat Indonesia yang memberikan dukungan sepanjang turnamen. “Sangat berarti, sangat berarti. Jika Anda melihat semua orang, anak-anak, semua orang, Anda tahu, trofi ini sangat berarti bagi Indonesia. Bagi kami, kami sangat bangga dan, ya, rasanya seperti satu keluarga besar,” kata Ole kepada wartawan di mixed zon SUGBK, seperti dilansir Antara, Senin, 5 Oktober 2026. (Antara). Sedangkan bagi bek timnas Calvin Verdonk kemenangan ini menjadi dorongan mental yang berharga untuk menatap ajang yang lebih besar, yaitu Piala Asia 2027 di Arab Saudi.

Selain nilai prestius yang diperoleh oleh para pemain dan pelatih, menjuarai FIFA ASEAN Cup juga memiliki nilai tambah bagi perjalanan tim nasional Indonesia ke depannya. Perbedaan yang didapat jika menjuarai kejuaraan lain setingkat Asean adalah nilai hadiah dan poin yang didapat. Walaupun sekilas sama-sama mempertemukan negara-negara Asia Tenggara. Namun ada perbedaan yang mencolok diantara turnamen lain yang diselenggarakan seperti AFF. Dari segi hadiah, piala AFF hanya memberikan hadiah 500 ribu dollar, sementara ASEAN Cup nominal hadiahnya 650 ribu dolar. Kemudian penambahan poin untuk menaikkan peringkat sebuah tim nasional.

Jadi, dengan kemenangan ini tidak ada alasan untuk menyematkan kepada Indonesia bahwa tim nasional sepak bola nya terkena kutukan atau tim yang hampir juara. Entah mitos atau sebutan lainnya, yang pasti tim garuda sudah mampu mematuk kutukan dan sudah keluar dari bayang-bayang kutukan tim runner-up dan mereka sudah bisa percaya diri dalam menghadapi pertandingan-pertandingan besar berikutnya. Akhirnya selamat tinggal kutukan tim runner-up dan tim yang hampir juara. Selamat datang era keemasan tim nasional sepak bola senior Indonesia.

 

Comments (0)
Add Comment