Bagi peminat dan peneliti sejarah Melayu, kitab Tuhfat al-Nafis karya Raja Ali Haji yang ditulis pada abad ke-19 merupakan sebuah “kitab suci” historiografi yang hampir tidak pernah dipertanyakan kedaulatannya. Selama berabad-abad, teks klasik ini sukses mengonstruksikan sebuah narasi besar tentang betapa ideal, sakral, dan romantisnya Sumpah Setia Melayu-Bugis yang diikat pada tahun 1722. Dalam ingatan kolektif yang dibangun oleh Tuhfat al-Nafis, persatuan antara Sultan (faksi Melayu) dan Yang Dipertuan Muda (faksi Bugis) digambarkan berjalan harmonis tanpa riak, sebuah kerja sama politik dua puak yang tanpa cacat.
Namun, benarkah sejarah di lapangan seindah dan seromantis itu?
Melalui buku terbarunya yang provokatif, “Seandainya Tun Dalam Tidak Mencabut Kerisnya“, Datuk Seri Lela Budaya Rida K. Liamsi datang membawa palu godam historiografi. Tokoh budaya dan sejarawan terkemuka Riau ini dengan berani menyajikan sebuah kontra-narasi (counter-narrative) yang meretakkan mitos keharmonisan absolut tersebut. Rida tidak sedang merobek sejarah, melainkan sedang menyeimbangkan timbangan masa lalu yang selama ini dianggap condong dan bias.
Membongkar Ilusi “Tawanan Emas” di Istana Riau
Tesis utama yang tersirat kuat dalam buku Rida K. Liamsi ini adalah pembongkaran terhadap ilusi kedamaian dalam Tuhfat al-Nafis. Sebagai seorang keturunan bangsawan Bugis, Raja Ali Haji dalam Tuhfat al-Nafis memiliki bias bawah sadar yang tak terhindarkan: menonjolkan kegagahan Lima Putra Bugis (Daeng Parani, Daeng Marewah, Daeng Chelak, dkk) dan mengecilkan gejolak batin puak Melayu.
Rida K. Liamsi masuk ke celah sejarah yang sengaja disembunyikan tersebut. Ia menggambarkan atmosfer Riau-Johor pada pertengahan abad ke-18 sebagai arena tarung relasi kuasa yang sangat tegang dan dingin. Di balik kemegahan takhtanya, Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah dipotret secara manusiawi sebagai penguasa yang “gerah“, terisolasi, dan menjadi semacam tawanan emas di istananya sendiri.
Bagaimana tidak? Berdasarkan implementasi Sumpah Setia Melayu-Bugis 1722, seluruh urusan eksekutif, kendali militer, monopoli perdagangan timah, hingga jalur candu dipegang mutlak oleh Yang Dipertuan Muda Bugis, yang kala itu dipimpin oleh Daeng Kamboja. Faksi Melayu perlahan menyadari bahwa kedaulatan pribumi mereka sedang dikebiri secara perlahan oleh dominasi agresif puak pendatang dari Sulawesi tersebut, yang bahkan mendatangkan 200 pendekar Bugis tambahan untuk memperkuat barisan militer mereka di Riau.
Tun Dalam: Mengembalikan Marwah Melayu yang “Dihapus”
Salah satu bias terbesar dalam Tuhfat al-Nafis adalah pencitraan faksi Melayu yang cenderung pasif, lemah, atau sekadar menjadi figuran pelengkap yang gemar mengeluh. Di sinilah letak kontribusi terbesar Rida K. Liamsi dalam melakukan dekolonisasi narasi internal sejarah Melayu. Ia mengangkat kembali tokoh Tun Dalam ke permukaan.
Tun Dalam—seorang calon Sultan Trengganu yang juga merupakan menantu Sultan Sulaiman—dihadirkan bukan sebagai sosok fiktif, melainkan sebuah kekuatan penyeimbang politik yang nyata. Bersama faksi Melayu lainnya seperti Bendahara Tun Hassan, Tun Dalam menolak tunduk pada absolutisme Daeng Kamboja.
Judul buku ini, “Seandainya Tun Dalam Tidak Mencabut Kerisnya“, merujuk pada sebuah klimaks psikologis yang luar biasa indah. Adegan “mencabut keris” di depan Daeng Kamboja adalah sebuah simbol metaforis yang menegaskan bahwa Wa’ad (perjanjian) memiliki batas etika. Ketika satu pihak bertindak terlalu dominan hingga menginjak-injak harga diri pihak lain, maka elite Melayu pun memiliki taji, strategi, dan keberanian militer untuk melawan. Melalui Tun Dalam, Rida berhasil mengembalikan marwah dan martabat aktor-aktor sejarah Melayu yang selama berabad-abad “ditenggelamkan” oleh dominasi teks Tuhfat al-Nafis.
Siasat Sastra Memulihkan “Suara yang Dibungkam”
Komunitas sejarawan tentu paham bahwa dokumen tertulis masa lalu sering kali dikuasai oleh pemenang atau faksi yang memegang patronase penulisan. Ketika teks kronik lokal dikuasai narasi pro-Bugis dan dokumen luar dikuasai oleh catatan dagang VOC Belanda, di mana kita bisa mendengarkan jeritan hati dan pergolakan batin orang Melayu yang terjepit pada abad ke-18?
Rida K. Liamsi menyelesaikan kebuntuan metodologi sejarah ini dengan sangat cerdas melalui pendekatan sastra-sejarah (historical fiction yang berbasis riset kuat). Sastra digunakan bukan untuk memalsukan fakta, melainkan untuk f
filling the blanks of history—mengisi kekosongan emosional yang tidak tercatat dalam lembar arsip formal. Ketepatan historis buku ini tetap kokoh; dinamika mundurnya Daeng Kamboja untuk menahan diri setelah konfrontasi dengan Tun Dalam sinkron dengan data arsip Belanda yang mencatat adanya kalkulasi geopolitik Daeng Kamboja agar tidak memicu perang saudara di tengah ancaman VOC di Melaka.
Kesimpulan: Menyeimbangkan, Bukan Memecah Belah
Membaca buku Rida K. Liamsi ini dengan kacamata sempit bisa jadi akan memicu kesalahpahaman sosiologis, seolah-olah buku ini ditulis untuk membangkitkan kembali sentimen etnis lama antara Melayu versus Bugis. Namun, bagi pembaca yang kritis, buku ini justru membawa misi perdamaian yang jauh lebih matang.
Fungsi utama dari kontra-narasi ini adalah untuk menyeimbangkan timbangan sejarah yang terlanjur berat sebelah. Rida ingin mengingatkan kita bahwa persatuan besar Riau-Johor-Pahang-Lingga pada masa lalu bukanlah hasil dari kepatuhan buta yang pasif dari satu pihak, melainkan buah dari negosiasi politik yang keras, dinamis, berdarah-darah, dan kompromi yang saling menghormati batas harga diri masing-masing puak.
Buku Seandainya Tun Dalam Tidak Mencabut Kerisnya adalah bacaan wajib bagi siapa saja yang ingin melihat sejarah Nusantara secara jujur dan multidimensional. Buku ini membuktikan bahwa sejarah tidak pernah tunggal, dan keris yang dicabut oleh Tun Dalam berabad-abad lalu, hari ini berhasil meretakkan absolutisme teks sejarah yang timpang.
“Kesalahan terbesar para sejarawan adalah membiarkan sejarah yang salah. Namun, kebodohan terbesar seorang peminat sejarah adalah membiarkan remah-remah sejarah!“. Begitu ungkap Rida K. Liamsi di dalam Catatan Penulis di buku itu.
Tabik!