Bibir Bu Inge menyipit lebar. Senyumnya mencetar-cetar. Pagi itu, guru-guru lain mengerubunginya. Pun diriku.
Guru yang baru melahirkan anak satu itu, seolah idola baru. Selain tentu saja, body goals-nya yang tidak terkalahkan di antara kami. Padahal wali kelas VII.2 itu sudah menikah 3 tahun. Apalagi, bagi kami, para perempuan yang nyambi jadi guru, perut melar setelah menikah adalah keharusan.
Maka, perempuan 28 tahun itu menjadi idola sekolah kami. Mau murid-muridnyalah, pun dewan guru.
“Gimana, Mbak. Ketemu Mas Menteri? Eh, katanya ada Pak Jokowi juga ya?” teriak Bu Cahaya, yang sedang bergaya di depan kamera.
Tampak sekali, Bu Cahaya ingin mengabadikan kebersamaannya dengan guru yang viral di sampingnya itu.
Belum lagi Bu Inge menjawab pertanyaan teman se-geng-nya itu, Bu Nanda sudah lempar pertanyaan lanjutan. Macam sedang bermain kuis berhadiah ratusan juta, lempar-lemparan pertanyaan itu meramaikan studio ruang guru.
“Ya, iyalah .. Secara, gue kan diundang langsung gitu.” Jawabnya dengan nada-nada seperti mahasiswa baru yang comel.
Untungnya, tidak ada suara tertawa ala-ala “wkwkwkwkwk” dari mulut mungil nan cantiknya Bu Inge. Kalau bunyi itu keluar, sepertinya saya pun agak khawatir juga.
Bu Inge memang populer. Sejak aplikasi video pendek sering memunculkan wajah sang guru cantik di lini masa FYP, maka sosok Bu Inge pun bak tertimpa rezeki.
Wajahnya yang glowing dan berbinar seperti porselen terkena olive oil. Ditambah, badannya yang seumpama karakter Anime. Tentu saja, menguntungkan Bu Inge.
Dalam satu dua video terunggah saja, Bu Inge sudah mendapat ratusan ribu likes. Entah siapa yang membagikan video tersebut, tetapi sejak itu, Bu Inge jadi masuk ke jajaran Selebgram terkenal dalam semalam.
Awalnya, Bu Inge meng-upload video dirinya sedang mengajar dengan media interaktif. Esoknya, Bu Inge upload lagi dirinya sedang olahraga pound stick. Kontan saja, orang-orang berkomentar penuh puja-puji, “Wah, guru sekarang hebat. Sudah cantik, pintar, pandai jaga tubuh juga.”
Setiap hari, saya sendiri sering melihat saat jam kosong, Bu Inge merespon komentar-komentar dari para penggemarnya. Terkadang, ketika kami sedang istirahat makan siang, Bu Inge mengulas kiriman paket makanan dari para sponsornya.
“Selamat ya Bu Inge. Anda benar-benar membuat sekolah ini bangga.” Kata kepala sekolah begitu mendengar hingar bingar Bu Inge di ruang guru.
“Iya, Pak. Ini juga demi sekolah, Pak!” jawab Bu Inge, dengan agak menekuk punggung.
“Ya sudah, semuanya. Memperingati Hari Guru Nasional tahun ini. Juga sebagai ucap syukur dan rasa bangga. Hari ini, kita akan makan bakso bersama. Saya traktir. Silakan Bapak Ibu beri tugas sama siswanya ya,” seru Pak Kepala Sekolah dengan bijak.
Kontan semua orang yang ada di ruang guru bersorak. Ada yang tadinya sedang tenang-tenang bersolek, malah jadi bertambah cepat memakai make up-nya. Bapak-bapak yang sedang kumpul dan menyeruput kopi pun tidak mau kalah. Mereka segera menegak kopinya macam orang kehausan.
Semua orang sudah berdiri dan siap-siap ke luar ruang guru menuju tempat makan bakso dekat gerbang sekolah. Tiba-tiba, kejutan lain datang dari siswa-siswi mungil yang cantik dan ganteng. Empat orang bocah-bocah lucu itu masuk ke ruang guru sambil membawa kue tart dengan lilin yang menyala. Sementara itu, sebagian besar siswa lain ada pula yang kepalanya menyembul dari jendela-jendela ruang guru.
“Selamat Hari Guru Nasional, Bu Inge!” ujar salah seorang siswa tercantik yang memegang kue.
Tentu saja, Bu Inge dan kawan-kawannya terkejut. Namun, ekspresi sumringahnya lebih kuat 85% dari keterkejutan biasa.
“Wah, terima kasih. Kalian luar biasa. Sebentar-sebentar kita bikin konten dulu yaaaa.” Teriak Bu Inge disambut tawa centil siswa-siswi tersebut.
Dalam hati, saya terharu dengan momen tersebut. Ternyata, masih banyak siswa-siswi yang masih sangat mengapresiasi gurunya di zaman seperti sekarang. Semoga dengan ini, Pendidikan Indonesia semakin maju seperti yang diinginkan oleh para Ahli Pendidikan saat ini.
“Oke, Gaais, Ibu mau ke tempat bakso dulu ya di depan. Kalian makanlah kue tart ini bersama teman-teman sekelas. Pokoknya kalian merdeka hari ini. Gak usah belajar dulu, ya.” Ucap Bu Inge.
Guru-guru lain yang berdekatan dengan Bu Inge mengangguk penanda aamiin. Mereka seolah terinspirasi dengan kebijaksanaan gurugram tersebut. Mereka pun segera berlari ke kelas-kelas yang mereka bimbing. Pun sepertinya diriku ini yang mengikuti jejak Bu Inge dengan buru-buru membuka Grup WhatsApp siswa.
“Pokoknya hari ini kalian Merdeka ya, Gais.”
Begitu kira-kira isi chat WhatsApp yang kukirim pada grup kelas sambil menge-tag ketua kelas IX.1 yang kelasnya saya bimbing.
“Bagaimana, Bapak Ibu sudah siap makan-makannya?” ucap Kepala Sekolah dengan suara melengking, setelah tadi sempat menghilang untuk kembali ke ruangannya.
“Siaaaap.” Kawan-kawan terdengar kompak waktu itu.
Saya yang sebetulnya agak sungkan, ikut-ikutan semangat padahal biasanya tidak seantusias ini.
“Sekali-kali ya ga Bu? Mumpung Hari Guru,” sentil Bu Cahaya padauk agak berbisik.
“Iya, Bu,” jawabku singkat.
“Eh, ngomong-ngomong Pak Jamal kemana?” timpal Bu Cahaya kembali.
Belum sempat kujawab, Bu Nanda melempar pertanyaan kepada Bu Inge di depannya, “Eh, Bu Inge. Kalau Pak Jamal diundang sama Mas Menteri gak sih kemarin?”
“Bu Inge yang berjalan paling depan di antara kami mengernyit. Sambil, membenahi kerudungnya, dia sedikit menggelengkan kepala.
“Katanya sih, sudah 10 tahun ini, Pak Jamal jualan sapu lidi,” Bu Cahaya memulai gibahnya.
Bu Nanda seolah terpancing, dengan kedua tangan yang saling menepuk yakin menimpali, “Iya, kasian tiap tahun dia gagal ikut P3K.”
“Berarti, beliau masih honorer Bu?” tanya saya yang malah ikut-ikutan penasaran.
Bu Cahaya menghentikan langkahnya, menoleh sebentar, lalu meyakinkan saya.
“Iya. Beliau itu jualan sapu lidi karena buat membiayai sekolah gratisnya itu loh. Dia bikin sekolah gratis gitu katanya.”
“Wah, kasian ya,” seru Bu Nanda.
Kami tiba-tiba berhenti sejenak. Langkah kami semua agak sungkan. Kecuali Bu Inge yang mendekat kepada kepala sekolah.
Kepala sekolah sempat menengok ke belakang. Saya pikir akan menanyakan soal Pak Jamal kepada kami. Ternyata beliau hanya tersenyum.
Kota Kinabalu, 1 Desember 2023
Panji Pratama menulis esai, cerpen, novel, dan puisi. Salah satu cerpennya berjudul “Sang Pemikul Rindu” tergabung dalam antologi cerpen budaya Kemdikbud dalam rangka pendokumentasian Warisan Budaya Tak Benda pada tahun 2022. Pada tahun 2020. Saat ini tinggal di Kinabalu, Malaysia.