Idrus Tintin, Bapak Stand-Up Comedy Indonesia yang Tak Semua Orang Tahu (Bagian Kedua): Oleh Fakhrunnas MA Jabbar

Fakhrunnas MA Jabbar

Trik Idrus Saat Dilempar Uang di Jalan

Suatu hari, Idrus sedang berjalan kaki sejauh hampir lima kilometer menuju rumah sewanya di Jalan Kemuning. Di tengah perjalanan, seorang sahabatnya yang juga wartawan senior, Mulyadi (Alm.), melintas dengan mobilnya. Melihat Idrus, Mulyadi membuka kaca mobil dan melemparkan uang kertas setara dengan nilai Rp100.000 sekarang.

“Idrus, ini…!” ujar Mulyadi santai.

Idrus terdiam. Ia merasa malu dilempar uang seperti itu di depan banyak orang. Tapi di sisi lain, ia memang sedang tidak punya uang. Tak ingin kehilangan muka, Idrus berimprovisasi. Sambil mengambil uang itu, ia berteriak:

“Kurang ajar! Begini ya caramu membayar utang, Mul!”, teriak Idrus.

Orang-orang yang melihat pun langsung menganggapnya sebagai kejadian biasa, dan Idrus bisa mengambil uangnya tanpa merasa malu lagi.

Idrus Tintin

Tak Bisa Bayar Utang, Ini Cara Idrus Menghindari Penagih

Pernah suatu kali, Idrus berutang kepada tujuh hingga delapan orang. Ketika tiba waktunya membayar, ia belum memiliki uang. Namun, ia tak kehabisan akal.

Idrus meminta semua orang itu datang ke rumahnya pada hari Ahad jam 10.00 pagi. Mulai dari jam 09.00, satu per satu penagih utang mulai berdatangan. Idrus sendiri mengintip dari kamar.

Yang menarik, meskipun semua orang sudah berkumpul, tak ada satu pun yang langsung menagih utang. Sebaliknya, mereka malah sibuk mengobrol tentang keluarga, pekerjaan, dan berbagai hal lain sambil menunggu dirinya menjumpai mereka. Tapi Idrus tetap tak keluar dari kamar

Idrus terus mengintip dari kamar, menunggu waktu yang tepat. Setelah hampir tiga jam menunggu, satu per satu tamu akhirnya pulang sambil mengomel sendiri. Idrus pun lolos dari kewajiban membayar utangnya—setidaknya untuk sementara waktu.

Kenangan Bersama Idrus Tintin: Dari Kertas Rokok hingga Puisi yang ‘Disandera’ 10 Tahun

Sebagai sastrawan, Idrus juga punya sisi sentimental dalam berkarya. Pada tahun 1985, saya sebagai penyair muda yang juga wartawan melewati kantor DPRD Riau di sebelah Kantor Gubernur. Idrus, yang saat itu duduk di bangku satpam, memanggilnya.

“Nas, sini!” ujar Idrus, lalu menyerahkan selembar kertas rokok yang sudah ditulisi sebuah puisi dengan tulisan rapi.

Lima tahun kemudian, tiba-tiba Idrus bertanya kembali. Dia waktu itu sedang mengumpulkan puisi untuk Antologi perdananya ‘Burung Waktu’.

“Nas, mana puisi yang pernah kutuliskan lima tahun lalu?”

Untungnya, puisi itu masih tersimpan rapi di salah satu map di rumahku

Kisah lain yang tak kalah unik terjadi pada tahun 1980-an. Saya yang baru pindah dari Bengkalis untuk melanjutkan kuliah di Unri, menyerahkan naskah kumpulan puisinya yang berjudul ‘Baur’ kepada Idrus untuk dibaca dan dikomentari.

Namun, sepuluh tahun berlalu, tak ada kabar lanjut dari Pak Idrus. Suatu hari tiba-tiba Idrus memanggilku.

“Nih, kumpulan puisimu dulu aku serahkan kembali.”

Saat hendak mengambilnya, Idrus langsung menahan tangannya.

“Tunggu dulu… Aku sudah menyimpannya 10 tahun, sini bayar sewanya. Kau hitunglah sewa per tahun!”

Akhirnya, saya terpaksa merogoh kantong dan menyerahkan sejumlah uang seikhlasnya kepada Idrus.

Idrus Tintin: Legenda yang Tak Akan Pernah Dilupakan

Kisah-kisah Idrus Tintin seakan tak ada habisnya. Selain dikenal sebagai sastrawan dan aktor teater, ia juga memiliki kepribadian yang jenaka, spontan, dan penuh improvisasi.

Hingga kini, tak banyak yang menyadari bahwa Idrus Tintin sebenarnya telah lebih dulu mempopulerkan gaya monolog komedi di Indonesia. Jika ada yang layak menyandang gelar Bapak Stand-Up Comedy Indonesia, maka tak ada nama lain yang lebih pantas selain Idrus Tintin. *

Ir. Fakhrunnas MA Jabbar, M.I.Kom, Ph.D (Can) adalah penyair, wartawan dan pensyarah, tinggal di Pekanbaru.

Comments (0)
Add Comment