JIKA ada yang patut digelari sebagai ‘Bapak Stand-Up Comedy Indonesia‘, maka nama Idrus Tintin adalah yang paling layak. Jauh sebelum istilah stand-up comedy populer di Indonesia, Idrus sudah menunjukkan kepiawaiannya dalam berimprovisasi di atas panggung, bercerita dengan gaya monolog penuh humor, bahkan bisa bertahan selama berjam-jam tanpa kehilangan pesonanya.
Pada tahun 1980-an, Idrus pernah diundang Bidang Kesenian Kanwil Depdikbud Riau untuk tampil dalam acara “Dua Jam Bersama Idrus Tintin” di Taman Budaya Riau. Malam itu, dengan ruangan yang penuh sesak oleh ratusan penonton, Idrus sukses mengocok perut hadirin dengan cerita-cerita lucunya. Kelakarnya meliputi segala hal, mulai dari yang ringan hingga yang berat, atau dalam istilahnya, “21 tahun ke atas.”
Salah satu cerita yang paling mengundang tawa adalah tentang seorang suami yang merantau lebih dari tiga tahun. Saat pulang, anak-anaknya menyambut dengan riang, berteriak:
“Hei… Papi pulang! Papi pulang!”
Namun, sang istri justru menyambut dengan kalimat berbeda:
“Eh, Pipa pulang! Pipa pulang!”
Ruangan pun pecah dengan tawa. Hebatnya, Idrus tetap cuek, tak sedikit pun tersenyum. Namun, di tengah aksinya, Idrus tiba-tiba tersadar bahwa di antara hadirin ada cucu-cucunya yang masih kecil. Dengan ekspresi khasnya, ia berkata:
“Alamaak… di ruang ini ada cucu-cucuku yang masih kecil. Tak elok mereka mendengar leluconku. Tapi… Beginilah Atuk (Datuk), susahnya cari duit. Lantaklah situ ya, Cu!”
Tak peduli dengan situasi, Idrus tetap melanjutkan cerita-ceritanya yang sebagian besar berkaitan dengan perjuangan hidup dan urusan ekonomi.
Aksi Unik Idrus Tintin Saat Tak Punya Uang
Sebagai seniman yang hidup dari dunia seni, Idrus kerap mengalami kesulitan keuangan. Namun, ia selalu menemukan cara unik untuk menghadapinya.
Salah satu cerita paling terkenal adalah ketika Idrus datang ke kantor Gubernur Riau yang saat itu memiliki tiga lantai. Tujuannya adalah menemui sahabat lamanya, Rivaie Rahman (Alm.), yang saat itu menjabat sebagai Wakil Gubernur Riau.
Begitu sampai di tangga menuju lantai dua, Idrus melihat Rivaie sedang berbincang dengan tamu. Tanpa ragu, Idrus langsung melemparkan dompet kosongnya dari atas. Rivaie yang melihatnya dengan cepat menangkap dompet itu. Tak lama, dompet tersebut dilemparkan kembali ke Idrus.
“Alhamdulillah, dompet ini sudah berisi duit!” seru Idrus, membuat seisi kantor tertawa terbahak-bahak.
Di lain kesempatan, Idrus kembali menemui Rivaie, padahal baru seminggu sebelumnya ia sudah meminta bantuan uang. Saat masuk ke ruangan, Rivaie langsung menegur:
“Idrus, pasti kau minta duit lagi, kan?”
Dengan wajah serius, Idrus menjawab:
“Demi Tuhan, tidak!”
“Jadi urusan apa?”
“Gini, sudah seminggu ini kepalaku pening.”
“Pergilah ke dokter,” saran Rivaie.
Idrus terdiam sejenak lalu berkata:
“Inilah masalahnya. Sudah seminggu pula aku berkeliling di Pekanbaru ini. Tak ada satu pun dokter yang gratis.”
“Alaaah…akal kau panjang betul,” ujar Rivaie sambil tertawa, lalu merogoh dompetnya dan menyerahkan sejumlah uang kepada sahabatnya itu.
Pernah pula Idrus mau menghadap Gubernur Riau, Alm. Soeripto yang sudah akrab dengannya. Tamu lumayan banyak sehingga Idrus sudah menunggu sekitar dua jam. Ajudan tetap menyuruhnya antri. Tak kehilangan ajal, Idrus mendekati kamera CCTV. Lalu dia beradegan silat sambil mempermainkan jarinya sebagai simbol minta duit. Usahanya berhasil. Tak lama kemudian Soeripto pun memanggilnya ke dalam. Tamu lain hanya tertawa karena sudah mengenal sosok penyair berbadan tegap itu.*
Ir. Fakhrunnas MA Jabbar, M.I.Kom, Ph.D (Can) adalah penyair, wartawan dan pensyarah, tinggal di Pekanbaru.
Mungkin tak semua komika sekarang tahu Idris Tintin. Perlu dikenalkan ke publik nih.