Infaq Estetik Nasirun: Obituari oleh Doddi Ahmad Fauji

“Manusia mati meninggalkan jasa, harimau mati meninggalkan belang!”

Nasirun telah menuntaskan sulur-sulur takdirnya, dirajut menjadi kepompong husnul khatimah, sebuah anugerah kebaikan yang paripurna. Ciri utama orang mulia, saat ia berpulang, orang-orang yang pernah berinteraksi langsung tumpah ruah mengenang kebaikannya yang personal dan murni tanpa rekayasa pencitraan. Bahkan mereka yang tak pernah bersua pun turut menundukkan kepala, mengirimkan doa dan ucapan selamat jalan. Tatkala Nasirun berpulang, lini masa media sosial seketika rabeng oleh gemuruh lautan duka cita, kenangan, dan penghormatan terakhir di berbagai beranda (Instagram, Facebook, WhatsApp, hingga ruang-ruang digital lainnya).

“Hari Jumat, 31 Juli 2026, dari jam 09.30 sampai 11.45 WIB, saya (sudah janjian) ngobrol dengan Nasirun di rumahnya yang indah. Ia bilang memang semalam (Kamis malam) ke RS Panti Rapih karena beberapa hari belakangan terasa sesak dan perut tidak nyaman. Dokter bilang Nasirun kena asam lambung. Hari itu meski tampak pucat, ia tetap ngobrol, karena kami sedang merencanakan pameran, seperti biasanya, sampai saya pamit karena mau Jumatan. Dan pagi, Sabtu, 1 Agustus, pagi-pagi saya ditelpon Pupuk DP, mengabarkan Nasirun meninggal dunia. Saya masih lemas sampai sekarang. Itu pertemuan terakhir saya dengannya,” demikian kurator Suwarno Wisetrotomo menulis di pesan WhatsApp pada 2 Agustus selepas subuh.

Saya mengirim beberapa pertanyaan kepada kurator Suwarno Wisetrotomo karena setahu saya, sosok yang paling berdampingan dengan perjalanan kreatif Nasirun adalah Mas Warno (panggilan akrab Suwarno). Kiriman pertanyaan itu meluncur setelah saya mengetahui kepulangan Nasirun lewat beranda Facebook aktor Butet Kertaredjasa saat membuka gawai sore hari itu. Saya diam sejenak, tertegun, lalu segera mencari dokumen Majalah SituSeni karena ingat, di sanalah terakhir kalinya saya menulis tentang Nasirun dengan tajuk ‘Sensasi Nasirunisasi’. Ketemu. Namun, sebelum jemari ini kembali menari di atas kibor, saya mengheningkan cipta sejenak, mendoakannya semoga perupa kelahiran Cilacap, 1 Oktober 1965 ini, menerima magfirah seluas-luasnya, serta berkah seluas angkasa raya, sedalam samudra.

Selain teringat arsip Majalah SituSeni, ingatan saya langsung tertuju ke Mas Warno. Dua orang ini tumbuh bersama, besar bersama, saling support, dan tak pernah ada ‘cideka‘ janji di antara mereka.

Mas Warno menuliskan obituarinya: Nasirun tumbuh menjadi seniman yang merawat integritas dengan teguh. Pamerannya digelar di ruang-ruang penting. Kolektornya tumbuh dan meluas. Demikian pula jejaring persahabatannya: dari kalangan pejabat hingga pesohor. Nasirun teramat dermawan. Karya-karya seniman senior yang notabene adalah guru-gurunya dikoleksi dan disimpannya rapi di museum pribadinya. Tak banyak orang tahu, ia begitu rajin membantu siapa pun yang dipandangnya pantas dibantu, terutamanya para seniman muda yang tengah kesulitan. Ia tetap apa adanya, bersahaja, dan piawai mengelola kekecewaan dengan canda tawa. Ia dicintai oleh begitu banyak orang.

Comments (0)
Add Comment