Membaca Politik Praktis dalam “Cawan Sokrates” Karya Sulong A’dzam Shuhuf: oleh Marzuli Ridwan Al-bantany

 

O! Cawan yang kuacungkan ini, sudah pun penuh berisi hemlock yang manis tapi mematikan! Yang menjanjikan keabadian! Maka, terimakasih harus kusampaikan kepada semua! Kepada Rakyat Athena! Kepada Miletus! Kepada 501 Juri! Kepada Plato! Bagaimana pun, cawanku ini berbentuk sebuah piala! Hura!

Membaca cerpen Cawan Sokrates karya Sulong A’dzam Shuhuf—yang terbit di tirastimes.com, 12 September 2026 kemarin, mengingatkan kita kepada peristiwa bersejarah yang terjadi pada tahun 399 SM. Kala itu, Sokrates,- salah seorang filsuf terkemuka Athena, Yunani, menghadapi persidangan yang kelak dikenang sebagai tragedi demokrasi dan kebebasan berpikir. Tuduhan yang dikenakan kepadanya adalah “merusak generasi muda” dan “tidak menghormati dewa-dewa kota Athena.” Pengadilan ini tidak hanya berdampak pada dirinya (pada kematiannya), tetapi juga menjadi simbol perjuangan kebebasan berbicara melawan otoritas negara (viva.co.id, Suhandoko, Sejarah Kebebasan Berbicara yang Berakhir di Cawan Racun, Rabu, 13 November 2024).

Bila kita membaca Cawan Sokrates ini dengan penuh ketelitian—dari awal hingga akhir, kita tidak hanya menemukan semacam kisah yang diramu dalam bentuk drama yang padu, penuh konflik pemikiran dan ketegangan yang membuat kening berkerut-kerut,— berkisah tentang peristiwa historis di Yunani kuno. Namun lebih dari itu, dari naskah ini kita akan menemukan makna yang tersirat dan filosofis yang dalam, yakni sebuah cerita yang begitu kentara dalam mengkritisi fenomena politik praktis—yang tidak hanya terjadi di negeri ini, tetapi juga menyangkut mentalitas politik di belahan bumi mana pun demi kepentingan sebuah kekuasaan.

Sejak awal cerita ini telah mendedahkan dialog yang membuat pembaca benar-benar harus mengeluarkan energi ekstra, energi kognitif yang tidak sedikit dan konsentrasi yang berlapis-lapis dalam memahami setiap penggal cerita yang ditulis. Dari percakapan Sokrates bersama Plato, Alcibiades, Miletus dan Demokritus, tidak disajikan dengan alur naratif yang mengalun-ngalun, dibuai pada deskripsi pemandangan yang memanjakan mata, melainkan langsung menghantam pembaca ke dalam ruang sidang minda dan pikiran yang padat dengan adu argumen tingkat tinggi.

Demikianlah, sebab sejak awal pengarang—sastrawan Riau yang satu ini telah memilih format lakon/dialog teater dalam cerita ini, ketimbang narasi biasa (konvensional) dalam cerpen-cerpen yang ditulis pada umumnya. Akibatnya, kita selaku pembaca ‘dipaksa’ olehnya untuk langsung masuk ke dalam gelanggang debat tanpa pengantar yang panjang. Setiap kalimat yang meluncur dari mulut Sokrates, Alcibiades, Miletus, Demokritus, hingga Plato bukan sekadar obrolan biasa, melainkan tesis-tesis filsafat—semacam karya tulis ilmiah—yang menjadi syarat pada suatu jenjang pendidikan tinggi, khususnya program sarjana atau magister filsafat (mulai dari epistemologi, etika, hingga teori kenegaraan) yang dibungkus lewat bahasa dan nalar (dialektika) yang berputar-putar tajam.

Sokrates yang dalam berbagai catatan terkenal dengan metode bertanya (maieutika atau metode kebidanan jiwa) yang memusingkan, dalam cerita ini tidak langsung menjawab, melainkan membalas pertanyaan dengan pertanyaan lain, memutar balik logika lawan bicaranya (seperti saat ia melilit Miletus soal “kesatuan Rakyat Athena” dan Demokritus soal “atom-atom demokrasi“). Bagi pembaca yang tidak terbiasa mengikuti alur logika formal atau mendapatkan sebuah jawaban dengan suatu kesimpulan yang benar, maka pola pikir ini akan terasa seperti labirin tanpa ujung—membuat kita harus mengulang paragraf demi paragraf agar paham di mana letak jebakan logikanya.

Dalam teks cerita Sulong A’dzam Shuhuf—sang empunya nama asli Rifadillah Sarin ini, ia dengan sengaja memasukkan referensi teks-teks klasik yang berat di bagian akhir cerita (mengambil dari karya Plato seperti Crito, The Republic, hingga sejarah filsafat). Ini membuktikan bahwa cerpen ini ditulis dengan riset yang mendalam, sehingga pembaca dituntut untuk ikut berpikir layaknya seorang filsuf yang sedang duduk di dalam penjara Athena bersama Sokrates.

Percakapan Sokrates dengan para murid dan penuduhnya di awal hingga akhir cerita ini seolah menjadi ujian kesabaran sekaligus kecerdasan bagi pembaca: apakah kita akan menyerah pada kerumitan kata-katanya, ataukah kita akan terus menyimak hingga tetes racun terakhir di dalam cawan itu?

Sebagai sebuah cerpen ala drama—seperti termaktub pada judul yang dipulikasikan www,tirastimes.com itu, “Cawan Sokrates: Cerpen Sulong A’dzam Shuhuf”, pengarangnya seperti sedang duduk di kursi sang sutradara—‘membaca’, ‘menyimak’ dan tentu pula ikut ‘mengkritisi’ sebuah fenomena politik praktis yang terjadi hari ini. Melalui cerita yang disuguhnkan ini, hal itu tampak telah tergambarkan dengan sangat nyata.

Lihatlah titik temu tajam antara isi cerita dengan realitas politik kita. Melalui dialog Alcibiades dan Sokrates, naskah ini menyoroti bagaimana sistem demokrasi bisa merosot menjadi sekadar “gila angka“. Sokrates dikalahkan dan dipaksa meminum racun hanya karena 501 juri sepakat demikian, terlepas dari apakah vonis itu benar secara moral. Dalam kenyataan politik hari ini, cerita ini menyibak fenomena di mana suara mayoritas, kalkulasi koalisi, atau kekuatan pendukung terbanyak kerap dijadikan alat legitimasi untuk membenarkan perkara-perkara yang secara etis keliru. Seringkali, hukum dan kebijakan publik ditekuk bukan berdasarkan apa yang adil bagi rakyat, melainkan siapa yang memiliki angka atau kekuasaan terbesar.

Selanjutnya dalam penggal-penggal dialog yang lain, seperti dalam pedebatan antara Miletus dan Demokritus mengenai “satu kesatuan Rakyat Athena”, seolah ia menyindir para politisi dan birokrat modern yang gemar berlindung di balik jargon-jargon kolektif seperti “atas nama rakyat” atau “keputusan bersama“, dimana Rakyat diposisikan sebagai entitas abstrak yang keputusannya bisa dimanipulasi oleh sistem, sementara individu yang kritis (seperti Sokrates) disingkirkan. Apa yang disajikan melalui dialog ini, seakan menampar wajah perpolitikan kita hari ini, tentang kebijakan-kebijakan yang memunculkan kontroversi,— yang sering kali disahkan dengan dalih dan klaim “demokratis” karena diketok oleh lembaga perwakilan rakyat. Padahal, substansi keadilan dan aspirasi tulus dari individu-individu di bawahnya sering dikerdilkan dan bahkan terabaikan begitu saja.

Di bawah kendali Sulong A’dzam Shuhuf, dialog-dialog yang dibangun dalam cerita ini menjelma menjadi lorong-lorong berliku yang memerangkap para pembela sistem itu sendiri. Sokrates, dengan metode maieutika-nya itu melilit leher logika Miletus dan Demokritus menggunakan pertanyaan-pertanyaan mendasar hingga mereka kehabisan napas di hadapan kebodohan mereka sendiri. Mereka kalah bukan karena kalah argumen, melainkan karena mereka menyadari bahwa sistem yang mereka bela hanyalah sebuah konstruksi rapuh tanpa jiwa.

Dan di sudut yang hening, kehadiran Plato—sang murid yang kelak mengabadikan keabadian gurunya (Sokrates)—serta kegelisahan Alcibiades, melengkapi simfoni keputusasaan estetis. Ketika Plato berbicara tentang forma dan dunia bayang-bayang, teks ini melompati batas ruang dan waktu, membawa kita pada pertanyaan fundamental: Apakah manusia modern hari ini benar-benar hidup sebagai subjek, atau sekadar bayang-bayang di balik terpaan sinar lampu kekuasaan?

Aduhai… Melalui cerpen ini juga, Sulong A’dzam Shuhuf seolah-olah hendak mengkritisi praktik politik kita hari ini yang kadang kerap alergi terhadap kritik yang tajam meski secara nalar hal itu benar. Sejalan dengan hal itu pula-lah, Sokrates dalam teks cerita ini digambarkan sebagai sosok yang terus “bertanya, bertanya, dan bertanya” di tengah masyarakat yang merasa sudah tahu segalanya. Meski ia ‘tahu’ jika orang-orang sepertinya yang mempertanyakan kebijakan atau membongkar kelemahan dalam suatu sistem seringkali dianggap sebagai ‘pengganggu’ atau ‘musuh’ yang harus dibungkam—jika tidak dengan cawan hemlock, maka dengan pembunuhan karakter (Character Assasination), pasal-pasal karet, atau pemutusan hubungan sosial dan lain sebagainya.

Apa yang menarik dari cerita ini, Sulong A’dzam Shuhuf dengan kekuatan menulisnya telah menggunakan cermin masa lalu Athena untuk menampar wajah politik modern kita hari ini. Cawan Sokrates adalah cerita yang penuh kias, metafora yang bersahaja, yang menyindir para elite politik, pembuat kebijakan, dan sistem demokrasi yang terjebak dalam prosedural formalitas, namun miskin nurani dan keadilan substansial. Oleh sebab itu, cerita ini lahir dimungkinkan sebagai media perenungan, yang seharusnya dimaknai sebagai upaya untuk mendidik (terutama moral) atau menerangkan suatu gagasan, cita-cita dan harapan. Juga menyangkut nilai kehidupan sehari-hari dalam berbangsa dan bernegara; seperti kebijakan, kesetiaan, dan kejujuran demi kemaslahatan bersama.

Namun, sebuah cerita (cerpen), tetaplah ia selamanya merupakan teks cerpen, karya fiksi yang lahir dari tangan seorang penulis, sastrawan dalam memandang kelebat kehidupan dengan berbagai warna-warni yang ada. Setiap karya sastra yang lahir, bukan sekadar lampion yang hanya menerangi gelap dan pekatnya malam hari, melainkan pembawa cahaya dan penuntun jalan bagi jiwa-jiwa yang terlanjur melangkah jauh dalam pikiran dan tindakan yang keliru atau mengelirukan.

Meski Cawan Sokrates karya Sulong A’dzam Shuhuf adalah sebuah karya intelektual yang memukau dan kaya akan muatan filosofis, namun dari sudut pandang kritik sastra, karya ini memunculkan sebuah pertanyaan jika dinilai sebagai sebuah cerpen (cerita pendek), bukan sekadar naskah drama filosofis. Apa yang disifatkan ini, kita merasakan jika cerita ini minim sekali aksi dramatiknya. Alur dalam cerita hampir sepenuhnya berada dalam ruang komunikasi (dialog). Tidak ada perkembangan peristiwa yang signifikan dari awal hingga akhir. Cerita dibuka dengan Sokrates memegang cawan, dan diakhiri dengan hal yang sama, tanpa ada pergeseran situasi yang dinamis selain pergantian pembicara adu argumen. Selain itu, pengarang juga tidak memberikan gambaran yang luas kepada kita tentang dimana setting tempat, apakah di ruang pengadilan Athena atau penjara, dan seperti apa suasana secara indrawi yang terjadi pada diri tokoh-tokohnya. Ruang dalam cerpen ini terasa begitu sangat steril, hampa, dan bahkan terlalu abstrak.

Sejak membaca judulnya, Cawan Sokrates ini dilabeli sebagai sebuah cerpen, “Cawan Sokrates: Cerpen Sulong A’dzam Shuhuf”. Namun apa yang ada setelahnya, kita tidak menafikan jika bentuk fisiknya adalah naskah drama lengkap dengan nama tokoh di depan kalimat dan tanda kurung siku untuk gestur: [menggumam entah apa]. Penulis dinilai seolah ragu apakah hendak menulis naskah teater atau cerita pendek naratif, sehingga esensi keindahan bahasa prosa naratif (seperti deskripsi, situasi batin para tokoh, maupun ritme kalimat narator) hampir tidak ditemukan sama sekali dalam cerita ini. Menanggapi struktur teks cerita ini, maka mungkin saja timbul sebuah pertanyaan yang menohok: Apakah ini model dari sastra modern kita, sastra kontemporer yang yang justru gemar mendobrak, mengabur atau meleburkan aturan-aturan lama dalam memahami sastra konvensional, dimana batas kaku antara puisi, prosa (cerpen/novel), dan drama sengaja diluluhlantakkan?

Tanpa menafikan ketiadaan aksi dramatik yang signifikan, minimnya latar tempat yang indrawi, serta absennya ritme naratif konvensional, Cawan Sokrates tetaplah sebuah pencapaian intelektual yang memukau. Sebagai karya dari pengarang novel Matinya Toean Presiden (2024) ini, cerita tersebut hadir sebagai jembatan esensial yang menghubungkan kita dengan esensi kemanusiaan. Kita juga maklum, bahwa karya sastra selalu meninggalkan jejak yang membuat kita mengenal diri kita dan dunia ini dengan cara yang lebih dalam dan istimewa.

Terlepas dari lebih dan kurangnya, dari perdebatan bentuknya, Cawan Sokrates karya Sulong A’dzam Shuhuf meninggalkan kita dalam keheningan yang mencekam. Cawan itu kini diacungkan bukan hanya kepada rakyat Athena, melainkan kepada kita semua yang hidup di era ketika suara terbanyak kerap membungkam nurani yang paling jernih. Sokrates telah meminum racunnya dan menggapai keabadian. Lantas, di hadapan cawan zaman kita yang kini penuh sesak dengan kepalsuan sistemik, racun apa yang sedang kita teguk saban hari atas nama kesepakatan bersama? Sebuah mahakarya sastra dari Riau yang menuntut permenungan panjang kita semua.

Terakhir, mengenai sebaris tempat dan waktu yang disematkan oleh Sulong A’dzam Shuhuf di ujung naskah ceritanya ini—Payungsekaki, 0214|0926—bukanlah sekadar penanda administratif biasa. Ia adalah sebuah stempel kesaksian batin yang sarat makna. Payungsekaki sebagai titik geografis karya ini dibuat, adalah sebuah kecamatan di Pekanbaru, Riau. Dengan mencantumkan nama tempat ini, dia sebagai sastrawan menegaskan bahwa percakapan tentang filsafat Yunani kuno, keadilan, dan tirani demokrasi itu digagas, direnungkan dan ditulis dari rahim tanah Melayu Riau. Ia menjembatani ruang universal dunia klasik dengan lokalitas tempat sang penulis berpijak. Sementara kode waktu (0214|0926), adalah angka-angka yang mencerminkan jejak waktu kreatif—bisa jadi penanda jam, hari, atau tarikh penyusunan naskah tersebut yang ditenun dengan cermat, menegaskan bahwa pergulatan pemikiran ini lahir dari proses kontemplasi yang sunyi dan disiplin kepenulisan yang masak.

Selamat dan tahniah bang Sulong—cerpenis, novelis, dan esais. Membaca karyamu ini membuatku kembali membaca ulang akan penggal-penggal kisah dan catatan peristiwa yang menimpa Sokrates, filsuf Athena, Yunani berabad-abad masa yang lampau— yang salah satu kontribusinya (dalam pemikirannya) mengajarkan kita untuk membedakan pengetahuan sejati dan sekadar pendapat, dia yang menekankan pentingnya pengetahuan yang didasarkan pada alasan dan bukti. Semoga kita dapat merawat salah satu ucapan termasyhurnya “Saya tahu bahwa saya tidak tahu apa-apa”—sebuah pengingat abadi bahwa pengakuan atas ketidaktahuan adalah langkah pertama dalam pencarian pengetahuan.

Wallahu a’lam.

Bengkalis, 12-13 September 2026 (10.15 AM s.d 09.10 AM)

Marzuli Ridwan Al-bantany adalah penulis dan sastrawan Indonesia bermastautin di Bengkalis, Riau. Selain menulis artikel maupun esai, ia juga menulis puisi, cerpen dan novel. Di antara buku terbarunya ya telah terbit, yakni sebuah kumpulan esai berjudul Lembaran Pesan Sunyi yang diterbitkan penerbit Dotplus Publisher, Februari 2026 yang lalu.

Comments (0)
Add Comment