Jalan Panjang Menuju Kampung Keridi Mayoritas Warga Suku Akit, DMDI Berbagi Paket Sembako, Pendidikan dan Pakaian layak Pakai (Catatan Perjalanan Bagian 3 dari 4 Tulisan): oleh Fakhrunnas MA Jabbar dan Tutin Apriyani

ROMBONGAN Baksos DMDI dan rombongan dari Negeri Melaka secara bergiliran menuju pelabuhan kempang menuju Kampung Keridi. Semua perbekalan dan bantuan Paket sembako, peralatan sekolah dan pakaian layak pakai dibawa serta. Mengingat medan yang sulit, Ustadz Fauzi mengerahkan belasan santri untuk mengangkat semua paket. Bantuan tenaga ini benar-benar meringankan tugas rombongan.

Sekitar pukul 09.00 kempang yang membawa penumpang dan paket bantuan baru bisa dinaiki. Sebab, pasang naik baru saja dimulai. Satu per satu penumpang dan barang diturunkan ke kempang.

Perjalanan menuju Kampung Keridi bukanlah perjalanan biasa. Dari Selatpanjang, rombongan harus mengarungi perairan selama dua hingga tiga jam menggunakan kapal motor. Ombak yang sesekali meninggi membuat sebagian penumpang memilih diam menikmati semilir angin laut.

Tetapi perjalanan sesungguhnya justru dimulai ketika kapal merapat di pelabuhan Sungai Suir, Kampung Keridi. Lagi- lagi rombongan menjalani situasi yang sulit saat keluar dari kempang karena posisi kempang tidak sejajar dengan jambat pelabuhan. Satu per satu penumpang keluar dari kempang dengan berpegangan.

Bahkan ada seorang anggota tim yang nyaris terperosok ke laut gara-gara menginjak lantai pelabuhan yang lapuk dan patah. Untunglah ada Puan Arjunaida disamping yang membantunya. Paket-paket bantuan dengan bergotong- royong diangkut oleh para santri dengan penuh semangat atas arahan Ustad Mujib.

Menuju Balai Dusun, Kampung Keridi rombongan masih harus berjalan kaki sekitar satu setengah kilometer melewati jalan tanah dan sebagian jalan yang sudah semenisasi yang sebagian lagi sudah rusak. Paket-paket bantuan diangkut dengan gerobak barang yang ditarik dengan sepeda motor.

Ternyata jumlah sepeda motor di Kampung Keridi bisa dihitung dengan jari. Oleh sebab, hanya anggota rombongan tak kuat berjalan karena faktor usia atau kondisi kesehatan yang bisa naik ojek motor.

Di Balai Dusun Kampung Keridi ratusan warga mayoritas Suku Akit sudah berkumpul. Kedatangan rombongan memasuki gedung yang hanya berdinding setengah badan.

Saat berada di Balai Dusun, rasa lelah seolah menguap begitu melihat ratusan warga telah berkumpul di tempat acara. Sebagian besar mereka adalah warga Suku Akit.

Anak-anak berdiri malu-malu di samping orang tua mereka. Sebagian ibu menggendong balita. Para lelaki duduk di kursi atau berdiri sambil memperhatikan rombongan yang datang membawa paket-paket bantuan.

Rombongan mereka sambut dengan meriah senyum tulus dan tatapan penuh harapan. Di tempat seperti inilah makna sebuah paket sembako berubah menjadi lebih dari sekadar beras, minyak goreng atau gula. Paket bantuan itu berubah menjadi simbol bahwa masih ada orang lain seperti DMDI yang mengingat mereka.

Ustadz Mujiburrahman yang sudah melakukan dakwah bersama Ustadz Fauzi sebelumnya langsung bertindak jadi MC. Ustadz Mujib mengajak anak-anak bermain gerakan dan main tebak-tebakan berhadiah makanan atau mainan.

Sebelum bantuan diserahkan diawali dengan sambutan Ketua Panitia Baksos, Ustadz Ayub Nahar dan sambutan Datuk Shaari bin Abu dari Negeri Melaka. Ustadz Ayub menjelaskan tujuan kedatangan rombongan DMDI yang berjumlah 21 orang di Kampung Keridi.

“Kami dari DMDI Riau membawa sedikit bantuan paket sembako, paket pendidikan dan pakaian layak pakai bagi masyarajat di Kampung Keridi. Semoga bantuan ini dapat bermanfaat bagi masyarajat di sini,” kata Ustadz Ayub.

Secara bertahap, semua anggota rombongan menyerahkan paket bantuan mulai dari Timbalan Ketum DMDI Datuk Fakhrunnas, Ustadz Ayub dan anggota lain diantaranya: Cikgu Amir, Amnizar, Syafrizal, R. Yandra, Begitu pula, bantuan diserahkan oleh puan-puan: Jahlelawaty, Tutin, Yati Hartati, Arjunaida, Sulastri, Yayuk, Wiwiek, Sy Nurlela, Nuraini, Rosida.

Usai acara, rombongan harus buru-buru kembali ke pelabuhan. Sebab, kalau pasang surut terjadi, maka kempang tersadai (terdampar) di tepi pelabuhan. “Kalau kita tak cepat-cepat meninggalkan pelabuhan bisa-bisa kita harus bermalam di Kampung Keridi ini,” kata Ustadz Mujiburrahman.

Rombongan harus kembali ke Selatpanjang. Rombongan sudah ditunggu oleh Ustadz Fauzi dengan 3-4 mobil kecil. Semua rombongan secara bertahap dibawa ke pesantren untuk shalat Zuhur di masjid pesantren.

Kemudian di ruangan pesantren- tempat sarapan pagi tadi, Ustadz Fauzi dan pengurus pesantren sudah menghidangkan masakan siang bagi rombongan. (Fakhrunnas MA Jabbar adalah wartawan senior dan Tutin Apriyani adalah Ketua Wanita Penulis Indonesia -WPI- Riau)

Comments (0)
Add Comment