Kekuatan Intertekstualitas Dalam Puisi: Catatan Shafwan Hadi Umry

Sajak atau puisi merupakan genre sastra yang paling sering digunakan oleh penyair ketika ia terlibat secara langsung dalam kehidupan sehari-hari. Apa yang dibaca sebagai peristiwa sajak merupakan reaksi sesaat kita atas apa yang terjadi yang kita anggap begitu kuat merangsang kreativitas kita. Puisi Iahir akibat persentuhan sang penyair dengan realitas, dengan alam dan juga lingkungan. Pertemuan itu menyebabkan jiwa kita tersentak dan terpancarlah serentetan kata yang khas yang populer dan disebut sebagai bahasa pilihan .

Dalam puisi adalah menyanyi, maka lahirlah puisi yang memiliki kemerduan bunyi yang mewartakan kegirangan batin atas apa yang kita alami. Dalam puisi ada juga kesedihan dalam poses keterharuan, bahkan ironik kehidupan .
Sejumlah.persentuhan kita dengan kehidupan dalam realitas keseharian memberikan pengalaman korelatif kepada orang lain. Beberapa pengalaman orang lain sebagian besar dimiliki juga oleh penyair. Ada semacam intertekstualitas (pengaruh dalam teks; apakah lokasi, tema, dan pilihan bahasa) puisi yang muncul bersamaan dengan puisi yang lain, meskipun diucapkan dalam peristiwa yang berbeda.

Taman ialah suatu persinggahan fisik kita maupun pemandangan untuk menikmati dan menghayati kenyamanan . Baiklah kita simak tiga buah sajak secara berturut-turut di bawah ini. Yang pertama sajak Rabindranath Tagore (Pujangga India)

Tangan berdekapan dengan tangan dan mata berlena pandang dengan mata; demikian bermula kisah hati kita
malam purnama di bulan Maret; bau henna
yang harum di udara; sulingku terkapar lena’
di tanah dan karangan bungamu terbengkalai tidak selesai kasih antara engkau dan aku ini sederhana
bagai sebuah nyanyi (Tukang Kebun, 1999: 41).

Pengalaman “si aku lirik ” ketika menikmati suasana berduaan dengan sang kekasih. Sebuah suasana yang dilukiskan penyairnya sebagai untaian bunga dan suling yang berhenti bernyanyi dikalahkan keasyikan sepasang kekasih yang bergandengan tangan disirami cahaya purnama. Tempat peristiwa dimaksud pastilah sebuah taman yang diliputi haruman semerbak dari sebuah taman bunga.

Puisi ini termasuk sajak pilihan yang pernah diterjemahkan pertama sekali di Indonesia oleh Pujangga Amir Hamzah dalam Setanggi Timur. kemudian Hartojo Andang Jaya kembali menerjemahkan sajak ini dalam antoloji puisi Tagore berjudul (Tukang Kebun).

Puisi kedua berasal dari Goenawan Mohamad yang bertajuk Di kebun Jepun (2001: 63). Kita turunkan beberapa larik pada puisi tersebut;

Di kebun Jepun itu sepasang orang asing berbicara tentang daun-daun
“Alangkah sedihnya, ” kata yang perempuan “kita tak tahu nama daun dan pohon,”
hanya sebagian. Tapi kau telah membedakanku dari yang lain,
sementara kita tak bisa membedakan daun-daun ini dari yang lain, untuk suatu saat lain,”
” tapi kau bukan daun. Aku tak bisa melupakanmu”.

Puisi ini menceritakan dua orang insan yang berbeda asal kebangsaannya, dan keduanya berjumpa pada sebuah taman. Yang menarik dalam sajak ini sang perempuan berusia 37 tahun bersuami, dan yang lelaki, usia 42 tahun telah beristri. Keduanya dipertemukan pada sebuah taman (Taman Jepun di Hawai). Penyair “si aku lirik” itu terguncang dalam pengalaman hidupnya yang dianggap “konyol“, meskipun romantis.

Memang manis kedengarannya./ Mungkin romantis Mungkin lucu./ Dan terlambat/ Mereka bukan anak-anak muda dari sebuah novel/ Mereka bayang-bayang, menghitam oleh usia, mencari nyali /Dalam keramat matahari, dan akan hilang sendiri-sendiri /Bila tiba gelap/
Dan gelap juga akan tiba di kebun Jepun itu.

Sebagaimana halnya para pecinta yang ingin selalu memilih kata-kata yang diucapkan kekasihnya, ingin selalu dekat bersamanya. Kedua anak manusia itu dilukiskan penyair untuk saling “mencari nyali” dalam tempo yang sangat singkat.

Maka pada rumput tanpa nama, diteduh pohon tanpa nama, mereka duduk. Mereka ingin saling membujuk, mungkin memeluk. Tapi kemudian, cuma bersintuhan hanyu bersintuhan! Mereka takut kenangan bisa hanya beban, cinta tak ada jalan keluar, matahari hanya sebentar.

Terlepas apakah makna yang diceritakan pada puisi ini sebuah perselingkuhan awal yang pada umumnya sebagian besar melanda orang-orang yang kesepian dan jauh dari tanah air, kita tak memperbincangkannya lebih luas. Penyair hanya menyatakan bahwa “cinta tak ada jalan keluar, matahari hanya sebentar“.

Namun, pada baris terakhir puisi ini, sang penyair hanya berpesan untuk dirinya dan barangkali juga untuk pembaca:

Kita butuh fantasi, pasangan itu ingin berbisik
Tapi mereka tak berbisik :
Hanya bersintuhan sekali lagi.
Puisi ketiga bertajuk “Taman” karya penyair Chairil Anwar:
Taman punya kita berdua tak lebar luas, kecil saja
satu tak kehilangan lain dalamnya bagi kau dan aku cukuplah
Taman kembangnya tak berpuluh warna

Penyair Chairil Anwar memiliki sikap solidaritas dan lugas untuk membawa sang kekasihnya dalam nilai saling memiliki. Bagi penyair ini, cinta dapat saling berbagi meskipun keduanya menyadari mereka diciptakan berlainan jenis, tabiat, dan perilaku. Hal ini sesuai dengan hakikat penciptaan manusia yang mencari pasangannya yang telah diturunkan Tuhan YMK melalui Adam dan Hawa.

Dengan ungkapan yang menarik, Chairil mengumpamakan sepasang kekasih bagai kumbang dan kembang. Pemakaian ungkapan “kumbang” dan “kembang” sangat digemari dalam ungkapan masyarakat Melayu. Pada acara peminangan yang dilakukan oleh juru bicara (telangkai), sering kata-kata “kumbang“, dan “kembang” ini mewarnai percakapan secara berpantun.

Pada pantun Melayu dikatakan: Taman larangan kembang bestari/harum baunya batang berduri/kalau datang kumbang sejati/silakan petik awaskan duri.

Puisi “Taman” karya Chairil Anwar pastilah diilhami dari pantun Melayu. Hal ini tak mengherankan karena Chairil yang lahir dan tinggal di Medan sebelum ke Jakarta pernah bergaul dan memahami resam adat Melayu Deli. Oleh karena resam Melayu Deli dianut sebagian besar masyarakat yang mendiami kota Medan.

Penyair Chairil yang terpengaruh pada pantun Melayu Deli Medan itu dapat dibaca berikut ini: dalam taman punya berdua /Kau kembang, aku kumbang /Aku kumbang, kau kembang kecil, penuh surya taman kita/ tempat merenggut dari dunia dan ‘nusia

Hal ini membuktikan tradisi puisi lama (Penyair Chairil yang terpengaruh pada pantun Melayu Deli Medan itu dapat dibaca berikut ini: dalam taman punya berdua /Kau kembang, aku kumbang /Aku kumbang, kau kembang kecil, penuh surya taman kita/ tempat merenggut dari dunia dan ‘nusia antun) adalah sebagai akar dan mekar pada puisi modern Indonesia.

Penyair Sitor Situmorang mengakui ia banyak belajar dengan sejumlah pidato adat dan upacara leluhur budaya Batak. Sitor juga memuji betapa sastra Melayu lama banyak berjasa dalam pengembangan dan pembinaan bahasa dan sastra Indonesia. Sejumlah sumber khazanah sastra leluhur itu banyak mempengaruhi dirinya dalam bersastra dan terutama membuat puisi. (Ceramah Sitor di Balai Bahasa Medan, 2006).

Sitor pernah menulis puisi “Gadis Itali” yang bernada pantun Melayu di bawah ini.
Kerling danau di pagi hari /Lonceng gereja bukit Itali/ Andai abang tak kembali /Adik menunggu sampai mati /Batu tandus di kebun anggur /Pasir teduh di bawah nyiur/ Abang lenyap hatiku hancur.

Demikian pembicaraan yang sederhana tentang hubungan erat yang saling mempengaruhi dalam latar dan lokasi puisi berdasar pada empat buah puisi. dalam pengalaman tiga penyair yang berbeda angkatan dan usia. Bagi kita puisi ini telah membuktikan bahwa “the power and the beauty of language”kekuatan keindahan bahasa puisi tetap bermakna bagi pembaca.*

*Penulis dosen dan sastrawan tinggal di Medan

Comments (0)
Add Comment