Tokoh penyair Banda Aceh ini lama saya kenal dalam panggung puisi sastra Koran di Sumatra Utara. Tulisannya dalam bentuk puisi lebih banyak bertaburan dalam Koran Medan (Waspada, Analisa dan Mimbar Umum) dan terutama Koran Aceh.
Penyair Din Saja (nama penanya) telah menghiasi taman sari sastra Indonesia berdampingan dengan penyair Aceh terkemuka seperti LK Ara, Basyeri Budiman, Salman Yoga dan lain-lain.
Ada tiga pertemuan yang pernah kami lakukan secara tak dijanjikan. Pertama pada acara Munsi (2015), kedua pada acara Penghargaan Sastra Badan Bahasa (2023) kepada para penyair Indonesia yang usianya secara berjenjang (50 tahun) dan (70 Tahun) yang dilaksanakan di Hotel Sultan Senayan Jakarta.
Pertemuan ketiga ialah pada PPN XIV Tahun 2026 di Banda Aceh. Pada kali ini saya lebih banyak berdialog dan bersama memriahkan ‘seleberasi puisi ‘ dengan kegiatan pertemuan penyair Nusantara ini di tiga kota di provinsi Aceh.Pertama di Takengon, kedua di Bieruen, dan ketiga di Jantho (kampus USBI).
Beberapa puisinya yang penah dimuat (Bali Politika) diantaranya saya pilih sebuah puisi yang menarik untuk dibicarakan .
Penyair Din menyampaikan ‘maklumat puisi’ kepada pembaca dalam puisi “Aku Kau Dia”
Jadilah buta huruf
Agar Tuhan dapat menampakkan hikmah-Nya
Lihatlah, tapi jangan dituliskan
Seribu cahaya berbinar-binar
Akulah besi
Engkau api
Akulah api
Engkau air
Akulah hidup
Engkau penggerak
Akulah bergerak mencari-Mu
Aku dihukum
Karena aku ada
……………..
Aku berpikir
Karena itu aku takluk
Penyair Minang kelahiran Aceh ini sangat bijak memainkan gaya paradoks untuk mepertegaskan posisi Sang Khalik dan hamba ( sang insan) yang tak berdaya di hadapan Tuhan Yang Maha Perkasa.
Penyair Din berseru: Jadilah buta huruf/ agar Tuhan menampakkan hikmah-Nya. Renungan spiritual ini mengajak pembaca untuk menyadari ketidakberdayaan sang hamba di hadapan Allah.Yang mengajari manusia dengan kalam-Nya.
Ketidakmapuan manusia membaca tanda-tanda kebesaran Allah tak ubahnya orang yang ‘buta huruf’ ,bodoh dan bisu . Seperti sepotong puisi Sutardji Calzoum Bachri yang menyerah dan memberi pengakuan mistikal yakni .’alif bataku tak sampai sebatas Allah’. (Horison, 2012)
Penyair Din tak kuasa menahan dirinya untuk menyampaikan ‘penyerahan mistikal ‘itu dengan baris-baris puisi nya:
“Susah itu tergantung hati menyikapinya.
Agar hati tidak gelisah, kesusahan itu datangnya dari Allah, mungkin sebagai ujian dan cobaan atau sebagai ingatan, Kekuatan doa pada akal pikiran.
Sikap penyair yang pada mulanya membungkus kalimat-kalimat relegi dengan gaya paradoksal akhirnya mencair dengan pernyataan khotbah muhasabah yakni menyampaikan makna puisinya secara terang benderang.
Pada bait tertentu ia menyampaikan secara lantang: Aku berpikir/maka aku takluk/
Pernyataan ini meminjam gaya filosofi Yunani, ”Aku berpikir/maka aku ada.
Penyair Din saja meneruskan renungan filosof Yunani dari jenjang ‘berpikir maka aku ada’ menjadi naik ke tingkat renungan ritual,’ Aku berpikir/maka aku takluk.
Pernyataan relegiusitas ‘aku berpikir/maka aku takluk/ adalah pencerminan anjuran Al Quran bahwa ‘agama itu adalah akal’
Betapa banyak imbauan dan perintah untuk berpikir dan memikirkan meskpun sejenak’think for a moment’ dalam kitab suci Al Quran. Dalam kasus ini penyair Din Saja telah sampai dalam batas makrifatullah-nya merenangi dan merenungi kekuasaan Allah dalam sejumlah ayat al Quran.
Medan, 11 Juli 2026
Penulis Ketua Satupena Sumatra Utara