Lailahaillallah, Catatan Bangsa Yang Resah: Puisi Mas Sitti Sya

Lailahaillallah
Pucat rembulan telah tenggelamkan terang
Mengebat tangis pinta para perangkai doa-doa
Lirihnya tersangkut di liang malam
Saat semua terlelap dalam mimpi dan asa di sepertiga
Para malaikat mendekat membisiki jiwa-jiwa resah
Membasuh kesedihan dan ratapan luka tak berdarah
Bersimpuh pinta dalam sembah
Air mata bersimbah di atas sajadah basah
Peti-peti jenazah berarak tak sudah-sudah
Wabah telah membawa musibah
Lailahaillallah, jangan biarkan kami pasrah dan patah tanpa langkah

Lailahaillallah
Semesta masih bertasbih menguntai doa tanpa suara
Benih-benih resah menjelma senantiasa
Memilin gundah yang meraja di jiwa nelangsa
Tersebab petaka yang tak henti menyapa
Tersebab wabah yang menguasai mayapada
Mencekam dan membinasakan
Akankah segala peristiwa sebagai tanda?
Mampukah kami membaca tanda-tanda?
Lailahaillallah, ampuni kami atas segala dosa
Alpa diri masih berkuasa hingga tegur sapa-Mu tak jua dirasa

Lailahaillallah,
Kami membaca pesan kematian terpahat di jalan-jalan
Di rumah-rumah, di terminal, di pelabuhan,
Di bangsal-bangsal, di tandu-tandu, dan di mana-mana
Sesuka-suka menebarkan benih-benih duka lara
Kami mendengar sangkakala berdentang-dentang
Senandung ajal yang sengaja Kau perdengarkan
Dari tangis ibu yang kehilangan anaknya
Dari isak istri yang kehilangan suaminya
Dari sedu sedan suami yang kehilangan anak dan istrinya
Dari ratapan anak yang kehilangan ayah bundanya
Lailahaillallah,
Benarkah virus datang menghunus?
Benarkah pandemi datang membelati?
Tanya membuncah berbalut kecewa
Ketakutan meraja tertutup prasangka buta
Keluh kesah tak berjeda entah kepada siapa
Hanya kepada-Mu kami menghiba dan berpinta.
Sumpah serapah dan hujat sudah terbiasa
Tapi hanya pelampiasan saja. Hanya bergema
Bait-bait satire dikabarkan, tapi sengaja dikaburkan
Di tanah kelahiran pesan-pesan samar itu masih terbaca
Akankah kematian hari ini adalah rahasia hari kemarin?
Kami hanya sanggup bertanya-tanya
Dan mulai paham membaca fakta-fakta

Lailahaillallah,
basuhlah hati yang resah
Bisikkan ayat-ayatmu agar pintu hijrah terdedah
Bagi mereka yang salah melangkah
Bagi mereka yang mereka-reka dalih menghadirkan perih
Pinta dilangitkan bersengaja
Doa-doa dilejitkan di antara butir-butir takdir yang kuasa
Seberapa bisa. Sesanggup jiwa di sela-sela duka lara

Allahu akbar
Allahu akbar
Allahu akbar

Terkuaklah pintu langit-Mu agar terbentang jembatan cahaya setegak alif-Mu
Menancaplah di pusat bumi agar kami bisa berpegangan menitinya,
Menaikinya menuju arah hingga tiba di pangkuan-Mu
Izinkan kami melambaikan pinta dalam air mata yang asin di bibir pasi
Buat kami cerdas memaknai simbol-simbol yang Kau kirim
Agar kami bisa membaca pesan-pesan yang Kau turunkan
Hingga tak ragu kami menatap kematian dan tak lagi meraba dalam kegelapan
Lailahaillallah. Lailahaillallah. Lailahaillallah. Allah hu akbar.

Pekanbaru, 26 Juli 2021

Comments (0)
Add Comment