Lamentasi Agustus: Puisi Marina Novianti

entah mengapa, setiap agustus
aku mendadak lupa cara bernyanyi
kucoba menaikkan suara
tapi tercekik lidah sendiri

mungkin harus kutenggak sampah sungai deli
untuk redakan gemuruh banjir abadi
di kota ini

mungkin harus kusedot polusi udara
sebagai terapi pengganti gas melon langka
penyebab histeria rumah tangga

mungkin harus kumamah beras sejahtera
varian kutu jamur, porsi kaum sengsara
agar lentur pita suara yang kebas
sekebas nasib para buruh
diremas aturan manajemen yang embuh

atau harus kusayat-sayat
leher jiwa meradang sekarat
akibat terlalu banyak menelan
janji-janji pemimpin tentang keadilan
yang melulu khayalan

aduh! bagaimana ini?
padahal aku hendak bernyanyi,
”satu dosa, satu luka, satu celaka kita!
tanah air sakit parah, indonesiaku nazak!”

sebab tanah ini merah basah darah
dan air mata anak bangsa tertumpah
udara ini putih keruh dempul para pemimpin
yang sibuk menyamarkan koreng wajah

: merah putih berkibar gemetar di negeri ini!

bagaimana cara bernyanyi?
tolong, ajari aku lagi!
nanti kubayar dengan bansos
yang jarang mampir di rumah si miskin
atau kartu prakerja
yang pengurusannya bikin panas dingin

aku mau bernyanyi sebelum agustus berlalu,
dan merah putih terlipat lusuh di tumpukan baju kumuh
nirmampu menutupi seribu malu
pilu bangsaku

MN, Agustus

Marina Novianti adalah penulis puisi, lahir dan tinggal di Medan kini masih bertugas sebagai guru. Puisinya pernah dimuat di majalah sastra Horison, Jakarta.

Comments (0)
Add Comment