Pengantar:
Beberapa hari yang lalu, saya menerima sebuah buku puisi, yang ditulis oleh penulis perempuan yang guru dan merupakan guru senior yaitu Sri Tresnowati (Jakarta). Buku puisi berjudul Rendaan Mimpi (berisi 46 puisi, 94 halaman, penerbit Yayasan Halaman Yuan Publishing, Tahun 2024). Berikut ini ulasan saya untuk buku Rendaan Mimpi.
(1)
Seandainya anda bertanya pada pemilik toko buku, buku apakah yang paling laris di toko ini? Maka umumnya pemilik toko akan menjawab buku novel, buku politik, atau lainnya. Buku puisi, termasuk jarang masuk kategori buku yang dibeli dan dicari masyarakat kita. Namun, mengapa buku puisi selalu ditulis dan diterbitkan? Bahkan sebuah festival sastra di Tanjung Pinang, sejak 2023 yang lalu, membuat syarat bahwa untuk mengikuti acar festival iu haruslah mempunyai buku puisi tunggal. Di Indonesia umumnya, para penulis puisi menerbitkan puisinya sendiri dengan dana sendiri dan dicetak atau diterbitkan oleh sebuah usaha penerbitan, termasuk pengurusan ISBN nya. Umumnya juga buku puisi itu digunakan untuk ajang silaturrahmi dan saling tukar cendera mata. Sebagian buku yang diterbitkan, juga dipasarkan dalam acara-acara sastra, dan peminatnya tetap ada. Apalagi bila buku puisi itu ditulis oleh penyair ternama. Seorang satrawan dari Riau, Fakhrunnas MA Jabbar, pernah menulis sebuah artikel di sebuah koran harian, yang berjudul Apa Yang Kau Cari Penyair? Isinya antara lain mengungkapkan kegilaan seorang penyair untuk menulis puisi, menerbitkan buku puisi, yang ia terbitkan sendiri dengan dana sendiri, dan tidak berharap apa-apa dari penjualan buku puisinya itu. Laku atau tidak, bukan merupakan persoalan yang mengganggu mimpi-mimpinya untuk terus menulis puisi. Bahkan untuk menghadiri sebuah pertemuan penyair, di Tanjung Pinang, seorang pemimpi, rela melakukan perjalanan darat, dari ujung timur pulau Jawa, sampai ke kota Pekanbaru, dan kemudian baru menyeberang ke Batam dan melanjutkan perjalanan Pulau Bintan, Tanjung Pinang. Luar biasa! Apakah sang pemimpi itu menerima dana sponsor dari pak Lurah, Pak Camat, atau pak Kadis?
(2)
Dunia puisi, dunia penyair, memang dunia yang penuh menyimpan banyak tandatanya. Komunitas seni sastra terus tumbuh dan berkembang. Bahkan gerakan untuk membangun sebuah gerakan literasi, kini merambah ke dunia pendidikan melalui jalur guru dan anak-anak didiknya. Janganlah heran bilamana menulis karya sastra seperti puisi, pantun, syair, gurindam ternyata memperoleh respon yang menggembirakan. Bahkan perjalanan wisata plus kegiatan pembacaan puisi dan penciptaan puisi, banyak menarik peminat. Menggabungkan dua kegiatan yaitu wisata dan puisi, adalah sebuah langkah yang cerdas. Tentu saja mereka yang terlibat disini harus rela menyisihkan dana untuk mendukung terwujudnya mimpi-mimpi itu: sebagai pencinta puisi dan sebagai wisatawan. Perkumpulan Rumah Seni Asnur, telah berhasil menggabungkan dua kegiatan itu, lewat program wisata puisi Turki, Juni 2023 yang lalu, selama 10 hari perjalanan. Pembacaan puisi di sejumlah tempat wisata di Turki: Busra, Eusopius, Blue Mosque, Hagia Sopia, Selat Bosporus, Konya, Capadokia, Museum Kemal Attaturk, tentu saja memberi nilai lebih dan tak mudah untuk dilupakan. Ternyata puisi telah memberikan warna kehidupan tersendiri bagi para pencintanya.
(3)
Bila dibaca data sastrawan di negeri ini, maka dikenal sejumlah sastrawan wanita. Antara lain Sariamin Ismail (Selasih/Selaguri) yang menulis sejumlah novel di masa penjajahan. Ketika masa kemerdekaan, tentu lebih banyak lagi. Penyair wanita pun semakin lama semakin banyak. Karya-karya mereka terus tumbuh. Sebaran daerah asal mereka pun hampir merata ke semua daerah di Indonesia. Namun bila dilihat dari sastrawan wanita yang menerima anugerah, memang belum sebanding dengan kaum pria. Di Malaysia, anugerah sebagai sastrawan negara yang merupakan anugerah paling bergengsi, ternyata baru dianugerahkan kepada sastrawan wanita pada kali ke 13, dimana Dr. Zurinah Hasan sebagai penerimanya, Sebelumnya seluruhnya laki-laki. Pada Tahun 2019, kembali sastrawan wanita Siti Zainon Ismail menerima anugerah itu. Kejadian yang serupa hal itu terjadi di Riau. Anugerah Sagang, sebuah penrghargaan tahunan bergengsi di bidang sastra budaya, dimulai sejak 1996. Sampai penghargaan ke 22, Tahun 2017, penerimanya selalu laki-laki. Baru kemudian pada Tahun 2019, muncullah Kunni Masrohanti sebagai wanita satu-satunya. Mengapa? Karena setelah Tahun 2019, Yayasan Sagang tidak lagi sanggup untuk melanjutkan untuk memberikan penghargaan di bidang sastra budaya. Uraian di atas, sedikit banyak menggambarkan dominasi laki-laki atas wanita dalam hal penghargaan di bidang sastra.
(4)
Sri Tresnowati adalah seorang guru bahasa Indonesia, di sebuah sekolah menengah, SMPN 34 Jakarta, kelahiran Brebes, 1965, lulusan S1 jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Jakarta (UNJ), kemudian S2 UNINDRA (Universitas Indraprasta, Jakarta) Tahun 2013. Menggemari puisi dan karya sastra lainnya. Berhimpun dengan Perkumpulan Rumah Seni ASNUR sejak beberapa tahun yang lalu. Puisinya terhimpun dalam buku antologi puisi bersama antara lain : Buka Jendela, Kumpulan Pantun, Nasihat Guru untuk Murid, Kumpulan Pantun Nasihat, Kumpulan Pantun Mutiara Mutiara Budaya Indonesia, Doa Untuk Turki (2023), Antologi Puisi Ramadhan, Gurindam Kalbu, Syair untuk Negeri (2023). Keikut sertaan Sri pada sejumlah kegiatan sastra, tentunya karena panggilan hati dan sebagai usahanya untuk mewujudkan mimpi-mimpi sebagai seorang penulis. Menulis puisi baginya merupakan luapan ekpressi keprihatinan, kegelisahan, harapan, atau bisa juga kritik atas sesuatu yang dia anggap sebagai kezaliman atau ketidak adilan. Walaupun demikian, sebagai seorang guru Sri selalu lebih mendahulukan kearifan dan kelembutan layaknya seorang wanita. Coba kita perhatikan salah satu penggalan puisinya yang berjudul PUISI PAGI.
Aku jatuh cinta pada pagi hari di kotaku/awan baru menyeruak langit/bersenda gurau dengan sang mentari/yang mulai menampakkan wajah cantiknya/
Rangkaian doa mengawali hidup pagi ini/hariku diwarnai relung kehidupan /membiaskan warna cerah/
Pagi melecut berpadu siang/kutanggalkan sebagian siangku/untuk bersua dengaan MU/menyapa takdir baikku/
Senja membiaskan warna jingga/aku khawatir akan ada lagikah/pertemuan dengan pagiku?/kuketuk pintu langit/merayuMU tiada henti/
Dalam buku puisi tunggalnya yang pertama ini, RENDAAN MIMPI, yang berisi sekitar 45 buah puisi, memanglah gaya bahasa yang ditunjukkan oleh Sri, ber gaya seorang guru yang mumpuni, yang bijaksana. Bahasa yang digunakan cukup menenangkan. Lihatlah dalam puisi yang berjudul BIDUK CINTA, Sri menulis sebagai berikut :
Jalinan kasih terhalang jarak/Rindu dirajut bentangan kain/Cinta direnda semasa muda/Waktu jualah yang memisahkan/
Biduk dikayuh ke tepi samudera/ketika cinta berlabuh di dermaga asing/tambatan hati pergi menjauh/ rindu dendam takkan putus/
Setiap kata yang ditulis oleh seorang penyair, dan setiap baris yang telah tersusun, tentu saja menyimpan banyak makna. Apakah dalam hal ini Sri sedang dalam keadaan murung atau sebaliknya, para pembaca tentu saja bebas memberi penilaian. Bilamana pembaca menilai bahwa penyairnya terkesan sedang murung, sedangkan bagi si penyair, menyatakan sebaliknya, maka disinilah letaknya kebebasan untuk menilai. Puisi begitu disebar ke dunia maya atau ke ranah publik, maka dia sudah menjadi milik publik. Boleh saja publik keliru atau tak tepat dalam menafsirkan puisi itu.
Demikian juga dengan puisi JANUARI BIRU, dimana Sri masih bermain cinta dengan dermaga, rindu, gugur, balik arah.
Dermaga cintapun jadi penantian/penantian berujung duka/kapal yang dinanti tak pernah berlabuh/sang nakhoda berbalik arah/mencari dermaga baru/ dermaga semua tambatan sesaat/
Membaca tema-tema puisi yang ditulis oleh Sri, bolehlah Saya teringat pada sejumlah puisi-puisi yang ditulis oleh penyair besar WS`Rendra di tahun 1950 an, yang banyak menulis puisi-puisi romantis. Dalam buku puisi Empat Kumpulan Sajak (Kakawin Kawin, Malam Stanza, Nyanyian Dari Jalanan,Saak-sajak dua belas Perak), diterbitkan oleh Pustaka Jaya Jakarta Tahun 1961, ia menulis begini :
Kutulis surat ini/kala langit menangis/dan dua ekor belibis/bercintaan dalam kolam/bagai dua anak nakal/jenaka dan manis/mengibaskan ekornya/ serta menggetarkan bulu-bulunya/ wahai Dik Narti/ kupinang kau menjadi isteriku!/
(Surat Cinta}
Kami duduk berdua/di bangku halaman rumahnya/pohon jambu di halaman itu/berbuah dengan lebatnya/dan kami senang memandangnya/angin yang lewat/memainkan daun yang berguguran/tiba-tiba ia bertanya/mengapa sebuah kancing bajumu lepas terbuka?/aku hanya tertawa/lalu ia sematkan dengan mesra/sebuah peniti menutup bajuku/sementara itu/aku bersihkan/guguran bunga jambu/ yang mengotori rambutnya/
(EPISODE)
Untuk para pembaca, silakan menikmati buku RENDAAN MIMPI dari Sri Tresnowati ini. Tentu saja anda semua akan memasuki mimpi-mimpi yang dipilih dengan manisnya oleh seorang guru, yang penyair, yang penyuka pengembaraan, yang matang dan tentu saja penuh bijaksana.
Pekanbaru, 2024
HUSNU ABADI adalah seorang Deklarator Hari Puisi Indonesia, di Pekanbaru, November 2012, Penerima: Z. Asikin Kusumaatmaja Award dari PPBHI Pimpinan Prof. Dr. Erman Rajagukguk (2014); Penghargaan Sastrawan Budayawan Pilihan Sagang (2015); Penghargaan Sastrawan Budayawan Sanggar LDT UIR (2005): Penghargaan MA’RIFAT MARJANI dari APHTN Wilayah Riau (2022). Buku puisi: Lautan Kabut ( UIR Press, 1998); Lautan Melaka (UIR Press, 2002); Lautan Zikir (UIR Press 2004); Lautan Taj Mahal (Salmah Publishing, 2021), Ketika Riau, Aku Tak Mungkin Melupakan Mu (UIR Press, 2004) dan Leksikon Sastra Riau (UIR PRESS-BKKI RIAU, 2010). Lahir di Majenang, 1950, memperoleh gelar SH (UIR), M.Hum (Unpad) dan Ph.D. (UUM Malaysia) dan kini sebagai Associated Professor bidang Hukum pada Program Pascasarjana UIR dan PMIH UNRI (2014-2024)