Menjelang HUT ke 81 Kemerdekaan Indonesia, saya teringat puisi Chairil Anwar bertajuk “Diponegoro”.
Di masa pembangunan ini
Tuan hidup kembali
Tak gentar menghadapi musuh beratus kali
Pedang di kanan keris di kiri
Berselempang maju tak takut mati
Puisi itu memiliki amanat rakyat dengan merujuk tokoh pahlawan Diponegoro yang diceritakan menentang kekuasaan kolonial Belanda di pulau Jawa. Pada baris puisi itu selanjutnya mendukung pemimpin politik negara yakni: menjaga Bung Karno/menjaga Bung Hatta/menjaga Bung Syahrir
Chairil Anwar mampu merasakan denyut rakyat yang kompak mendukung pemimpinnya menenatang kekuasaan kolonial .Konsekuensi dari penentangan itu rakyat rela mempersenjatai dirinya dengan keris dan pedang sebagai bentuk perlawanan .
Seorang penyair pesohor menulis dalam twitternya, “Seribu puisi tidak akan bisa berantas korupsi. Paling-paling cuma nenyeru berteriak mengaduh. Korupsi hanya bisa diperangi dengan aksi.“(GM)
Secara tegas ia menyatakan korupsi tidak bisa dilawan dengan korupsi. Penyair Sutardji pernah mengakui hal ini ketika ia menulis, puisi ‘tidak memiliki panser‘ untuk menekan pihak berkuasa. Puisi hanya mampu ‘membudayakan’ masyarakat dengan pena nya dan mengajak masyarakat berpartisipasi menggunakan wacana untuk menegakkan keadilan dan kebenaran. Penegakkan keadilan dan kebenran itu tidak secepat hasil yang diharapkan.
Puisi tidak sama dengan cara membudidayakan ikan di kolam yang sekian bulan hasilnya dapat diambil dan dihasilkan. Barangkali beberapa jalan alternatif dapat disampaikan. Kalau mau lebih puitis, kita membuat nada optimis agar nafasnya bisa menusuk kalbu dan hati nurani. Mungkinkah saatnya berhenti berpuisi? Kita baca rangkaian kata-kata dalam puisi di bawah ini:
Seribu puisi telah kutulis di dinding waktu
Tentang maling berdasi, tentang perut rakyat yang retak
Tentang janji yang menguap seperti asap kemenyan
Tentang “merdeka” yang masih diangsur cicilan
Tapi lihatlah !
Gedung tetap megah dibangun dari keringat yang dicuri
Bansos tetap dipotong sebelum sampai ke meja
Hukum tetap tumpul ke atas, tajam ke rumput
Seribu puisi, ya…
Paling-paling hanya jadi teriakan wacana
Paling-paling hanya jadi aduh yang menggema
Lalu senyap . Lalu lupa !
Karena korupsi,
Ia tidak takut pada bait dan rima
Ia tidak gemetar mendengar sajak
Yang ia takut hanya satu:
borgol. Penjara. Aset disita.
rakyat yang tidak lagi diam.
81 tahun kita merdeka
Cukup!
Saatnya tinta kita ubah jadi langkah
Saatnya sorak kita ubah jadi kawal
Saatnya marah kita ubah jadi aksi
Aksi diri:
Menolak amplop. Menolak suap.
Menjadi guru yang tidak menjual nilai
Menjadi pegawai yang tidak menjual stempel
kotak amal, bukan cuma mengisi
tapi mengawasi
Aksi untuk negara:
Menuntut hukum yang tulus
bukan mengelus
sistem yang terang,
bukan gelap komisi tembelang
Wahai Ibu Pertiwi di usia 81 ini
Anakmu sudah terlalu lama berpuisi
Kini saatnya anakmu berjuang
Bukan dengan kata
tapi dengan perbuatan
Merah darah syuhada, putih kain kafan
Jangan lagi nodai dengan tangan serakah
Di usia 81 tahun merdeka
Biar dunia tahu:
Indonesia bebas korupsi
bukan hanya pandai berpuisi
Dirgahayu Indonesiaku
Mari mengepalkan aksi.
Demi ibu pertiwi!
Penyair Indonesia Hevi Tiana Rosa ( kelahiran Medan) menutup tulisan ini degan baris-baris puisinya
Dan jika suatu hari
anak-anak bertanya:
“Mengapa negara ini tidak maju-maju?”
Jangan beri mereka jawaban rumit.
Jangan salahkan sejarah.
Jangan salahkan penjajah.
Jangan salahkan rakyat.
Tunjukkan saja foto-foto para koruptor.
Lalu katakan: “Itulah para patriot
yang setiap saat berusaha
membawa banyak pihak ke masa depan.
Hanya saja,
mereka lupa mengajak
Indonesia.”
Jakarta, 2025
**Medio Juli 2026