Menaklukkan Angin Di Ngeri Oman: Puisi Tantri Subekti

Sembari waktu bermandikan air hidangan sop
Menampakkan cerita tentang bayangan
Silau …mengelabui mataku untuk menatapnya
Hingga aku kehilangan ragaku untuk menyapamu ,,,

Aku sedang bertamu pada tembok lepas
Menyapu jalanan yang terparkir dalam sebidang mata yang kutangkap lewat mata telanjang
Tiap detiknya Kota Oman tanpa pejalan kaki, parkiran pedagang kaki lima atau para
petani yang memintal ladang kapas atau para pedagang yang menjajakan dagangannya dengan teriakan
Atau para orang berdasi yang melepas waktunya menuju kantor-kontor putih rapi

Ya tak ku.lihat itu

Awan, alam pohon terasa terdiam
Batu kerikilpun terasa memasung waktu tak sempat melukai kakiku

Tarikan kertas, sampah plastik pun serasa jinak,
Tak menyudahi untuk kusingahi

Aku seperti memandang negri permadani tanpa angin
Bersih tanpa embun …
Terang tanpa awan …
Megah tanpa tiang …
Tak seperti negriku yang luluh lantah suara kendaraan bis, kereta api selalu bermekaran di setiap gunungan awan
Hingga suara tawa kadang menyelip di setiap peluit bunyi kereta api

Terbayang waktuku
Yang menaruh tajam
Untuk menggulai rendang dalam semalam hanya mengantarkan selera lidah dipermukaan yang tak tampak di negri Oman yang basah menelan harapan

Senja angin malam itu berderma
Dalam diam kantukku yang aku kantongi hingga semalaman
Biar ku bisa menggambar tentang tatapanmu yang tak berkawan dengan hal yang nyata ,,,,

Biar malam ini aku simak
Tentang pelarianmu menaklukan angin di negri Oman

Agar tak terjamah lagi tentang raguku yang melebur dinding-dinding diam
Mengusir bahasaku yang termaknai … kaku

Oman, Juli 2023

Comments (0)
Add Comment