Mitos dalam Sastra, Balada Sebagai Penawar Sastra: Catatan Shafwan Hadi Umry

Balada (puisi bercerita) merupakan kesinambungan oleh pihak yang bermula dilakukan oleh tukang-tukang kisah yang pernah populer di hati masyarakat tradisional yang merajai kesusasteraan lisan. Kita bisa melihat peranan pawang dan pelipur lara di masyarakat Melayu, tukang kentrung di tanah Jawa ataupun tukang kaba di Minangkabau. Tukang-tukang kisah ini merupakan figur yang dipunyai masyarakat lama dan banyak memberikan sumbangan kepada perbendaharaan sastra lisan.

Dalam masyarakat tradisional, sastra mendapat naungan istana dan golongan bangsawan. Namun, akibat perubahan sosial dan zaman, naungan itu terhapus. Akibatnya sastra perlu mencari naungan baru dan berusaha mencari hidupnya sendiri. Masuknya pengaruh Barat dengan membawa perangkat teknologi modern dan alam pikiran baru mengakibatkan hilangnya sastra lisan yang dituturkan.

Sastra lisan bukan saja kehilangan maesenas-sang pengayom- dan khalayaknya, akan tetap fungsinya juga sudah tidak bisa bertahan lagi dalam masyarakat yang mengalami perubahan. Masyarakat lambat-laun menyadari, bahwa kata-kata yang dituturkan secara lisan tidak akan mampu bersaing dengan media online yang merekam segala macam keajaiban teknologi.

Bentuk-bentuk syair dan pantun makin lama makin kehilangan pesonanya. Tema-tema kehidupan masyarakat baru tampil dalam karva pengarang Indonesia. Demikian juga fantasi yang demikian hidup dalam dongeng-dongeng tetap dihargai sepanjang dongeng itu memperlihatkan tentang kehidupan paedagogis dan penanaman karakter orang-orang baik dalam suatu masyarakat dengan segala sikap dan tanggungjawabnya.

Lahirlah sajak-sajak dalam bentuk balada yang menggambarkan potret dan tingkah laku manusia dengan segala kebesaran dan problemanya, atau dengan segala tragedi dan ambisinya.

Munculnya penyair Amir Hamzah yang mengetengahkan kisah kepahlawanan Hang Tuah seorang tokoh legendaris di tanah Melayu. Beberapa kurun waktu kemudian penyair WS Rendra mencoba menampilkan folklor-folklor baru dalam sajak-sajaknya yang terhimpun dalam “Balada Orang-orang Tercinta“. Percobaan yang dilakukan Ayip Rosidi yang memasukkan tragedi dan legenda yang hidup dalam masyarakat Sunda ataupun Mansur Samin yang menampilkan hikayat dan cerita rakyat dari subkultur daerah Batak di Sumatra Utara.

Pola Cerita kolektif
Penyair terbesar sebelum Chairil Anwar ialah Amir Hamzah. Ia merupakan tokoh yang dihormati oleh karena kharisma kepenyiarannya. Tokoh yang pernah digelari “Raja Penyair Pujangga Baru‘ ini menampilkan kisah heroisme seorang pahlawan Melayu dalam menentang dominasi asing sang penjajah. Sajak yang mengisahkan pahlawan Melayu ini disusun dalam bentuk cerita oleh Amir Hamzah dan kisah ini menggambarkan Hang Tuah akhirnya gugur dalam pertempuran dengan Portugis.

Dalam beberapa bait sajaknya penyair bercerita; Hang Tuah empat berkawan/serangnya hebat tiada terttahan/cucuk Peringgi menarik layar/induk dicari tempat terhindar/Angkatan besar maju segara mendapatkan pajar ratu Malaka/Perang ramai berlipat ganda/Pencalang berai tempat ke segara/dang Gubernur memasang lela/Umpama Guntur diterang cuaca/Peluru terbang menuju bahtera/laksamana dijulang ke dalam segara.

Berbeda dalam sajak Hang Tuah di atas penyair Amir Hamzah pernah menampilkan corak kehidupan rakyat dengan segala keresahan dan kemelaratan. Sajak “Batu Belah” sebuah ungkapan cerita rakyat tradisional yang komunal. (menjadi milik masyarakat) secara turun-temurun melukiskan seorang ibu yang frustrasi melihat tingkah laku anaknya yang tidak tahu “tidak ada“. Kemiskinan adalah beban yang menyiksa dan konon “Batu Belah” adalah batu yang menunggu mangsa untuk menelan manusia.

Anak lasak mengisak panjang/menjabak meronta penggulung diri/ kasihan ibu berhancur hati/lemah jiwa karena cinta/rang… rang… rangkup/rang… rang… rangkup/batubelah batu bertangkup/negeri berbunyi berganda kali/Lompat ibu ke mulut batu/Besar terbuka menunggu mangsa/Tutup dikatup mulut ternganga/Berderak-derak tulang-belulang /Tiba dara kecil sendu/Menangis perih mencari ibu/terlihat cerah darah merah/mengerti hati bunda tiada/(Nyanyi Sunyi).

Dalam sastra Melayu Lama sebuah syair menjadi permainan suatu alat atau bentuk keterlibatan yang berkaitan dari masalah psikologikal yang sedang dihadapi penyair. Moh. Haji Salleh (2000:56) menerangkan. “hari ini teknik dan prinsip yang sama digunakan di rumah sakit jiwa dan di kelas-kelas pesakit dan pelajar yang bermasalah dengan cara mengarang atau melukis, penyakit seseorang dapat disembuhkan“.

Para pengarang Melayu telah lama menyadari sifat penawar sastra untuk pengarang dan pembacanya. Pendengar mendapat penawar melalui cerita pantun, dan syair. Malah istilah “pelipur lara” itu sendiri mendefenisikan sebagai tukang cerita. Tampaknya dari awal lagi sastra Melayu melihat tugas khusus dan psikologikal karya sastra yang sedih dihibur oleh sastra: yang sedih dan rawan dapat diobat dengan kata-kata. Cukup menarik juga yang diobati bukan saja pendengar, tetapi pengarang yang dapat menghibur dirinya melalui penceritaan dan tidak lupa juga sewaktu mengarang ceritanya. Baris-baris syair sering memberi tugas untuk menghibur hati yang rawan dan nestapa. Terdapat beberapa cara bagaimana hiburan ini dimanifestasikan.

Tugas sastra juga membina dan melestarikan bahasa supaya keadaan dan masalah serta pengetahuan manusia dapat dibincangkan setiap waktu. Selain itu, persoalan yang lebih mustahak seperti jejak Ketuhanan, falsafah dan jati diri manusia dan bangsa, memerlukan estetika tulisan yang lentur serta indah.

Timbul pertanyaan mengapa bahasa begitu penting dalam dunia sastra? Untuk menjawab itu Salleh (2000) menguraikan, “pengetahuan-dan pengalaman pengetahuan itu terjamin paras tamadum sesuatu bangsa. Sebuah tamadun yang kukuh selalu mempertingkatkan dirinya, membangun dengan ilmu yang sudah dicapai oleh masyarakatnya. Oleh itu kecanggihan bahasa harus selaras dengan kecanggihan masyarakat dan pemikirannya” (2000:68). Dalam sastra lama banyak contoh bagaimana ucapan bermakna memliki pelbagai wajah dan sifatnya. Misalnya bahasa mantera misterius pada zaman tamadun Melayu, berubah menjadi bahasa pantun yang tersirat dalam ibarat dan lambang.

Kesimpulan
Berdasarkan sejumlah literasi sastra yang berbasis budaya lokal khususnya bersifat kedaerahan ternyata akar kultural kelokalan itu telah menjadi insipirasi dan imajinasi bagi para pengarang Indonesia untuk menuliskan karyanya.

Sastra lokal yang kaya dengan balada (puisi bercerita) seharusnya diangkat kembali dalam sastra tiktok, sastra facebook dan intagram berbassis online sebagai pemerkaya sastra mutakhor Indonesia modern. Sastra balada dalam perjalanannya dewasa seharusnya lebih gencar lagi mengangkat narasi klasik dan ungkapan yang monumental (kisah para nabi, kaum ulama dan kisah orang-orang bijak masa lalu) sebagai cara mendewasakan hidup bermasyarakat dan bernegara.  Sastra seharusnya tidak kehilangan ungkapan-ungkapan lokal (peribahasa, pepatah, dan tunjuk ajar) yang selalu menciptakan daya pikat dalam diri pembaca. Kemesraan pembaca memgenal dan memahami warna lokal itu memang sesuatu yang tetap diperlukan dalam sastra.**

*Penulis dosen dan sastrawan tinggal di Medan

Comments (0)
Add Comment