Malaikat bertasbih mendampingi para perindu,
merengkuh Ka’bah dalam pusaran kalbu
mendekati multazam tempat mengadu,
membilang zikir, berpinta pada Allah yang satu.
Aku menyatu dalam pusaran arus tanpa jeda,
ayat-ayat suci mengalun berirama
Aku larut dalam putaran sakralnya,
menyatu dengan ribuan insan dalam pinta yang sama
dalam doa bersahaja
dalam rintihan tangis menghiba
dalam rasa tanpa aksara
karena tak cukup sekadar kata untuk bisa mengungkapkannya.
Syair paling indah oleh para pujangga tak sanggup lahir karena pesonanya
Dia telah hadirkan rasa paling indah sarat makna
Dia sangat dekat dan menyatu dalam sukma.
Mendengar segala pinta dalam derai air mata
dalam rasa yang tak biasa, namun ingin selalu ada
Lambaian tangan dan kecup hangat di bibir para pendoa, menggema dalam getar “Bismillahi Allahu Akbar”
Jasadku terhimpit di pintu hajar aswad,
sungguh jiwaku tak kuat!
Batu hitam yang jadi rebutan menjauh dari jangkauan
mereka memburunya
mereka merengkuhnya
mereka menciumnya
penuh makna dalam segala pinta
atau sekadar ingin dan tidak tau untuk apa melakukannya.
Subhanallah walhamdulillah walaillahailallah.
Allahu akbar
Langkah terhenti kala desir angin membawa rasaku pada doa-doa yang dititipkan
Al Multazam dalam jangkauan walau hanya sebatas telapak tangan.
doa-doa terlafazkan dalam diam dan derai tertahan
di antara batu hitam dan pintu Ka’bah yang menawan,
kusematkan doa-doa dan harapan
dalam balutan sesal dan kepasrahan yang dalam
tangis pendosa berderai-derai di antara himpitan dan desakan para pendoa
menggema membuka pintu langit
menaiki takhta arsyi-Nya
terbayang wajah-wajah tercinta
menyatu dalam rangkaian pinta,
dalam titipan doa-doa sepenuh jiwa
Aku pada-Nya.
Menghimpun berjuta-juta pinta
berharap ridho dan ijabah dari-Nya.
Al Multazam, dalam jangkauan walau hanya sebatas telapak tangan
Menyatu dalam arus, mengitari berkali-kali dalam alunan ayat-ayat suci tanpa henti
hingga sampai di rukun Yamani
“Bismillahi Allahu Akbar”
Lambaian tangan kembali menyapa dalam irama yang sama.
dalam doa yang sama
Rindu masih mengental di tanah Ka’bah
ketika gelombang resah menggulung di samudera pinta yang terdedah
setangkup jemari yang basah tengadah tanpa sejadah
berharap ijabah Allah
Aku pasrah di bawah langit beraroma jannah
(Mekkah, 3 Agustus 2019)