Negeri Di Atas Angin: Puisi Wahyu Mualli Bone

Di garis seimbang Negeri ditopang
Dibelai sejuk dan panas lantang
Sepasang musim berpusat gelanggang
Jangan sampai redang meradang

Negeri Di Atas Angin
Menyusur lukit ke kulit
Membentang liku curam batang
Dangkal dalamnya menekuk lembah bukit

Meradang redang hisapan serabut
Ratu Malika Benua Hitam
Seragam hutan membingung fauna
Keluar masuk desa ke kota

Hamparan hampir miskin rumput
Secara serabut mengharap serap
Agar buah melilit tandan, upaya gembur mendera hutan hingga tunggang, rumput, jamur pun terbang ke angin merindukan inang

Kenangan jalan tikus ke hutan Mahang renggang jarak
Angin rindu kipasan sayap enggang
Kini berkawan hamparan tikus, kobra dan unggas si hantu malam

Negeri di atas angin berpagar seragam hijau
Tak Kempas
Tak Punak
Tak Pulai
Tak Tenggayun
Tak Tulang-tulang
Tak dan tak
Hingga Bakau, Perepat, Kedabu dan Nipah kompak berbisik
Jika jamuan asin payau kita selera di lidah serabut, kita ikut jejak Kempas dan rekan-rekannya, benar benar di atas angin

Dari semilir daun pesisir menyapa sayup
‘Kami rumpun asam paya tak layak jadi penghuni gambut ini meski serupa mahkota pelepah kami
Wahai Nipah
Kuatkan cengkraman pesisir
Jangan sampai menyerbu darat
Sebab jika tersumbat kanal,sungai dan parit, kau akan bermigrasi senasib kami’.

Nibung dan Rumbia ikut mengangguk dalam kelu lidah Perepat

Bukit Batu, 12 Juni 2023

Comments (0)
Add Comment