Pada Sebuah Jeda: Puisi Lalik Kongkar

Pada sebuah jeda, aku berhenti sejenak.
Merenungi semua yang yang tak kunjung baik.
Lalu, dengan segala harapan dan doa-doa, aku berusaha bangkit untuk semuanya yang lebih baik.
Hari-hari sunyi telah menjadi teman yang setia.

Tak ku rasakan lagi indahnya senja yang begitu banyak dikagumi manusia.
Tak kurasakan lagi bagaimana malam bermain bersama gemerlap bintang yang jauh di sana.
Tak ku rasakan lagi nikmatnya mentari pagi yang perlahan keluar dari singgasananya.
Semua berjalan tanpa arah yang jelas.

Bagai daun jatuh yang terbawa derasnya arus sungai.
Seperti tidak ada kisah yang menarik untuk dikenanng.
Bagaimana tidak, dia yang telah ku puja matia-matian, pergi begitu saja tanpa kejelasan.
Kala itu, dia hanya berupa bahwa aku dan dia ssepeti bumi dan langit.

Ada jarak yang terlalu jauh untuk disatukan dalam ikatan cinta.
Adat memisahkan dua insan yang saling cinta dan menganggap akan ada malapetaka jika itu diteruskan.
Cinta kadang menyeret semuanya termasuk status sosial.
Biarlah, aku tak akan menyalahkan nenek moyangku juga nenek moyangmu.

Karena manusia diciptakan berbeda-beda hanya saja kita tak mampu menyatukan perbedaan itu menuju hari-hari bahagia.
Perlahan semesta punya cara sendiri dalam mengobati luka setiap manusia.
Semesta pula yang menuntun langkahku padamu.
Dengan cara sederhana, kau menarikku secara perlahan kedalam lumpir asmara dan kembali percaya akan kata cinta.

Padahal, semua hanya bermula pada perjumpaan kita yang begitu sederhana, tak seperti kisah-kisah yang dilukiskan para pujangga atau adegan-adegan yang ada di layar kaca.
Tapi kenapa kau begitu memikat?.
Basa-basi perkenalan ,mewarnai perjumpaan pertama.
Kau yang melempar senyum sapa, sudah cukup membuatku diam tanpa kata.

Senja membawamu segera berlalu, aku yang masih diam membisu tak percaya dan berasumsi bahwa kau adalah jelmaan bidadari dari surga yang diturunkan ke bumi lalu membuatku kembali terjebak pada sebuah keinginan untuk saling mecintai.
Jika mencintaimu itu luka, maka biarlah perjumpaan ini hanya sebatas saling sapa yang tak perlu aku biarkan berlarut hingga membuatku kembali terdampar pada jurang asmara.

 

Comments (0)
Add Comment