Pekatnya Pergulatan Interaksi Simbolik dalam “Pesajian”: Catatan Bambang Kariyawan Ys.

Senja di jalan Dwi Marta
Malam mulai menggulita
Tebing tanpa cahaya
Air mengalir deras
Di riak batang Indragiri
Mengikis dinding tepian
Diam dan perlahan
(Di Ujung Jalan Marta)

Dalam ilmu sosiologi (termasuk humaniora), istilah realitas sosial sebagai teori diprakarsai oleh Peter L. Berger. Realitas sosial didefinisikan sebagai proses sosial melalui tindakan dan interaksi dimana individu atau sekelompok individu, menciptakan secara terus-menerus suatu realitas yang dimiliki dan dialami bersama secara subjektif. Puisi merupakan salah satu medium menuangkan realitas sosial yang bergulir dihadapan kita tanpa bisa dibendung. Puisi dengan tema realitas sosial terasa lebih hidup karena berangkat dari beragam masalah di sekitar kita. Seolah dekat dan menjadi bagian dari kehidupan kita.
Seorang penyair memiliki cara tersendiri dalam memotret realitas sosial yang terhampar melalui pilihan-pilihan diksi dan menumpahkah fakta yang ada menjadi puisi menggugah. Daya gugah itulah yang diharapkan kehadirannya dari buku yang sedang kita baca ini, Pesajian.
Membaca Pesajian, kita seperti disergap aroma kekuatan dari kata tersebut. Meski kata pesajian dalam buku puisi ini adalah nama sebuah desa di Indragiri Hulu, Provinsi Riau. Kekuatan itu terletak dari struktur dan batin puisi yang ditulis oleh penyair sekaligus legislator, Dodi Irawan.
Secara struktur, penyair menawarkan struktur puisi yang beda dari kebanyakan yang ditulis para penyair. Kombinasi unsur lokalitas dan pengalaman memvisualkan puisinya dari podium ke podium memunculkan endapan dan ekspresi struktur puisi yang khas.
Kita bisa melihat tampilan keseluruhan puisi seperti tampilan syair meski bukan syair. Terlihat pada dua baris pembuka:

Kong X kong
Aku Dodi Irawan
Wakil rakyat di DPRD Indragiri Hulu
Aku ingin mengadu

Tuan presiden!
Aku penyambung lidah rakyat
Yang tinggal di desa
Jauh dari hiruk-pikuk kota

Penyair dengan jujur merajut pola yang dimiliki orang Melayu dalam berkarya kata-kata (syair) serta disandingkan dengan rajutan kejujuran imajinasi tersendiri dalam menyuarakan kata-kata. Dari proses perpaduan itu lahirlah puisi-puisi beridentitas dengan label konsisten yang beranak judul “Resah Panjang untuk Tuan Presiden Jokowi Datuk Seri Setia Amanah Negara”.
Identitas dari anak judul tersebut menggiring pembaca memahami secara khusus, puisi-puisi yang disuarakan ditujukan kepada siapa.
Penyair menyadari betul akan kekuatan puisi sebagai medium menyuarakan perubahan. Identitas sebagai penyair dan legislator yang melekat, akan selalu dinanti pendengar ketika sosok tersebut berdiri di depan khalayak. Suara-suara wakil rakyat yang telah terbiasa terdengar akan memiliki daya gugah kala suara-suara wakil rakyat itu dikemas dan disampaikan dalam bait-bait puisi dan aksi panggung yang memukau. Berlembar-lembar naskah pidato anggota legislator akan lebih mudah diresapi bila ditampilkan dengan cara kepenyairan. Daya gugah dan gaya ubahnya akan langsung menyentuh dan diingat selalu. Identitas itu telah direbut Dodi Irawan di kalangan rakyat.
Bila kita hitung jumlah puisi dalam buku Pesajian ini berjumlah 100. Apakah sengaja atau tidak bagi penyair menampilkan jumlah tersebut, yang jelas buku puisi ini mengajak pembaca akan capaian tertinggi dari puisi berupa perubahan dari bait-bait yang dituliskan dalam realita di masyarakat.
Mencermati pengantar yang ditulis penyair telah menunjukkan itu. Suara-suara yang disampaikan dengan simbol-simbol puisi memberikan daya gugah bagi yang diajak untuk bersuara (interaksi). Beberapa pekerjaan rumah sebagai legislator telah diselesaikannya dengan menyuarakan simbol-simbol keinginan melakukan perubahan. Seperti penyair ketika membacakan berulang-ulang puisi “Putri Mayang Kelayang” menyebabkan jalan rusak sepanjang 2,3 km akhirnya telah diaspal. Harapan sederhana dari rakyat dengan adanya jalan yang mulus telah terwujud. Serta puisi-puisi lain yang sering disuarakan penyair telah mewujudkan mimpi-mimpi rakyat yang sebenarnya sederhana. Itulah tugas sebenar penyair dan legislator.
Puisi-puisi Pesajian mengajak pembaca memahami bahwa dengan berpuisi menjadi medium berinteraksi yang disusun dalam simbol-simbol. Penyebutan nama tempat dan orang merupakan bagian dari simbol itu. Repetisi simbol sering diulang-ulang sebagai identitas puisi menjadi bentuk penekanan akan resah yang nak diluahkan agar terjadi perubahan.

Berkumpul seluruh talang
Ya
memang kami anak talang
Talang perigi
Talang gedabu
Talang sungai maju
Talang sungai elok
Talang sungai parit
Talang Sungai limau
Talang durian cacar
Talang pringjaya
Talang tujuh 7 buah tangga
Talang selantai

Bahkan repetisi simbol berupa sindiran selalu diungkapkan dan ditujukan pada mereka yang menjadi sasaran puisi itu dituju.

Pasukan kura kura
Bukan kura kura ninja
Bukan pasukan dari negeri sakura
Bukan kura kura dalam perahu
Kura kura ketawa
Kura kura melihat
Kura kura berenang
Kura kura bertangan
Kura kura berkaki
Kura kura bernyanyi
Kura kura tahu
Ha ha ha ha

Terkhusus puisi Pesajian yang menjadi judul buku ini, penyair mengambil tema menarik dengan melakukan komparasi dua spasi waktu. Masa lalu dengan tradisi pesajian menjadi medium solusi akan harapan. Harapan dari memaruk masa kini yang telah kehilangan gemilang masa lalu.

Hari ini
Pesajianku menangis
Meratap luluh
Petai tak tumbuh
Sambal tak berasam
Peladangan sungai aur menjauh
Pematang selunak berbenteng
Ribuan hektar sawit tak berminyak
Jutaan ton kayu lapuk
Kertas tak menjadi
Rakyat tak menginyam
Jembatan runtuh berkali kali

Membaca puisi Pesajian dan puisi-puisi lainnya, kita diajak penyair mengembara masa lalu akan fase gemilangnya. Namun dengan permainan katanya mampu mendentumkan batin akan dua spasi waktu yang hilang. Dentuman-dentuman bahasa yang dihidangkan menarik dikaji lebih dalam melalui perspektif psikolinguistik.
Pada sisi yang lain bila ditinjau dari sosiologi sastra, penyair memiliki latar belakang kehidupan agamis yang kuat. Hal ini terlihat dari puisi-puisi yang bertema religi dalam buku ini.

Allah kuasa
Manusia tak kuasa
Kami hanya berusaha
Dengan titipan cinta
Bukan cinta biasa
Sebagaimana engkau mencintai Muhammad
Muhammad mencintai engkau
Begitu pula kami mencintai Indragiri

Kombinasi daya gugah yang luar biasa bila agamis, penyair, dan legislator menyatu dalam diri. Mimpi-mimpi akan perubahan melalui kejujuran dalam berkata-kata hanya tinggal berupa eksekusi dari waktu itu. Tahniah!

Hei
Datuk kuek kuaso
Racikan sesajian
Bakarkan kemenyan
Bacakan mantra sakti
Makrifat datuk tengganai
Alihkan angin
Hembuskan ke sungai
Puah
Jadilah
Puah
Bangunlah
Jembatan kami hilang
Pesajianku terbang
Di sesaji jembatan runtuh
Puah!

Salam

Comments (0)
Add Comment