Perjalanan Wisata Puisi Turki (bagian 3): Catatan Hening Wicara

Perjalanan Hari ke-3 (kota Bursa)

Setelah check out dari hotel Gonluferah yang unik, kunjungan pertama kami di ujung bulan Juni itu adalah: Munira Bursa Lokumcusu, nama lainnya Munira Turkish delight.

Di pintu masuk, kami disambut hangat oleh para karyawan toko yang mahir berbahasa Indonesia. Bahkan, kami mendapat diskon special 20% untuk setiap pembelian.

Di sini kami berbelanja oleh-oleh khas Turki. Selain manisannya yang tersohor, ada aneka sabun dan parfum. Tersedia juga rempah-rempah dan obat-obatan herbal yang terkenal ampuh sebagai obat penyembuh alternatif. Pernak-pernik Turki juga banyak dipajang di toko ini.

Selanjutnya, kunjungan kedua adalah: Bursa Ulu Camii.
Merupakan salah satu masjid besar, tua, dan ternama di Turki. Dibangun pada tahun 1399, dan sampai hari ini (600 tahun kemudian) kondisinya masih asli, belum pernah dan belum perlu direnovasi.

Lokasinya di pusat kota Bursa (kota terbesar ke-4 di Turki, setelah Istanbul, Ankara, dan Izmir). Para pengamat seni arsitektur masjid menyebut bahwa masjid Agung Bursa ini adalah masjid dengan gaya arsitektur murni bangsa Seljuk. Di dalamnya ada air mancur sebagai tempat berwudhu.

Kunjungan ketiga di hari itu adalah: Green Mosque Bursa atau dalam bahasa setempat disebut Yesil Camii (Masjid Hijau). Karena interior Masjid didominasi oleh warna hijau pastel, dan berada di kawasan Yesil (kawasan hijau). Design interior eropa kuno mendominasi masjid ini.

Dari Green Mosque, kami melanjutkan perjalanan ke desa Cumalikizik yang terletak di kaki gunung Uluda, Bursa.
Desa tersebut adalah salah satu desa peninggalan dinasti Ustmaniah, yang masih terjaga kelestariannya.

Di desa ini masyarakat berjualan aneka dagangan yang memanjakan mata dan dompet para wisatawan. Bahkan, di desa ini rombongan Wisata Puisi banyak yang berbelanja, sambil menikmati kopi khas Turki yang diseduh pakai pasir panas.

Namun, sebelum sampai ke desa tersebut kami dibuat terkejut oleh berita kehilangan ponsel salah seorang peserta Wisata Puisi, bernama: Suhaemi, asal DKI Jakarta (Biasa disapa: kak Emmy). Sepertinya ponsel tersebut tertinggal di salah-satu mesjid yang hari itu kami kunjungi. Untuk kembali lagi ke lokasi mesjid, perjalanan yang kami tempuh sudah cukup jauh. Lagi pula kak Emmy tidak ingat persis di mana tercecernya ponsel mahal itu.

Dan satu hal yang begitu melegakan, kami menyaksikan dan merasakan, betapa pemiliknya telah memilih merelakan sang gawai tersayang hilang di negeri orang.

Melihat keceriaan kak Emmy, kami seolah sedang dihadapkan dengan untaian kata maulana Rumi, sang pujangga Turki:
“Jangan berduka, apapun yang hilang darimu akan kembali lagi dalam wujud lain”.

Kunjungan hari itu ditutup dengan makan siang dalam sebuah restoran di Bursa.
Namun demikian, di dalam bis menuju hotel, kami tak hanya menikmati keindahan pemandangan alam Turki, tapi juga menikmati keindahan puisi-puisi yang mengalun di dalam bis, berjudul: Selamatkan Turki, karya Tuti Tarwiyah Adi, yang dibacakan oleh Sam Mukhtar Chaniago dari Jakarta. Dan puisi karya Ule Ceny dibawakan langsung oleh penulisnya yang berasal dari Nusa Tenggara Barat, berjudul Pada Lembaran Doa dari Tanah Bulaeng:

Selembar doa kulangitkan dari tanah Bulaeng,
untukmu negeri empat musim

Ada gelora rindu terpahat di lubuk jiwa
Ingin memetik bintang di langit negeri ini
Negeri tempat pertama kali bunga tulip menguncup
Menaburkan keindahan di taman-taman hati pemiliknya

Kini pergantian musim pun tiba
Pemilihan pemimpin di bulan Mei ini, sedikit kumeragu
Dalam doa tak berujungku
Damai dan lancarlah menuju singgasana di negeri nan indah ini
Pancarkan selalu cahaya-cahaya kebenaran
Harapanku: Sambutlah hadirku nanti, dalam bahagia di langit Istanbul

Akan kususuri jalan-jalan kotamu
Yang menceritakan peradaban purba
Yang mengharumkan seluruh persada
Yang membuatku merengkuh impian ini bersama Perruas terhebat kami

Di lembar terakhir doaku
kutuliskan pengharapanku akan kemakmuran negeri ini
Akan kedamaian negeri ini
Turki jendela peradaban
Dan sebuah novel Su Ve Ates membuatku jatuh cinta

Aku akan kembali bersama cinta dan keluargaku nanti

Sumbawa, 27 Mei 2023

Sekitar pukul 20.00 waktu setempat kami sampai di Hotel Hitit, di kota Seljuk. Untuk makan malam dan istirahat yang cukup, guna menghadapi kunjungan di hari berikut, yang tentunya semakin membuat kami takjub pada Sang Maha Hidup.

(bersambung)

Comments (0)
Add Comment