Perjalanan Wisata Puisi Turki (bagian 4): Catatan Hening Wicara

Perjalanan Hari ke-4 (Selcuk dan Pamukkale)

Tepat pukul 8.00 pagi kami memasuki bis yang parkir di halaman hotel Hitit, menuju Galery Jaket Kulit (Leather Factory).
Sampai di sana, rombongan Wisata Puisi disambut ramah oleh para petugas gallery yang wajah dan gayanya mirip-mirip artis Hollywood. Kemudian kami diajak masuk ke ruangan Fashion Show, menyaksikan para model cantik dan tampan melenggak-lenggok di atas catwalk.

Di ujung atraksi, mereka memilih beberapa dari kami untuk masuk ke ruangan khusus. Di dalam ruangan itu, kami diberi sebuah jaket untuk dipamerkan di atas catwalk.
Ya! kami diminta jadi model Fashion Show dadakan.

Beberapa dari kami bereaksi malu-malu, mungkin karena tidak pandai bergaya atau mungkin juga memang pemalu dari sononya. Namun, ada pula yang lenggak-lenggoknya tak kalah dengan model asli Turki yang kami tonton tadi. Bahkan, ada yang berjalan di catwalk dengan gaya jaipongan.
Sungguh, mengundang tawa dan sangat berkesan.

Setelah itu, kami digiring masuk ke ruang galerynya yang mewah. Harga jaket kulit di gallery tersebut tak bisa dibilang murah. Namun banyak juga peserta yang berbelanja jaket di sana.

Dari Leather Factory kami menuju kota kuno Ephesus, yang merupakan kota terbesar di dunia pada tahun 1000 masehi, juga sebagai pusat perdagangan dan pelabuhan.

Saat menjelajahi puing-puing reruntuhan di Ephesus ini, kami seolah melangkah ke masa lalu yang penuh kejayaan. Dan kami menjadi saksi betapa reruntuhan Perpustakaan Celsus, Teater Agung, dan Kuil Artemis dari jaman Romawi dan Yunani kuno itu terpelihara dengan baik.

Di Ephesus ini, dilakukan pembuatan video 3 puisi, yaitu: Ku Telusuri Wajah Turki karya Ponnoer dari Jawa Barat, Jejak Efesus karya Vironika Sri Wahyuningsih dari Jakarta, dan
Menetes Air Mataku di Selat Bosphorus karya Husnu Abadi dari Pekanbaru, Riau.

Di dalam perjalanan dari Ephesus menuju restoran untuk makan siang, penulis mendapat giliran membaca puisi di dalam bus, berjudul Perempuan Pengembara, karya: Hening Wicara

Perempuan pengembara,
Kulitnya abu-abu
Diterpa terik dan debu
Di tangannya sekuntum bunga ditiup angin
Kelopaknya jatuh ke labirin
Bertaruh meraih ingin

Tak peduli takdir berkata lain

Perempuan pengembara,
Berjalan sendirian
Dalam deras hujan
Dilewatinya satu demi satu persimpangan
Yang membelah-belah harapan
Sekedar memastikan
Apakah di titik-titik kenangan masih ada debaran?

Perempuan pengembara,
Membiarkan angin menerpa wajahnya
Melatih bibirnya melengkung ke atas
Membentuk senyum seulas

Kini, di dadanya hanya ada dua musim
Kemarau yang mungkin masih panjang
Dan semi yang pasti selamanya

Batam, Mei 2023

Usai makan siang, kami melanjutkan kunjungan ke Hierapolis di Pamukkale. Yaitu bangunan teater terbesar yang dibiarkan apa adanya, tanpa sentuhan renovasi. Konon, dulu bangunan teater ini bisa menampung 15,000 pengunjung.
Di lokasi bersejarah ini, dilakukan pembuatan video puisi karya Ida Herida, berjudul: Turki, Negeri yang Indah.

Menuju lokasi ini, kami naik kendaraan khusus diperuntukan bagi yang enggan jalan kali, karena jaraknya memang cukup jauh. Dari gerbang lokasi ke panggung teater ini lebih kurang 4 kilometer. Menyaksikan Hieropolis, akan terlintas di pikiran, betapa majunya peradaban dan seni di Turki jaman dahulu kala.

Dari Hierapolis, kami kembali naik bus ke Cotton Castle (Istana Kapas), yang dalam bahasa Turki disebut: Pamukkale. Merupakan bentangan alam yang luar biasa indahnya. Hamparan batu seputih kapas berpadu dengan gunung-gunung dan bukit-bukit di sekitarnya.
Air hangat kaya mineral mengalir dari puncak pegunungan mengairi setiap jengkal lereng-lereng yang menghampar luas, sehingga menciptakan kontur yang sangat eksotis.

Saat menginjakan kaki di hamparan bebatuan yang berwarna putih bersih itu kita seolah menginjak salju, saking lembutnya. Bahkan dari kejauhan, situs alam ini terlihat seperti istana es. Namun nyatanya air dan keseluruhannya begitu hangat.

Di Pamukkale, dilakukan pembuatan 2 video puisi, yaitu: karya Endang Widoretno, berjudul: Di Selat dan karya Ratna Asiawati, yang berjudul: Pesona Turki

Kesan yang terasa saat berada di Pamukkale ini adalah: kami seolah terbenam dalam sejarah sambil berendam air hangat di hamparan alam yang indah.

Sebelum matahari tenggelam, kami sudah beranjak meninggalkan Istana Kapas menuju hotel Tripolis, tempat kami makan malam dan bermalam, semalam.

(bersambung)

Comments (0)
Add Comment