Masih Perjalanan di Hari ke-8 (Blue Mosque dan Hagya Sofya)
Setelah makan siang selera nusantara, kami melakukan City Tour di kota Istanbul. Tujuan pertama kami adalah: The Blue Mosque.
Sebuah mesjid besar dan terkenal di Turki yang interiornya serba biru. Blue Mosque begitu indah. Gaya arsitekturnya campuran Arab dan Eropa.
Selanjutnya, kami berjalan kaki ke bangunan indah sangat popular di Turki, yaitu: Hagia Sophia. Merupakan bangunan kuno yang dahulunya adalah gereja Katedral Ortodoks. Namun pada tahun 1453 Hagia Sophia dialihkan fungsinya menjadi mesjid (di masa Kesultanan Utsmaniyah).
Kemudian bangunan ini dibuka sebagai museum pada tahun 1935.
Dan sekitar pertengahan tahun 2020, Hagia Sophia dikembalikan lagi fungsinya sebagai masjid, setelah memenangkan Pengadilan Turki yang memutuskan bahwa pengubahan fungsi Hagia Sophia dari Museum menjadi Mesjid adalah hak kedaulatan negara Turki.
Hagia Sophia adalah maha karya arsitektur Turki dan kesaksian tentang interaksi keberagaman antara Eropa dan Asia selama berabad-abad di sana.
Terlihat jelas di bagian atas kubah Hagia Sophia masih menyisakan lukisan bunda Maria berada di antara tulisan kaligrafi Allah dan Muhammad.
Sungguh, tingkat toleransi beragama yang tinggi dan penuh harmoni.
Di lokasi ini, dilakukan pembuatan 2 video puisi, yaitu: Istanbul Kekasihku karya Danny Susanto, dan Istanbul yang Kurindu karya Galang Asmara.
Cukup lama kami berada di area Hagia Sofia yang luas, bersih, dan menawan. Kuntum-kuntum bunga Marigold berwarna kuning dan orange memenuhi area di sekitar air mancur yang indah.
Sesekali air mancur itu berhenti dalam hitungan tak lebih dari 5 menit, kemudian nyala lagi dengan sensasi seperti menebar rinai. Sungguh berkesan.
Apalagi saat itu kami menikmati pesona air mancur tersebut sambil duduk santai di bangku taman Hagia Sofia, mengecap jajanan kecil bernama: Simit, yang dijual oleh pedagang gerobakan.
Jajanan Simit ini bentuknya melingkar seperti cincin seukuran telapak tangan. Seluruh permukaannya ditaburi wijen putih, membuatnya harum menggoda selera. Kami makan sekeping Simit ditemani segelas jus delima yg dingin dan segar, sambil menunggu jadwal berkumpul di salah satu spot yang sudah ditentukan panitia, utk berangkat ke kunjungan berikutnya.
Dari Hagia Sophia, kami lanjut berjalan kaki cukup jauh ke Grand Bazaar. Di sana tujuan utama memang untuk belanja oleh-oleh. Namun, sebagian besar peserta Wisata Puisi sudah menabung oleh-oleh sejak hari pertama perjalanan, saat singgah di tempat-tempat wisata dan tempat-tempat bersejarah di Turki.
Di Grand Bazar ini ada beberapa peserta yang membeli koper. Ya! Sebagian koper-koper kami beranak di Turki, hihihiii.
Berbicara tentang koper, beberapa dari kami kerap mengalami salah koper saat ganti hotel. Padahal koper-koper kami bukan koper seragam seperti jamaah umrah atau travel wisata pada umumnya. Dan di setiap koper juga sudah digantungkan badge yang bertuliskan nama disertai foto masing-masing peserta. Namun tetap saja salah ambil koper mewarnai suasana tiap kali kami pindah hotel.
Kondisi ini lumayan bikin panik satu rombongan, namun terasa lucu saat kembali dikenang.
Di toko oleh-oleh yang berada di kawasan Grand Bazar, reaksi para peserta Wisata Puisi hampir sama, yaitu: lihat-lihat, pilah-pilih, dan tawar-menawar.
Apalagi rombongan kami sebagian besar adalah ibu-ibu. Pastinya belanja tanpa menawar serasa kurang afdhol.
Dan penulis yang sekamar dengan seorang guru kreatif yang juga penyair mojang priyangan asal Sukabumi (Popon Nuraini), biasa disapa Teh Ponnour, kerap belanja oleh-oleh bersama dan saling minta pendapat terkait benda-benda yang didapat.
Hingga sebuah puisi pun meluncur dengan judul: Wajahnya di Toko Oleh-oleh
Di setiap toko oleh-oleh
Matanya begitu awas
Memilih benda yang paling pantas
Untuk diberikan kepada sang pujaan
Selalu ia bertanya ke padaku
“Yang ini bagus gak?”
“Bagusan ini atau itu?”
“Mending yang hitam atau biru?”
“Yang hitam saja”, jawabku.
Sejenak matanya melirik benda-benda itu bergantian
Kepalanya pun ikut tertarik ke kiri dan ke kanan
Lalu ia berkata dengan ringan:
“Enggak ah, kayaknya dia lebih suka biru”
Sejak itu,
Tiap kali ia bertanya bagusan mana
Kubalas dengan senyum saja
Sebab, percuma kuberi jawaban
Toh pada akhirnya ia juga yang tentukan
Dan aku melihat,
Di antara benda-benda yang ia tatap
Ada rindu yang tak sanggup lagi ia titip
Ada kisah yang ingin segera ia tutup
Turki, Juli 2023
(bersambung)